DIAMNYA WAKTU

Kita telah berjalan sejauh waktu mengizinkan luka menjadi bahasa,
dan diam menjadi rumah
bagi yang tak sempat kita ucapkan.
Di luar sana,
negeri ini adalah puisi yang patah
kata-kata dirampas,
makna diperdagangkan,
namun di antara kita,
masih ada meja tua, dua cangkir kopi,
dan tanganmu
yang selalu kucari
setiap pagi.

Aku pernah kehilanganmu
dalam diam sepanjang kemarau.
Kita hampir menjadi dua orang asing
yang kebetulan mengingat nama yang sama.
Namun cinta menolak mati
ia bangkit dari reruntuhan kita sendiri,
seperti hujan
yang akhirnya menemukan tanahnya.
Aku mencintaimu
dengan cara yang tak selesai:
seperti hujan yang disimpan,
seperti sunyi yang dipelihara,
seperti keberanian mencintai
di dunia yang kehilangan nurani.

Jika waktu benar-benar habis,
biarlah cinta ini tinggal
di napas terakhir yang kita bagi
dan sebuah kesaksian:
kita memilih setia
meski dunia
berkali-kali mengajarkan untuk menyerah.

Berita Terkini

Siswa MAN Kota Batu Raih Silver Medal di Creative Open ITS Surabaya

BATU, IDEAJATIM.ID – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa MAN...

Wali Kota Malang Kukuhkan Dewan Pendidikan 2026–2031 untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan

MALANG, IDEAJATIM.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang resmi mengukuhkan...

Universitas Brawijaya Salurkan Bantuan dan Laptop untuk Mahasiswa Baru Penerima KIP-K

MALANG, IDEAJATIM.ID – Universitas Brawijaya (UB) menunjukkan komitmennya dalam...
spot_img
Berita Terkait

TIRANI

Brantas

Kategori Populer

spot_imgspot_img