IDEA JATIM, MALANG — Kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di SD Anak Saleh Kota Malang berlangsung beda dan penuh makna. Tidak sekadar menggelar permainan tradisional biasa, sekolah ini mengemas perlombaan dengan Homebase System, yang menggabungkan seluruh jenjang kelas dari SD hingga SMP.
Waka Humas dan Kesiswaan SD Anak Saleh Malang, Herlina Tri Pambudiati, S.Pd., S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa inti dari perlombaan ini dirancang dalam bentuk estafet naskah proklamasi. “Lomba-lombanya berbasis homebase. Jadi dibuat sistem estafet dari level kelas 1 sampai kelas 7. Setiap homebase membawa satu naskah proklamasi yang diestafetkan dari arena depan sekolah hingga ke gazebo belakang,” terang Ustadzah Ellin, sapaan akrabnya.
Lomba estafet tersebut disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa di tiap jenjang. Pembagian jenis lombanya mencakup estafet karet untuk kelas 1, estafet hula hoop untuk kelas 2, estafet gantungan baju untuk kelas 3, serta estafet memakai kaos untuk kelas 4.
Selanjutnya, siswa kelas 5 dan 6 berkompetisi memasukkan pensil ke dalam kolam dan botol, hingga akhirnya student captain dari kelas 7 SMP Anak Saleh bertugas membacakan naskah proklamasi di garis akhir.
Pemenang homebase ditentukan dari kecepatan tim mencapai garis akhir serta penghayatan saat membacakan teks proklamasi. Ustadzah Ellin menambahkan bahwa perlombaan ini bukan sekadar mengejar kemenangan, melainkan media pembelajaran sejarah dan penanaman jiwa nasionalisme sejak dini. “Di awal sebelum mereka lomba, anak-anak kita sampaikan dulu bahwa untuk bisa membacakan proklamasi, negara kita merdeka butuh perjuangan yang didapatkan dari kerja sama dari kelas 1 sampai 7. Harus kerja sama, enggak bisa saling egois. Di situ ada ruhnya,” ujar Herlina.
Tak hanya itu, kemeriahan perlombaan juga menyentuh seluruh lapisan siswa. Selain estafet homebase, sekolah mengadakan lomba per level seperti balap sarung, lempar balon air, hingga lomba makan kerupuk. Anak-anak berkebutuhan khusus pun mendapat ruang untuk mengekspresikan kegembiraan melalui perlombaan tersendiri yang didampingi oleh Guru Pendamping Khusus (GPK). “Di anak-anak yang inklusi, mereka mengadakan kegiatan sendiri di gazebo dan di-handle sama teman-teman GPK,” tambah Ustadzah Ellin.
Koordinator Bilingual dan Digital Program SD-SMP Anak Saleh Malang, M. Ichsan Wibowo, S.Hum, menegaskan bahwa estafet ini dirancang untuk menumbuhkan rasa kepedulian dan kerja sama tim pada anak-anak. “Dengan estafet itu harapannya mereka punya kepedulian tim. Bahwa untuk keberhasilan sebuah negara Indonesia itu ya dari masyarakat generasi satu ke generasi berikutnya untuk mempertahankan negara ini,” jelas Ichsan.
Ia juga menambahkan bahwa Homebase System yang telah diterapkan sejak 2019 ini berfungsi sebagai wadah pembentukan karakter siswa secara berkelanjutan selama enam tahun masa sekolah. “Homebase ini menjadi pabriknya karakter anak-anak. Bukan hanya pada di perlombaan, tapi di kelas juga. Ketika anak-anak terlambat, berprestasi, bahkan inisiasi membuang sampah, mereka bisa menyumbangkan nilai homebase. Sekarang juga sudah kita kembangkan menjadi sistem digital sehingga orang tua bisa melihat dan ikut terlibat,” tutup Ichsan.
Melalui perpaduan antara perlombaan edukatif, inklusivitas, dan penguatan karakter berbasis digital ini, SD Anak Saleh Malang sukses menghadirkan nuansa kemerdekaan yang bernilai edukasi tinggi dan berkesan bagi seluruh warga sekolah. (*)




