Diplomasi Air Universitas Brawijaya: Suarakan Keadilan Gender di Panggung UNESCO 2026

IDEA JATIM, MALANG – ​Isu krisis air global kini tak lagi sekadar masalah teknis hidrologi, melainkan persoalan hak asasi manusia dan ketimpangan gender yang mendalam. Hal ini mengemuka dalam peluncuran laporan PBB mengenai kondisi sumber daya air dunia tahun 2026 bertajuk “Air untuk Semua”. Menariknya, Universitas Brawijaya (UB) berdiri sebagai aktor intelektual di balik hadirnya laporan tersebut dalam Bahasa Indonesia. Peluncuran buku hasil terjemahan UB ini digelar secara internasional di Paris pada Kamis (19/3/2026), bertepatan dengan Hari Air Sedunia.

​Rektor UB, Prof. Widodo, menegaskan bahwa peran UB dalam menerjemahkan ringkasan eksekutif ini adalah bentuk pengabdian nyata bagi kemanusiaan. “Kepercayaan kepada UB yang diberikan oleh UNESCO merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar,” ujar Prof. Widodo. Ia menambahkan bahwa keterlibatan ini merupakan bentuk pengakuan global terhadap kapasitas akademik Indonesia dalam berkontribusi pada agenda krisis air berkelanjutan.

​Laporan ini menyoroti fakta pahit: perempuan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak oleh krisis air, namun paling sedikit memiliki hak suara dalam pengelolaannya. Direktur Regional UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, memberikan apresiasinya terhadap langkah UB. “Tersedianya Ringkasan Eksekutif dalam Bahasa Indonesia membantu memastikan bahwa pengetahuan ini dapat mendasari keputusan dan tindakan yang lebih inklusif di Indonesia,” kata Maki. Ia menegaskan bahwa kontribusi UB adalah contoh nyata bagaimana kemitraan akademik dapat meningkatkan kesadaran akan tantangan air di tingkat nasional.

Baca Juga:  Profesor UB Kenalkan Teknologi AI Prediksi Lokasi Ikan, Bantu Nelayan Hadapi Dampak Perubahan Iklim

​Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan, menekankan pentingnya peran perguruan tinggi masuk ke lembaga strategis dunia. “Kalau kita berbicara tentang globalisasi peran perguruan tinggi, maka tidak cukup hanya bekerja sama dengan kampus luar negeri. Kita harus masuk ke lembaga strategis dunia seperti UNESCO,” jelas Prof. Andi. Beliau juga memperingatkan bahwa krisis air bukan lagi isu lokal. “Fakta-fakta ilmiah menunjukkan bahwa krisis air terus berkembang dan menjadi tantangan besar masyarakat dunia. Ini bukan lagi isu lokal, tetapi sudah menjadi isu strategis global,” tegasnya.

​Melalui buku ini, UB membantu menyuarakan bahwa kesetaraan gender adalah kunci pengentasan kemiskinan dan pencapaian SDGs. Sebagai langkah lanjutan yang lebih berani, UB kini tengah bersiap mengajukan diri sebagai UNESCO Chair di bidang pengelolaan sumber daya air pesisir. “Diharapkan formula pengelolaan air di UB bisa dirumuskan secara sistematis untuk menyelesaikan permasalahan di kawasan Asia Pasifik maupun dunia,” tutup Prof. Andi. Langkah ini mengukuhkan posisi UB bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tapi sebagai pusat solusi krisis air dunia. (*)

Baca Juga:  K3L UB Bagikan Tips Mudik Aman Lebaran

Berita Terkini

Mini Art Malang #7 Hadirkan 220 Seniman, “AKAR” Jadi Ruang Menelusuri Identitas dan Asal-usul Budaya

IDEA JATIM, MALANG – Sebanyak 220 seniman dari berbagai...

Bakar Semangat Kader Muda, H. Sugeng: Ber-NU Itu Jalur Resmi Ikut Berjuang Bersama Ulama

Ideajatim.id, MALANG – Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan...

HM. Yahya Sugeng Winarto, Hari Ini Bekali Kader Muda IPNU Sukun Materi Ke-NU-an di Ajang Makesta

Ideajatim.id, ​MALANG – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Kota...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img