Di Jakarta, setiap gedung tinggi sesungguhnya adalah cerita tentang orang-orang yang meninggalkan sesuatu. Ada yang meninggalkan sawah, ada yang meninggalkan gunung, ada yang meninggalkan keluarga, dan ada pula yang meninggalkan masa lalu yang terlalu sempit untuk menampung ambisinya. Dan, Kalibata City adalah salah satu monumen dari perpindahan itu.
Di antara beberapa menara yang berdiri rapat seperti rak buku raksasa, manusia apartemen hidup dalam kotak berukuran serupa. Dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur kecil, ruamh tamu sekaligus menjadi ruang makan, ruang belajar, ruang bermain anak, bahkan ruang menyembunyikan kesedihan. Sebuah arsitektur yang memaksa manusia untuk bernegosiasi dengan ruang setiap hari.

Di sana tinggal banyak pendatang dari Jawa Timur. Mereka datang dari Malang, Surabaya, Kediri, Blitar, Lamongan, Jember, Banyuwangi dan berbagai kota lain yang mungkin tidak pernah dibayangkan akan memiliki hubungan emosional dengan sebuah apartemen di Jakarta Selatan.
Mereka datang membawa logat yang masih kental, sambal yang lebih pedas daripada kemampuan lidah orang Jakarta, serta kerinduan yang tak pernah selesai. Mereka bekerja sebagai pegawai swasta, ASN, tenaga kesehatan, pekerja kreatif hingga pedagang. Pada siang hari mereka menjadi warga Jakarta. Pada malam hari mereka kembali menjadi orang Jawa Timur yang menonton video kampung halamannya melalui layar ponsel. Apartemen ini adalah tempat di mana segala identitas bertemu.

Di Lorong yang sama, orang Madura bisa berpapasan dengan keluarga Batak. Di lift yang sama, orang Tionghoa Surabaya berdiri di samping orang Bugis, Sunda, Bali, Minang, Arab atau bahkan India. Kompleks ini menjadi miniatur Indonesia yang dipadatkan secara vertikal. Multikulturalisme di sini bukan konsep akademis. Ia terjadi setiap kali orang saling menukar sapa senyuman, saling menunggu lift atau saling mengeluh soal parkiran kendaraan. Namun kehidupan vertikal selalu meminta harga.
Jika property rumah biasa menawarkan halaman dan langit, property apartemen menawarkan efisiensi. Jika rumah biasa memberikan ruang untuk berkembang, apartemen mengajarkan seni menyesuaikan diri. Kelebihan hidup di apartemen Kalibata ini adalah lokasinya yang strategis. Stasiun KRL sangat dekat. Kawasan bisnis Jakarta dapat dijangkau lebih cepat dibanding mereka yang tinggal di pinggiran kota. Berbagai kebutuhan sehari-hari tersedia dalam satu kawasan yang sama. Mall, minimarket, pusat kuliner, fasilitas olahraga hingga tempat ibadah dapat dijangkau berjalan kaki.
Bagi para pendatang dari Jawa Timur, kemudahan semacam ini adalah suatu kemewahan yang tak bisa diperoleh jika di rumah kontrakan yang jauh dari pusat kota. Waktu yang dihemat dari perjalanan bisa digunakan untuk bekerja, beristirahat atau sekadar menelpon orang tua di kampung. Tetapi setiap kemudahan memiliki bayangannya sendiri.

Apartemen ini adalah salah satu kawasan hunian paling padat di Jakarta. Kepadatan itu terasa di lift, koridor, di area publik, bahkan di parkiran. Mobil seringkali lebih banyak dari ruang yang tersedia. Mencari tempat parkir pada jam-jam tertentu dapat berubah menjadi ritual kesabaran. Bagi Sebagian penghuni, parkirana bukan lagi fasilitas, melainkan kompetisi sosial yang berlangsung setiap hari.
Ada pula persoalan privasi. Di apartemen ini, tetangga bisa tinggal hanya beberapa meter dari pintu studio. Suara anak menangis, televisi yang terlalu keras, atau perdebatan rumah tangga seringkali menjadi konsumsi bersama. Dinding yang memisahkan ruang tak selalu memisahkan kehidupan.
Dan sebagaimana Jakarta sendiri, apartemen ini memiliki reputasi yang kompleks. Ia dipuji karena keterjangkauan dan aksesibilitasnya, tetapi juga dikritik karena kepadatan dan berbagai persoalan sosial yang muncul dari konsentrasi manusia dalam jumlah besar. Namun disitulah letak maknanya.
Apatemen ini bukan sekadar apartemen. Ia Adalah laboratorium sosial. Tempat orang belajar hidup berdampingan dengan perbedaan. Tempat para perantau dari berbagai daerah lain menguji mimpi mereka terhadap kerasnya Jakarta. Tempat seseorang bisa merasa sangat dekat dengan banyak orang sekaligus sangat jauh dari kampung halamannya.
Di malam hari, ketika lampu-lampu dari ribuan unit menyala seperti bintang yang tersusun rapi, apartemen ini tampak seperti kota kecil yang melayang di atas Jakarta. Di balik setiap jendela ada cerita yang berbeda. Ada pasangan muda yang baru menikah. Ada mahasiswa yang sedang mengejar masa depan. Ada pekerja yang menghitung sisa gaji sebelum akhir bulan. Ada orang tua yang merindukan suara anak-anaknya di kampung. Dan mungkin, di situlah esensi apartemen ini.
Bukan pada beton, bukan pada lift, bukan pada parkiran yang sempit atau fasilitas yang lengkap. Melainkan pada kenyataan bahwa manusia dari berbagai etnis, budaya, dan daerah dapat hidup berdampingan dalam ruang yang terbatas sambil terus memelihara harapan yang tidak terbatas.
Kalibata City pada akhirnya adalah Jakarta itu sendiri: padat, melelahkan, penuh kontradiksi, tetapi selalu memberi alasan bagi orang-orang untuk bertahan.




