IDEA JATIM, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) menggelar rangkaian Tes Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) bagi calon mahasiswa baru (camaba) non-kesehatan di Gedung Samantha Krida selama lima hari, mulai Senin (3/8/2026) hingga Jumat (7/8/2026). Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan Tes Kesehatan Mental dan pengambilan jas almamater sebagai langkah preventif kampus dalam menciptakan lingkungan belajar yang bersih dari narkoba.
Pelaksanaan tes yang diampu oleh Klinik Universitas Brawijaya ini menandai kembalinya regulasi pemeriksaan serentak di area kampus. Direktur Klinik UB, drg. Miftachul Cahyati, Sp.PM., menjelaskan bahwa kebijakan ini sempat diubah ke fasilitas kesehatan daerah masing-masing saat pandemi COVID-19.
”Sekarang karena kondisi sudah normal, kita kembalikan pelaksanaannya terpusat di Universitas Brawijaya. Tes ini diperuntukkan bagi mahasiswa non-kesehatan, sementara camaba dari rumpun kesehatan (FK, FKG, FKH, dan FIKES) menjalani pemeriksaan terpisah di Rumah Sakit UB,” ujar Miftachul.
Setiap peserta dikenakan biaya seragam sebesar Rp150.000 karena tidak tercakup dalam komponen Uang Kuliah Tunggal (UKT). Skrining dilakukan melalui sampel urine untuk mendeteksi tiga indikator zat terlarang, yakni Amphetamine (AMP), Methamphetamine, dan Benzodiazepine.
Prosedur tes dirancang secara terintegrasi dengan sistem validasi barcode KTM sementara. Camaba diwajibkan menyelesaikan Tes Kesehatan Mental di Auditorium Parandhita terlebih dahulu sebelum menuju Gedung Samantha Krida. Setelah menyerahkan sampel urine, sistem baru mengizinkan mahasiswa untuk mengambil jas almamater.
Miftachul menegaskan, langkah ini merupakan bentuk mitigasi dini guna memetakan potensi masalah kesehatan fisik maupun mental mahasiswa selama masa studi.
Rangkaian kegiatan ini disambut positif oleh para mahasiswa baru, meski terdapat beberapa catatan lapangan. Dianita, salah satu camaba, mengaku alur pelayanan yang dibuat pengelola sudah jelas dan mudah diikuti. Namun, ia menyarankan adanya penambahan fasilitas penunjang untuk menyikapi antrean panjang.
”Penjelasan alurnya sudah sangat baik dan mudah dipahami. Tapi kapasitas toilet perempuan untuk pengambilan sampel urine masih terbatas, jadi antreannya cukup mengular,” ungkap Dianita. (*)




