IDEA JATIM, MALANG — Mengusung semangat baru yang penuh energi, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (FT UM) sukses menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Aula Gedung Pascasarjana A21 UM, Rabu (12/8). Berbalut tema megah “Sorak Arambha Vidyarthi Vijaya, Gelora Askara Muda”, ajang ini tidak sekadar menjadi pintu gerbang adaptasi akademik, tetapi juga momentum krusial dalam menegaskan komitmen kampus menciptakan ruang belajar yang aman, inklusif, dan sepenuhnya bebas dari kekerasan.
Langkah preventif terhadap potensi perundungan dan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi menjadi salah satu sorotan utama dalam pembekalan tahun ini. Hadir sebagai narasumber, Dr. Cahyo Aji Hapsoro, M.Si., secara tegas mengingatkan bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun—mulai dari fisik, psikis, perundungan, diskriminasi, intoleransi, hingga kekerasan seksual—tidak memiliki tempat di dunia pendidikan modern.
“Tradisi yang mengarah pada intimidasi, kekerasan fisik maupun psikis tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. PKKMB perlu dilaksanakan dengan pendekatan yang lebih humanis,” tegas Dr. Cahyo di hadapan para mahasiswa baru.
Pendekatan humanis ini disengaja untuk membangun pondasi etika dan nilai kedisiplinan tanpa rasa takut. Sejak hari pertama menginjakkan kaki di FT UM, mahasiswa baru dibimbing untuk memahami etika kehidupan akademik serta pentingnya saling menghargai antarsesama.
Atmosfer kebersamaan dan keakraban juga dirancang sedemikian rupa oleh panitia agar mahasiswa dari pelbagai program studi dapat saling melebur. Panitia PKKMB FT UM, Jihan Tsaabitah Hasaanah, menjelaskan bahwa tema besar yang diusung merepresentasikan simbol kobaran semangat mahasiswa baru dalam memulai perjalanan panjang mereka di bangku kuliah.
“Kami mengharapkan mahasiswa baru dapat mengenal budaya Fakultas Teknik, departemen yang ada, serta kekerabatan di dalamnya. Jadi, mereka bisa mengetahui seperti apa lingkungan dan budaya yang ada di Fakultas Teknik,” ungkap Jihan.
Jihan menambahkan, pengenalan budaya kampus yang hangat sejak dini diharapkan mampu memupuk rasa memiliki (sense of belonging) dan solidaritas yang kuat. Dengan begitu, mahasiswa baru tidak hanya siap mengarungi dinamika perkuliahan yang kompetitif, tetapi juga matang dalam berinteraksi secara positif serta menghargai keberagaman latar belakang sesama rekan sejawat.
Langkah proaktif FT UM dalam mengikis tradisi intimidasi ini sekaligus menegaskan posisi kampus sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi martabat manusia. Lingkungan belajar yang terbebas dari rasa takut terbukti menjadi kunci utama bagi mahasiswa untuk bereksplorasi, berkembang, dan mengukir prestasi secara optimal.
Inisiatif ini turut menyelaraskan langkah FT UM dengan agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya pada pencapaian SDG 4 mengenai Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan lingkungan belajar yang inklusif, serta SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh lewat penguatan budaya antikekerasan dan tata kelola akademik yang berkeadilan. (*)



