IDEA JATIM, BATU – Masyarakat Kota Batu diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena bediding yang saat ini mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Bediding merupakan kondisi penurunan suhu udara yang cukup ekstrem pada musim kemarau, terutama pada malam hingga pagi hari, yang umum terjadi di daerah dataran tinggi seperti Kota Batu.
Praktisi kesehatan dan pemerhati pelayanan kesehatan masyarakat, dr. Susana Indahwati, menjelaskan bahwa suhu udara yang lebih dingin dari biasanya dapat memengaruhi kondisi tubuh dan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, khususnya pada kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit kronis.
“Pada kondisi udara dingin, tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal. Jika daya tahan tubuh menurun, masyarakat akan lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan, batuk pilek, radang tenggorokan, asma kambuh, hingga peningkatan tekanan darah pada penderita hipertensi,” jelasnya.
Data pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa selama periode suhu dingin biasanya terjadi peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), influenza, batuk pilek, sesak napas akibat asma, nyeri sendi, hingga kekambuhan penyakit kronis pada lansia.
Untuk itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi tubuh dengan menggunakan pakaian hangat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mencukupi kebutuhan cairan, berolahraga secara teratur, serta mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Penggunaan masker juga dianjurkan bagi masyarakat yang sedang mengalami gejala batuk dan pilek guna mencegah penularan penyakit.
Selain masyarakat umum, perhatian khusus perlu diberikan kepada jamaah haji yang baru kembali dari Tanah Suci. Perbedaan suhu yang cukup drastis antara Arab Saudi dan Kota Batu dapat menjadi tantangan tersendiri bagi kondisi kesehatan jamaah.
Selama musim haji, jamaah umumnya berada pada lingkungan dengan suhu siang hari yang sangat panas dan cenderung kering. Ketika kembali ke Kota Batu yang saat ini sedang mengalami fenomena bediding dengan suhu yang jauh lebih rendah, tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi terhadap perubahan cuaca tersebut.
“Perubahan suhu yang mendadak dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun sementara, sehingga jamaah lebih rentan mengalami batuk, pilek, radang tenggorokan, infeksi saluran napas, maupun kekambuhan penyakit kronis yang sebelumnya sudah dimiliki,” ungkap dr. Susan.
Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan jamaah haji setelah kembali ke Kota Batu antara lain menggunakan pakaian hangat terutama pada malam dan dini hari, menghindari aktivitas fisik berlebihan selama masa pemulihan, memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap tercukupi, mengonsumsi makanan bergizi dan tinggi protein untuk membantu pemulihan kondisi tubuh.
Kemudian melanjutkan pengobatan rutin bagi jamaah dengan riwayat hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau asma. Serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam, batuk yang tidak membaik, sesak napas, atau kelelahan berlebihan.
Selain itu, jamaah haji juga diimbau untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pasca-haji di puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat guna memastikan kondisi kesehatannya tetap optimal setelah menjalani perjalanan panjang dan aktivitas ibadah yang cukup berat.
Masyarakat Kota Batu diharapkan tidak menganggap fenomena bediding sebagai kondisi yang sepele. Dengan menjaga pola hidup sehat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca, risiko gangguan kesehatan dapat diminimalkan sehingga aktivitas sehari-hari tetap dapat berjalan dengan baik.
“Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Mari kita jaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar selama periode bediding ini, terutama bagi kelompok rentan dan jamaah haji yang baru kembali ke tanah air,” pungkasnya. (*)





