IDEAJATIM.ID, MALANG – Peringatan Hari Kartini di MTs Almaarif 01 Singosari tahun ini terasa berbeda. Bukan hanya soal kebaya dan upacara, tapi juga aksi nyata menjaga bumi.
Melalui kegiatan “Kartini Green Action” dan Adopsi Tanaman Obat Keluarga (TOGA), para siswa diajak langsung belajar mencintai lingkungan. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu (21–22/4/2026), dengan pendampingan dari Polbangtan Malang.
Di hari pertama, suasana madrasah penuh warna. Siswi kelas VII dan VIII tampil anggun dengan kebaya. Namun, mereka tak sekadar berpose. Usai upacara, mereka langsung bergerak menanam berbagai tanaman obat.






Setiap kelas mengirim lima perwakilan dengan membawa bibit jahe, kunyit, kencur, serai, hingga lidah buaya. Penanaman dilakukan menggunakan pot dari botol bekas—langkah sederhana yang mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Hari kedua, giliran siswa putra mengambil peran. Lewat program adopsi tanaman, mereka merawat tanaman secara berkelanjutan. Mulai dari menyiram, membersihkan area, memberi label nama, hingga menata lingkungan sekitar.
Pendamping dari Polbangtan turut memberikan pembinaan langsung. Siswa belajar teknik pembibitan, penanaman, hingga penyemaian. Proses belajar pun terasa lebih hidup karena dilakukan langsung di lapangan.
Ketua Pokja Keanekaragaman Hayati MTs Almaarif Singosari, Nur Aini, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni.
“Melalui kegiatan ini, murid diharapkan memahami manfaat tanaman serta memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan,” ujarnya.
Tanaman TOGA yang telah ditanam kemudian dikelola di greenhouse madrasah. Tempat ini menjadi laboratorium hidup, di mana siswa bisa belajar langsung proses budidaya, perawatan, hingga pemanfaatan tanaman obat secara berkelanjutan.
Pengalaman ini pun meninggalkan kesan bagi siswa.
“Saya jadi tahu cara menanam dan merawat tanaman obat, ternyata tidak sulit dan sangat bermanfaat,” kata Aleysha Azzahra, siswa kelas VII G.
Hal serupa disampaikan Nayla Athaya, siswa kelas VIII A.
“Kami belajar di lapangan sehingga lebih paham dan lebih peduli terhadap lingkungan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, semangat Kartini hadir dalam bentuk yang lebih relevan. Bukan hanya emansipasi, tetapi juga kepedulian dan aksi nyata. Dari kebaya ke kebun, Kartini masa kini sedang tumbuh lebih sadar, lebih peduli, dan siap menjaga masa depan bumi. (*)





