Ada satu wabah baru yang mewabah di era media sosial: keinginan untuk selalu ikut ramai. Ia tidak menular melalui udara. Ia menyebar melalui layar. Seseorang membuat video. Ribuan menirukan. Seseorang membuat tren. Jutaan mengulang. Tidak penting apakah tren itu bermakna atau tidak. Tidak penting apakah ada yang terluka atau tidak. Yang penting adalah tidak tertinggal dari keramaian.
Hari ini, teknologi melesat jauh melampaui imajinasi para leluhur, tetapi hati manusia justru sering tertinggal di belakang. Kita hidup di masa ketika seseorang dapat berbicara dengan seluruh dunia hanya melalui layar di telapak tangan, namun pada saat yang sama kehilangan kemampuan paling dasar sebagai manusia.

Di zaman media sosial, segala sesuatu bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah dikenal oleh peradaban sebelumnya. Sebuah tarian, sebuah potongan suara, sebuah ekspresi wajah, dapat berpindah dari satu layar ke jutaan layar lain hanya dalam hitungan jam. Viralitas menjadi mata uang baru. Yang lucu diulang. Yang ramai diperbincangkan. Yang kontroversial diperbanyak. Dan sering kali, sebelum kita sempat berpikir, kita sudah ikut menirukan.
Dari sanalah gambar yang beredar, tampak sebuah unggahan akun Instagram dari Pandawara Group yang mengecam tren yang dianggap menyinggung penyandang disabilitas. Dalam unggahan itu terdapat potongan-potongan video yang memperlihatkan orang menirukan gestur tertentu yang diasosiasikan dengan kondisi disabilitas untuk tujuan hiburan. Di kolom komentar, perdebatan berkembang. Ada yang mendukung kritik tersebut, ada yang menilai beberapa influencer Indonesia ikut terseret karena pernah membuat konten serupa, dan ada pula yang menganggapnya hanya candaan biasa.

Candaan atau komedi semu lahir ketika seseorang tertawa bukan karena kecerdasan gagasan, melainkan karena keberadaan orang lain dijadikan bahan lelucon. Dan Charlie Chaplin, seorang komedian yang menertawakan dirinya sendiri tak masuk dalam lingkaran ini. Pada titik itu humor kehilangan daya pembebasnya. Ia berubah menjadi alat pengerdilan padahal disabilitas bukanlah kekurangan martabat manusia. Disabilitas hanyalah salah satu bentuk keberagaman pengalaman hidup.
Lihatlah Profesor Stephen Hawking. Tubuhnya lumpuh hampir sepenuhnya akibat penyakit ALS. Ia tidak dapat berjalan, tidak dapat menulis dengan tangannya sendiri, bahkan tidak dapat berbicara tanpa bantuan teknologi. Namun dari tubuh yang dianggap “tidak sempurna” oleh ukuran kebanyakan orang itu, lahirlah salah satu pemikir terbesar dalam sejarah manusia. Ia memberi kuliah di berbagai universitas terkemuka dunia, berdiskusi dengan para ilmuwan terbaik, bahkan menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga penelitian dan antariksa seperti NASA.
Ketika Hawking berbicara tentang lubang hitam, kosmologi, dan asal-usul alam semesta, dunia tidak melihat kursi rodanya. Dunia melihat kejeniusannya. Hawking sendiri mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi sering dilupakan: keterbatasan fisik tidak pernah identik dengan keterbatasan kemanusiaan. Yang cacat bukan tubuhnya, melainkan cara pandang sebagian masyarakat yang masih mengukur nilai manusia dari kesempurnaan raganya.

Tidak semua yang viral layak ditiru. Tidak semua yang ramai layak dirayakan. Dan tidak semua yang menghasilkan jutaan tayangan pantas disebut kreativitas. Media sosial telah memberi setiap orang panggung. Namun panggung tanpa kesadaran hanya akan melahirkan keramaian yang miskin makna. Kita membutuhkan budaya digital yang tidak hanya cerdas secara teknologis, tetapi juga matang secara etis dan emosional.
Dan kita memerlukan obat penawar dari wabah yang menyinggung penyandang disabilitas berupa empati. Empati, hari ini, tidak lagi sekadar sifat baik yang diajarkan orang tua kepada anak-anaknya. Ia telah menjadi kebutuhan peradaban. Sebuah gaya hidup. Sebuah pilihan sadar untuk tetap menjadi manusia ketika dunia semakin gemar mengubah segala hal menjadi tontonan.
Empati sesungguhnya bukan soal merasa kasihan. Empati adalah kemampuan memahami bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama, bahkan ketika pengalaman hidupnya berbeda dari kita. Dan mungkin, di era yang semakin bising ini, empati adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi sekaligus paling penting. Karena mungkin, di zaman yang penuh kebisingan ini, empati adalah bentuk kecerdasan tertinggi yang masih tersisa. Dan menjadi manusia, ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar menjadi viral.
Pada akhirnya, kita hidup di zaman ketika seseorang yang menghabiskan puluhan tahun meneliti alam semesta bisa mendapat perhatian lebih sedikit daripada seseorang yang meniru ekspresi orang lain selama lima belas detik. Algoritma tidak selalu mempromosikan nilai. Ia mempromosikan keterlibatan. Dan keterlibatan sering kali lahir dari sensasi.
Siapapun akan menjadi disabilitas pada saatnya nanti ketika mengalami kecelakaan, usia tua, penyakit, atau nasib yang tak terduga dapat mengubah siapa saja dalam hitungan detik. Tidak ada manusia yang memiliki kontrak permanen dengan kesempurnaan tubuhnya.




