

Di Jakarta, setiap gedung tinggi sesungguhnya adalah cerita tentang orang-orang yang meninggalkan sesuatu. Ada yang meninggalkan sawah, ada yang meninggalkan gunung, ada yang meninggalkan keluarga, dan ada pula yang meninggalkan masa lalu yang terlalu sempit untuk menampung ambisinya. Dan, Kalibata City adalah salah satu monumen dari perpindahan itu.
Di antara beberapa menara yang berdiri rapat seperti rak buku raksasa, manusia apartemen hidup dalam kotak berukuran serupa. Dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur kecil, ruamh tamu sekaligus menjadi ruang makan, ruang belajar, ruang bermain anak, bahkan ruang menyembunyikan kesedihan. Sebuah arsitektur yang memaksa manusia untuk bernegosiasi dengan ruang setiap hari.
Di sana tinggal banyak pendatang dari Jawa Timur. Mereka datang dari Malang, Surabaya, Kediri, Blitar, Lamongan, Jember, Banyuwangi dan berbagai kota lain yang mungkin tidak pernah dibayangkan akan memiliki hubungan emosional dengan sebuah apartemen di Jakarta Selatan.