Menyentuh Jiwa Tiongkok: Kala Bahasa Mandarin Hidup di Selasar Universitas Ma Chung

IDEA JATIM, MALANG – Belajar bahasa sering kali dibayangkan sebagai deretan hafalan kosakata yang kaku serta labirin aturan tata bahasa yang rumit. Namun, di Program Studi Mandarin for Education and Business Universitas Ma Chung, stigma tersebut luruh dan berganti menjadi sebuah perjalanan spiritual serta penjelajahan budaya yang mendalam. Di lingkungan akademis ini, Bahasa Mandarin tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat komunikasi fungsional, melainkan kunci utama untuk membuka gerbang peradaban Tiongkok yang kaya akan filosofi dan sejarah panjang.

​Semangat eksplorasi inilah yang melandasi kegiatan bertajuk “Sinoculture of Imlek” yang baru-baru ini menyulap suasana di Gedung Bhakti Persada. Seketika, wajah kampus berubah drastis menjadi merah merona, penuh dengan ornamen khas yang memanjakan mata. Para dosen dan mahasiswa tampak anggun mengenakan busana tradisional cheongsam, menciptakan atmosfer autentik yang membawa siapa pun merasa seolah-olah sedang berada di jantung Tiongkok. Keindahan visual ini bukan sekadar dekorasi, melainkan cerminan dari penghormatan terhadap tradisi yang sedang dipelajari.

Baca Juga:  Dosen Bakal Tergeser AI? Rektor Universitas Ma Chung Buka Suara

​Ketua Program Studi Mandarin for Education and Business, Yohanna Nirmalasari, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa penguasaan bahasa tanpa pemahaman budaya adalah sebuah kehampaan. Beliau menjelaskan bahwa istilah “Sino” mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan Tiongkok, mulai dari budaya, tradisi, hingga ilmu pengetahuannya. Melalui tema Sinoculture, para mahasiswa diajak untuk tidak hanya mahir melafalkan Mandarin, tetapi juga meresapi makna dan nilai-nilai luhur di balik setiap aksara. Menurutnya, bahasa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari identitas sebuah bangsa, sehingga mempelajarinya berarti menyelami jiwa dari bangsa tersebut.

​Keunikan metode pembelajaran di Universitas Ma Chung terletak pada keterlibatan langsung mahasiswa dalam praktik budaya secara nyata. Mahasiswa tidak hanya duduk diam di belakang meja kelas, melainkan terjun aktif dalam empat pos aktivitas seni yang sarat makna. Mereka mengasah ketajaman rasa melalui seni kaligrafi Mandarin, melatih kesabaran dalam seni gunting kertas, merajalin filosofi dalam seni simpul Tiongkok, hingga mengekspresikan karakter melalui lukisan topeng opera.

​Antusiasme luar biasa terpancar jelas dari wajah para mahasiswa yang terlibat. Denis, salah satu mahasiswa, mengungkapkan kebanggaannya bisa menjadi bagian dari proses pelestarian ini. Ia merasa bahwa belajar langsung melalui praktik memberikan kesan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar membaca buku teks.

Baca Juga:  Seminar Universitas Ma Chung, Bahas Pemanfaatan AI di Perguruan Tinggi

Hal senada disampaikan oleh Hoggy, yang terpikat oleh seni simpul Tiongkok. Baginya, setiap guratan kaligrafi dan setiap lilitan simpul memiliki filosofi mendalam yang menghubungkan mereka dengan sejarah masa lalu. Di Universitas Ma Chung, belajar Mandarin telah bertransformasi menjadi cara mereka menghargai warisan dunia dengan penuh kebanggaan. (*)

Berita Terkini

Cetak Sejarah Dunia!; Peringati 17 Agustus, Kota Batu Gelar Kolaborasi Olahraga Biliar dan Domino

IDEA JATIM, BATU – Sebuah terobosan bersejarah yang baru...

Karnaval Gebyar PAUD 2026; Cara Isi HUT ke-81 RI Lembaga PAUD se-Kota Batu

IDEA JATIM, BATU - Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu,...

SMA Walisongo Gempol Semarakkan Hari Pramuka ke-65

IDEAJATIM.ID, PASURUAN – SMA Walisongo Gempol menggelar peringatan Hari...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img