Ideajatim.id, Malang – Kerajinan cobek batu di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, masih bertahan hingga saat ini meskipun jumlah pengrajinnya terus berkurang. Salah satu pengrajin, Hartono, masih menekuni profesi tersebut sejak 1987 dan terus memproduksi cobek sebagai mata pencaharian sekaligus upaya mempertahankan kerajinan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh Tim Jurnalistik KKNT-T 08 Universitas Islam Raden Rahmat Malang pada 3 Agustus 2026, Hartono mulai menjadi pengrajin cobek sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Ia tetap menjalankan profesi tersebut meskipun kini juga bertugas sebagai perangkat desa. Selama menempuh pendidikan, Hartono memilih bersekolah dan kuliah pada sore hari agar dapat bekerja sebagai pengrajin pada pagi hari untuk membiayai pendidikannya.
Pengalaman sebagai pengrajin juga membawanya mengembangkan alat penggosok cobek berbasis dinamo. Inovasi tersebut diajukan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) hingga memperoleh bantuan peralatan. Pada 2014, bantuan yang diterima berupa 35 unit alat dengan total anggaran sekitar Rp200 juta. Setahun kemudian, bantuan kembali diberikan sebanyak 30 unit alat dengan nilai anggaran yang sama. Pada 2024, Hartono juga mengajukan pengadaan 60 unit dinamo melalui pemanfaatan dana desa yang belum terserap oleh koperasi desa.
Hartono menjelaskan bahwa kerajinan cobek di Desa Toyomarto telah berkembang sejak masa buyutnya yang dikenal dengan nama Buyut Pahing . Pada masa penjajahan, Buyut Pahing membuat ubin batu yang kemudian berkembang menjadi berbagai peralatan rumah tangga berbahan batu, seperti cobek, gilingan jagung, dan lumping atau lesung. Seiring waktu, produk cobek juga mengalami pengembangan pada bagian motif dan tampilannya.
Menurut Hartono, salah satu kendala yang dihadapi pengrajin saat ini adalah semakin sulit memperoleh bahan baku. Batu yang sebelumnya banyak tersedia di sekitar Desa Toyomarto kini lebih banyak dimanfaatkan sebagai material pondasi bangunan sehingga pengrajin harus mendatangkan batu dari wilayah Japana, Sidoarjo. Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi meningkat dan berpengaruh terhadap harga jual cobek.
”Kesulitan yang kami alami sekarang adalah bahan baku yang semakin sulit dicari. Batu yang biasanya digunakan untuk membuat cobek sekarang banyak dihancurkan untuk pondasi, sehingga kami harus mengambil batu dari Japana, Sidoarjo,” kata Hartono.
Dalam proses pembuatannya, pengrajin terlebih dahulu memilih batu yang memiliki kualitas baik dengan pori-pori yang minim. Batu kemudian dibelah menggunakan alat, dibentuk menjadi cobek, sedangkan sisa potongan batu dimanfaatkan untuk membuat ulekan. Untuk menutup pori-pori yang masih ada, pengrajin menggunakan semen sebagai bahan tambahan sehingga menghasilkan cobek yang lebih rapat dan tidak mudah menyerap air.
Hartono menyampaikan bahwa cobek diproduksi dalam berbagai ukuran, mulai dari diameter 15 hingga 40 sentimeter. Dengan bantuan mesin bubut, cobek berukuran 20 sentimeter dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 10 menit, sedangkan produksi secara manual mampu menghasilkan sekitar 10 hingga 15 cobek setiap hari. Dalam satu bulan, jumlah produksi rata-rata mencapai 200 hingga 300 unit.
Selain memproduksi cobek, sebagian pengrajin juga membuat peralatan rumah tangga lainnya sebagai alternatif usaha. Produk cobek dari Desa Toyomarto dipasarkan ke sejumlah daerah, seperti Bali, Lombok, dan Sidoarjo, dengan sasaran utama pedagang pasar tradisional serta wisatawan. Pemasaran dilakukan secara langsung maupun melalui aplikasi WhatsApp karena biaya pengiriman melalui perdagangan elektronik dinilai cukup tinggi akibat berat produk.
Hartono juga menjelaskan bahwa jumlah pengrajin cobek di Desa Toyomarto mengalami penurunan. Jika pada dekade 1970-an sebagian besar masyarakat bekerja sebagai pengrajin, saat ini jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 40 hingga 50 orang. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh semakin banyaknya masyarakat yang memilih bekerja di perusahaan dibandingkan melanjutkan usaha kerajinan batu.
Meskipun menghadapi keterbatasan bahan baku dan penurunan jumlah pengrajin, produksi cobek di Desa Toyomarto masih terus berlangsung. Hartono menyebutkan bahwa kerajinan cobek dari Toyomarto menggunakan batu hitam sebagai bahan utama dan tetap dipasarkan ke berbagai daerah sesuai permintaan pasar.
Penulis : Setyaning Puspita Sari
Jurnalistik KKN-T 08 Universitas Islam Raden Rahmat Malang




