Tiket Full Marathon (FM) pada banyak event road race saat ini rata-rata menyentuh angka Rp1 juta. Bahkan ada yang lebih. Nominal itu belum termasuk biaya perjalanan, hotel, makan, oleh-oleh, dan berbagai pengeluaran lain sejak keluar rumah hingga kembali pulang. Belum lagi cuti yang harus diambil, serta waktu akhir pekan yang kadang harus “direlakan” dari keluarga.
Bagi orang yang belum pernah mengikuti lomba lari, angka tersebut tentu terasa tidak masuk akal. Secara matematis pun sulit dibenarkan. Jika biaya pendaftaran dan akomodasi dibandingkan dengan race pack, refreshment, atau medali yang diterima, hasilnya tetap jauh lebih banyak minus daripada plus.

Lalu mengapa para pelari tetap rela mengeluarkan biaya dan waktu sebesar itu?
Jawaban paling mudah tentu karena olahraga atau kesehatan. Namun rasanya alasan itu belum cukup. Sebab manfaat kesehatan juga bisa diperoleh dengan berlari di sekitar rumah tanpa harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk sebuah lomba lari.
Menurut saya, salah satu hal yang paling dicari peserta adalah pengalaman. Pengalaman yang dibangun sejak sebelum start dimulai. Musik yang mengiringi, hitung mundur yang memacu adrenalin, kerumunan peserta yang riuh, hingga sorakan orang-orang di sepanjang lintasan. Semua itu menciptakan suasana yang kemungkinan tidak akan ditemukan dalam latihan sehari-hari.

Pengalaman tersebut tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri peserta. Ada rasa gugup menjelang start, kepuasan saat berhasil melewati titik-titik sulit, hingga perasaan yang sulit dijelaskan ketika akhirnya melewati garis finis. Bahkan kegagalan mencapai target waktu sering kali tetap menjadi pengalaman yang berharga dan terus dikenang setelah lomba usai.
Udara dingin, terik matahari, hujan deras, tanjakan, kram, hingga berbagai kejadian tak terduga selama perlombaan akhirnya berubah menjadi cerita. Dan sering kali, cerita itulah yang dibawa pulang oleh peserta, bukan sekadar medali atau catatan waktu.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan dipenuhi scroll media sosial, pengalaman kolektif seperti ini menjadi sesuatu yang semakin jarang ditemukan. Ribuan orang berkumpul, bergerak, dan berjuang menuju tujuan yang sama. Ada rasa kebersamaan yang sulit diukur dengan angka, tetapi bisa dirasakan oleh mereka yang mengalaminya.
Medali adalah simbol target yang tercapai, latihan yang terbayar, dan perjuangan yang dimenangkan. Lomba lari bukan tentang memperlihatkan kepada orang akan hebatnya kita, tapi untuk memperlihatkan pada diri sendiri, bahwa semua yang kita bangun, akan ada hasilnya.
Jadi, apakah membayar mahal untuk mengikuti lomba lari itu sepadan? Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua orang. Jika yang dicari hanya olahraga, mungkin tidak. Namun jika yang dicari adalah pengalaman, pencapaian, dan cerita yang akan terus dikenang, jawabannya bisa jadi berbeda.





