IDEA JATIM, MALANG – Hari Kartini tidak harus selalu soal kebaya. Di SD Islam Sabilillah Malang 2, semangat pahlawan emansipasi itu hadir nyata melalui program “Kelas Inspirasi”. Ruang kelas berubah menjadi panggung perjuangan. Tokohnya bukan lagi sejarah di buku teks, melainkan para ibu wali murid yang berbagi kisah sukses mereka.
​Selasa pagi itu, sekolah terasa berbeda. Bertajuk “Kartini Menginspirasi, Anak Bangsa Berprestasi”, delapan wali murid perempuan hadir sebagai pengajar sehari. Ada akademisi, notaris, hingga pengusaha sukses. Mereka berdiri di depan siswa, memotret kemandirian dan kecerdasan Kartini modern.
​Wakil Kepala SD Islam Sabilillah Malang 2, Yuyun Dwi Suryandari, S.Pd, menegaskan bahwa perubahan konsep ini bertujuan memberikan dampak nyata. Beliau ingin siswa melihat bukti kesuksesan yang dekat dengan keseharian mereka.
​”Kami ingin menunjukkan bahwa semangat Kartini hidup di dalam rumah mereka sendiri. Para ibu ini adalah bukti nyata. Mereka berpendidikan tinggi dan berkarier cemerlang tanpa melepas peran sebagai pendidik utama di keluarga,” ujar Yuyun.
​Ketua Pelaksana, Nina Lailatul Muslimah, S.Pd., menambahkan bahwa menghadirkan orang tua sebagai narasumber menciptakan ikatan emosional yang kuat.
​”Kartini bukan sekadar tokoh masa lalu. Ibu mereka adalah Kartini luar biasa. Dengan melihat perjuangan orang tua secara langsung, anak-anak akan lebih termotivasi mengejar cita-cita,” tegas Nina.
​Di tiap kelas, suasana tampak hidup. Akademisi seperti Putri Ayu Berlianingtyas dan Dr. Nur Ida Panca berbagi pentingnya literasi. Sementara itu, Notaris Leslie Arnia Diajeng bicara tentang integritas profesi. Tak ketinggalan, pebisnis seperti Noor Lisa Amalia dan Firdausil Jannah membakar semangat kewirausahaan siswa.
​Mereka tidak hanya bicara soal uang atau jabatan. Para ibu ini menanamkan nilai keberanian, kemandirian, dan etika sesuai syariat Islam. Siswa bertanya dengan antusias. Mereka penasaran bagaimana para ibu mampu menyeimbangkan peran di kantor dan di rumah.
​Melalui Kelas Inspirasi, SD Islam Sabilillah Malang 2 ingin menanamkan benih karakter sejak dini. Kemandirian dan kesetaraan dipahami sebagai tanggung jawab untuk berkarya bagi bangsa.
​Meski fokus pada edukasi profesi, akar budaya tetap dijaga. Kemeriahan ini akan memuncak pada Sabtu mendatang dengan parade busana tradisional kebaya. Perpaduan antara nilai budaya dan semangat intelektual ini menjadi ciri khas peringatan tahun ini.
​Perayaan kali ini sukses menjadi jembatan emosional antara sejarah dan masa depan. Sebuah pesan kuat tersampaikan: setiap perempuan punya ruang untuk berprestasi, dan setiap anak memiliki teladan nyata di dekat mereka. Semangat Kartini tetap abadi dalam wajah para ibu yang tak lelah menginspirasi. (*)




