IDEA JATIM, MALANG – Tubuh manusia tidak hanya hadir sebagai bentuk biologis fisik, melainkan ruang dinamis yang menyimpan luka, trauma, hingga pertarungan relasi kuasa. Pesan mendalam inilah yang diusung oleh Happy Wahyu Firdaus, seniman visual sekaligus tenaga kependidikan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), dalam pameran tunggalnya bertajuk “Corpus Fractum”. Menjadi bagian dari ajang Mini Art Malang #7: AKAR, pameran ini digelar di Ruang Fotografi Lantai 5, Malang Creative Center (MCC) hingga Kamis (30/7/2026), setelah resmi dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Judi Wahyudin, S.S., M.Hum.
Melalui tajuk Corpus Fractum yang secara harfiah berarti “tubuh yang terpecah”, Happy menjadikan figur biologis sebagai pintu masuk untuk membaca berbagai dinamika sosial. “Judul Corpus Fractum digunakan untuk menggambarkan kondisi manusia yang terus berhadapan dengan berbagai tekanan sosial, budaya, maupun politik. Dalam pameran ini, tubuh tidak hanya tampil sebagai sesuatu yang dapat dilihat secara fisik, tetapi menjadi medium untuk memahami bagaimana pengalaman manusia dibentuk oleh lingkungan, norma sosial, dan struktur kekuasaan,” jelas Happy.
Visualisasi karya-karya dalam pameran ini didominasi oleh bentuk-bentuk menyerupai jaringan daging dan tekstur biologis yang terdistorsi. Kombinasi warna merah, putih, hitam, dan abu-abu dipadukan untuk memicu pengalaman emosional pengunjung—merah mewakili darah dan trauma, sementara hitam dan abu-abu mempertegas atmosfer ketidakpastian.
Menurut Happy, luka yang ia tampilkan tidak boleh disempitkan hanya pada batas-batas fisik semata. “Luka yang ditampilkan dalam karya-karya Corpus Fractum tidak selalu dimaknai sebagai luka fisik. Ia juga menjadi simbol tekanan mental, ketidakadilan, dominasi, keterasingan, dan pengalaman traumatis yang dapat melekat dalam kehidupan seseorang,” imbuhnya.
Selaras dengan tema AKAR yang diusung oleh Mini Art Malang #7, pameran ini mengajak publik melihat kembali akar dari berbagai bentuk kekerasan struktural yang kerap dianggap normal dalam keseharian. Pameran ini sengaja tidak menyajikan jawaban tunggal, melainkan membuka ruang dialog yang kritis dan personal bagi setiap penikmat seni. Keterlibatan Happy sebagai sivitas akademika FIB UB di ruang publik seperti MCC sekaligus menegaskan peran aktif kampus dalam menyuarakkan kritik sosial serta memperkuat ekosistem seni rupa di Kota Malang.
Masyarakat umum dapat mengunjungi pameran Corpus Fractum setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB di MCC. Menutup keterangannya, Happy berharap pameran ini mampu mendorong pengunjung untuk melakukan refleksi mendalam atas apa yang dialami oleh tubuhnya masing-masing. “Melalui pameran ini, pengunjung diajak berhadapan dengan pertanyaan mengenai tubuhnya sendiri: pengalaman apa yang tersimpan di dalamnya dan tekanan apa yang pernah diterima. Corpus Fractum pada akhirnya hadir sebagai ruang perjumpaan antara seni, ingatan, dan kesadaran kritis—sebuah ruang untuk membaca kembali tubuh sebagai saksi kehidupan sekaligus medan tempat berbagai relasi kuasa bekerja,” pungkasnya. (*)



