Kartini Cilik dan Jajan Tempo Dulu Di SD Islam Sabilillah Malang 1

IDEA JATIM, MALANG – Tertegun melihat wajah-wajah cilik yang penuh percaya diri itu. Mereka bukan sedang bermain. Mereka sedang merayakan keberanian. Di SD Islam Sabilillah Malang 1, Hari Kartini tidak lagi sekadar urusan sanggul dan kebaya, Sabtu (25/4). Tahun ini, temanya tajam sekali: Kartini Cilik Berani Bermimpi dan Berkarya.

Kartini Cilik
CERDAS : Salah satu peserta saat tampil dalam lomba Tutur Kartini

​Iftitah Rahman, S.Pd, Sang Ketua Panitia, punya visi yang terang. Dia ingin anak-anaknya tidak hanya tahu sejarah. Dia ingin mereka menjadi pemimpin peradaban. “Siswa tidak boleh takut bermimpi besar. Itu modal jadi pemimpin peradaban dunia,” ujar Titah, sapaan akrabnya. Kalimatnya mantap. Khas pendidik yang tahu arah.

​Acara Sabtu kemarin dimulai dengan apel. Serius tapi ceria. Lalu pecah. Ada lomba fashion show untuk kelas kecil. Ada paduan suara lagu daerah. Hingga lomba bertutur tentang Kartini untuk kelas besar. Semua dirancang dengan satu napas: membangun karakter.

Kartini Cilik
PERCAYA DIRI: Peserta tampil percaya diri saat fashion show

​Tapi ada yang beda tahun ini. Ada kejutan. Namanya Market Day Jajanan Tempo Dulu. Inilah bedanya dengan tahun lalu yang hanya fokus pada seni. Di sini, anak-anak diajak berjualan. Ada yang menawarkan cenil. Ada yang menjajakan lupis. Mereka belajar berwirausaha sejak dini.

​”Kartini itu sosok yang berpikir maju dan mandiri. Market day melatih jiwa mandiri itu,” jelas Titah. Saya setuju. Ekonomi adalah pilar kemandirian. Lewat jajan pasar, mereka belajar cinta budaya sekaligus belajar mencari uang secara halal. Ini cara cerdas melawan arus modernisasi yang kadang kebablasan.

​Anak-anak itu luar biasa. Sejak pagi, mereka sudah sibuk dengan busana terbaiknya. Tidak ada wajah cemberut.

Mereka tampil di depan teman-temannya dengan kepala tegak. Tidak ada rasa minder. Inilah hasil dari pendidikan yang memberi ruang untuk berekspresi.

Kartini Cilik
MERIAH: Market Day menjadi salah satu destinasi yang mewarnai kegiatan Hari Kartini

​Bagi Titah, emansipasi punya makna yang dalam. Khusus untuk siswi perempuan, pesannya tajam. “Jadilah perempuan yang berani bermimpi dan berilmu, tapi tetap berakhlak mulia,” katanya. Ini poin penting. Cerdas saja tidak cukup. Pintar saja bisa berbahaya. Harus ada akhlak yang menjaga.

​Kegiatan ini bukan hanya untuk siswi. Siswa laki-laki pun ikut belajar. Mereka belajar menghargai. Belajar kolaborasi tanpa memandang gender. Di pasar sekolah itu, mereka belajar bahwa sukses adalah milik siapa saja yang mau bekerja keras.

​Harapan Titah sederhana tapi berat. Dia tidak ingin acara ini hanya jadi seremonial tahunan. Habis dirayakan, lalu dilupakan. “Saya ingin nilai Kartini membekas dalam karakter harian siswa. Menjadi kebiasaan di sekolah dan di rumah,” tegasnya.

​Saya kagum. Di Malang, semangat Kartini ternyata tidak sedang tidur. Dia sedang tumbuh dalam jiwa-jiwa cilik yang berani bermimpi. Di SD Islam Sabilillah Malang 1. Mereka adalah Kartini masa depan yang tidak hanya pandai bersolek, tapi juga pandai berkarya dan mandiri secara ekonomi. Itulah esensi pemimpin peradaban yang sebenarnya. (*)

Berita Terkini

Tempati Lokasi Baru, WAPO Resto Semakin Ramai Pengunjung

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – WAPO Resto kini menempati lokasi baru...

Gempita Wisuda ke-75 ITN Malang: Mencetak ‘Trendsetter’ Teknologi

IDEA JATIM, MALANG - Suasana haru sekaligus bangga menyelimuti...

KPU dan Polres Kota Batu Perkuat Sinergi Edukasi Demokrasi untuk Masyarakat

IDEA JATIM, BATU - KPU Kota Batu melakukan kunjungan...
spot_img
Berita Terkait