IDEA JATIM, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) bergerak cepat mendata dan memverifikasi mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana gempa bumi. Proses pendataan yang berlangsung di Selasar Gedung Rektorat UB pada Jumat (21/8/2026) ini bertujuan memetakan dampak bencana serta menentukan skema bantuan yang tepat bagi para mahasiswa.
Data Direktorat Teknologi Informasi UB mencatat terdapat sekitar 200 mahasiswa asal NTT. Dari proses verifikasi awal, sebanyak 33 mahasiswa telah terdata, meliputi 31 mahasiswa yang mengikuti verifikasi secara langsung dan 2 orang secara daring. Pendataan mendalam dilakukan pada tiga aspek utama, yaitu kondisi finansial, psikologis, hingga tempat tinggal pascabencana.
Wakil Rektor III UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., menjelaskan bahwa hasil verifikasi menjadi dasar penetapan bantuan, baik berupa biaya hidup maupun bentuk dukungan lain. Kebijakan ini juga mempertimbangkan kondisi bencana yang terjadi setelah masa pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Selain alokasi internal kampus, UB berencana menjembatani mahasiswa terdampak dengan pihak luar seperti program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan dan alumni. “Kalau misalnya kita mempertemukan mereka dengan perusahaan pemberi CSR, mereka langsung ketemu, kemudian langsung memberikan bantuan,” ujar Setiawan. Terkait kendala akademik mahasiswa di daerah bencana, ia menegaskan bahwa penyesuaian teknis diserahkan ke masing-masing fakultas. “Kalau itu teknis-teknis begitu, masalah kuliah yang menangani fakultas,” tambahnya.
Kebutuhan bantuan mendesak ini dirasakan langsung oleh Fakhirah Na’ilah Ilham, mahasiswa Fakultas Kedokteran UB asal NTT. Rumah keluarganya rusak berat akibat gempa hingga memaksa mereka tinggal di tenda pengungsian. “Saya harap ke depan mungkin ada keringanan UKT. Kebetulan UKT saya Rp12 juta. Mungkin bisa ada keringanan di bawah Rp7 juta,” ungkapnya.
Proses verifikasi ini turut melibatkan Eksekutif Mahasiswa (EM) UB untuk mengawal kondisi riil di lapangan. Dirjen Kesejahteraan Mahasiswa EM UB 2026, Dimas Satya Saputra, menegaskan tiga cakupan utama pendataan tersebut. “Yang diverifikasi ada tiga aspek, mulai dari finansial, psikologis, hingga tempat tinggal pascabencana,” kata Dimas.
Sementara itu, Wakil Presiden EM UB 2026, Kafitan Aidil, menekankan pentingnya sinergi ini agar tidak ada mahasiswa terdampak yang terlewat. “Pendataan ini penting untuk memastikan kondisi teman-teman mahasiswa yang terdampak, baik dari sisi keluarga, tempat tinggal, maupun kebutuhan mereka setelah bencana. Kami ingin memastikan mahasiswa yang terdampak tidak terlewat dalam proses pendataan,” tutur Kafitan. Ia menambahkan bahwa EM UB akan terus berkoordinasi dengan universitas agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan nyata mahasiswa. (*)




