“Berani Bicara Inggris: Stop English Shaming!”

Bahasa Inggris saat ini telah menjadi keterampilan yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, bahasa inggris dapat membuka banyak sekali peluang mulai dari peluang di bidang pendidikan, dunia kerja, hingga pada komunikasi global.  Tak heran jika banyak orang, baik pelajar maupun profesional, berlomba-lomba untuk mempelajarinya. Namun, di tengah semangat belajar ini, masih ada satu masalah besar yang sering kali luput dari perhatian:

English shaming.

English shaming adalah fenomena saat seseorang direndahkan, diejek, atau dibuat merasa malu karena kemampuan bahasa Inggrisnya dianggap kurang baik, entah karena logat yang kuat, grammar yang belum tepat, atau pengucapan yang tidak sempurna. Sayangnya, hal ini terjadi cukup sering, terutama di lingkungan sosial atau dunia maya. Padahal, tindakan ini sangat tidak mendukung proses belajar dan justru bisa menghancurkan rasa percaya diri seseorang yang sedang berusaha.

Bahasa Adalah Keterampilan, Bukan Tolak Ukur Kecerdasan

Satu hal penting yang perlu dipahami: kemampuan berbahasa Inggris tidak mencerminkan seberapa pintar seseorang. Bahasa adalah keterampilan, seperti memasak, berenang, atau bermain musik. Semuanya butuh waktu, latihan, dan proses belajar yang tidak instan. Bahkan penutur asli pun tidak langsung menguasai bahasa mereka tanpa belajar sejak kecil.

Mengolok-olok seseorang karena logat lokal atau tata bahasa yang belum sempurna hanya akan menciptakan suasana belajar yang negatif. Perlu diingat bahwa tujuan utama dari berkomunikasi adalah saling memahami. Jika pesan yang disampaikan bisa dimengerti, maka komunikasi sudah berhasil, meskipun tidak menggunakan grammar yang sempurna.

Kenapa English Shaming Berbahaya?

English shaming memiliki dampak yang lebih besar daripada yang kita kira. Beberapa akibat negatif yang bisa muncul antara lain:

  1. Menurunkan Rasa Percaya Diri
    Seseorang yang mengalami ejekan karena kesalahan berbahasa Inggris cenderung kehilangan rasa percaya diri. Mereka menjadi enggan untuk berbicara, bahkan ketika mereka sebenarnya tahu apa yang ingin dikatakan.
  2. Menghambat Proses Belajar
    Belajar adalah soal keberanian mencoba dan menerima kesalahan. Jika setiap kesalahan dipermalukan, maka orang akan takut mencoba, dan akhirnya tidak berkembang.
  3. Menimbulkan Ketakutan Sosial
    Korban English shaming bisa menjadi takut untuk tampil di depan umum, berbicara dalam presentasi, atau bahkan sekadar bertanya dalam kelas. Ketakutan ini bisa menghambat potensi mereka secara keseluruhan.
  4. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Tidak Sehat
    Ketika ejekan menjadi budaya, maka yang muncul adalah rasa malu, bukan rasa ingin tahu. Ini sangat berbahaya dalam dunia pendidikan dan pembelajaran.

Semua Orang Pernah Salah, dan Itu Wajar

Tak ada seorang pun yang belajar tanpa membuat kesalahan. Bahkan guru bahasa Inggris pun bisa lupa kosa kata atau salah mengucapkan suatu kata. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus ditertawakan. Berada di fase membuat kesalahan adalah hal yang  bagus, berarti sudah melewati fase memulai sesuatu, bagi sebagian orang memulai suatu hal adalah bagian paling sulit. Jika sudah melewati fase membuat kesalahan berarti kita sudah berhasil memulai sesuatu dan siap untuk menuju step selanjutnya yaitu memperbaiki kesalahan sehingga hasil lebih baik. Dalam hal ini berbicara bahasa inggris.

Banyak orang yang sangat fasih dalam bidang akademik atau profesional, tapi masih merasa minder saat berbicara bahasa Inggris karena takut salah. Mereka takut dicap “sok bule”, “nggak bisa grammar”, atau “logatnya kampungan”. Ini menunjukkan bahwa tekanan sosial jauh lebih besar daripada tantangan akademik. Jika kita ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris secara kolektif, kita perlu mulai dari lingkungan yang suportif dan saling membangun, bukan saling menjatuhkan.

Menciptakan Budaya yang Mendukung

Kita semua bisa berperan dalam menghentikan English shaming dengan melakukan beberapa hal sederhana:

  • Hargai setiap usaha orang dalam belajar
    Apapun level kemampuan seseorang, mereka sudah berani mencoba. Itu patut diapresiasi, mencoba suatu hal adalah hal yang sulit tidak semua orang berani. Maka jika ada orang yang sudah melewati hal tersebut maka harus kit hargai.
  • Berikan koreksi dengan cara yang baik
    Jika memang perlu mengoreksi, lakukan dengan sopan dan penuh empati. Bukan di depan umum atau dengan nada mengejek. Tidak perlu menjadi ‘’Grammar Police’’ yang selalu mengoreksi tata bahasa orang lain secara kompulsif, dan sering kali di depan umum. Kesannya, membuat diri mereka merasa lebih unggul dalam tata bahasa serta merendahkan orang lain.
  • Fokus pada isi pesan, bukan cara penyampaiannya
    Selama pesannya jelas, jangan terlalu mempermasalahkan tata bahasanya. Banyak sekali orang orang Asia atau Afrika dan negara lainnya yang bahasa inggris bukan bahasa pertamanya tinggal di negara Amerika atau Inggris yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa sehari-harinya. Ketika mereka berkomunikasi satu sama lain penutur bahasa inggris asli tidak menyalahkan grammar orang orang Asia atau Afrika yang berbicara dengannya, yang mereka lakukan adalah justru mencoba mengerti apa yang mereka bicarakan bukan menjadi grammar police, dan memang itulah inti berkomunikasi memahami bukan menghakimi. Kita yang bukan penutur bahasa inggris asli justru mempunyai tendensi untuk menjadi grammar police.
  • Berani membela
    Jika melihat seseorang diejek karena cara berbahasa Inggrisnya, bantu mereka dengan memberi dukungan, kalua perlu jatuhkan balik saja secara sehat dengan kemampuan bahasa inggris yang pasti lebih bagus daripada yang mengejek.
  • Ciptakan komunitas belajar yang aman
    Di zaman semodern ini sudah banyak sekali anak muda apalagi generasi gen z hingga generai alpha sekarang justru menggunakan campuran bahasa inggris dan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, baik di sekolah, kampus, maupun tempat kerja, ataupun media sosial, dimana hal tersebut adalah hal yang bagus. Membangun suasana yang mendukung semua orang untuk belajar dan berbicara tanpa takut dihakimi adalah hal yang penting untuk dilakukan, menciptakan banyak ruang untuk berkembang.

Berani Bicara, Berani Melangkah

Berbicara bahasa Inggris memang bukan hal mudah bagi semua orang, tapi itu bukan alasan untuk menyerah. Kita harus terus melatih keberanian untuk mencoba, meskipun awalnya terbata-bata. Tidak apa-apa. Karena setiap kata yang kita ucapkan adalah langkah menuju kemajuan.

Jangan tunggu sempurna untuk mulai berbicara. Justru dengan berbicara, kita bisa tahu mana yang harus diperbaiki. Bahkan aplikasi belajar bahasa pun tahu bahwa “practice makes progress”, bukan “practice makes perfect”.

Mulailah dari hal-hal kecil:

  • Gunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, meski hanya satu-dua kalimat.
  • Tonton konten youtube yang menggunakna bahasa inggris tidak hanya konten belajar namun konten santai seperti daily vlog, opini dll yang menggunakan bahasa inggris
  • Ikut komunitas belajar bahasa inggris online atau offline.
  • Carilah teman dari luar negeri lewat sosial media sehingga bisa mempraktikkan berbicara bahasa inggris dengannya setiap hari lewat berkirim pesan atau telfon.

Kesimpulan: Let’s End English Shaming

English shaming bukan hanya tidak membantu, tapi juga merusak. Jika kita benar-benar ingin membangun generasi yang mahir berbahasa Inggris, kita harus memulai dari lingkungan yang suportif. Mulailah dari diri sendiri: berhenti mengejek, berhenti menghakimi, dan mulailah menghargai setiap proses belajar.

Ingat, kita semua pernah menjadi pemula. Jadi, mari saling dorong, bukan saling jatuhkan. Karena ketika satu orang berani bicara, dunia mereka terbuka lebih luas. English Shaming is not a cool thing.

Let’s stop English shaming. Let’s speak English with pride, courage, and kindness.

“Your English doesn’t have to be perfect. It just has to be brave.”

Berita Terkini

Direktur Polinema Tegaskan Pentingnya Kejujuran dalam Subsidi Silang

IDEA JATIM, ​MALANG – Di tengah mencuatnya isu kenaikan...

UB Siapkan Benteng Mental Mahasiswa

IDEA JATIM, MALANG – Tekanan akademik dan perubahan gaya...

Tembus Standar Ketat Jepang, 10 Mahasiswa Teknik Mesin UMM Magang di Daihatsu Kyushu

IDEA JATIM, ​MALANG – Industri otomotif Jepang dikenal sebagai...
spot_img
Berita Terkait