IDEA JATIM, MALANG – Suasana khidmat dan haru menyelimuti Gedung Sport Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Kamis pagi (11/6/2026). Ribuan pasang mata menyaksikan momen penuh makna tersebut. Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Sabilillah Malang menggelar Wisuda dan Pengukuhan Al-Qur’an.
Sebanyak 579 wisudawan terbaik tahun pelajaran 2025/2026 resmi dikukuhkan.
Prosesi sakral ini dipimpin langsung oleh Direktur LPI Sabilillah Malang, Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Acara dihadiri para pimpinan lembaga dan tokoh agama. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema sejak pagi hari. Atmosfer gedung terasa sangat suci saat naskah pengukuhan dibacakan tepat pada 25 Zulhijah 1447 Hijriah.
”Atas dasar keyakinan bahwa hadza min fadhli rabbi, semua karena pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala… saya kukuhkan para wisudawan Pendidikan Al-Qur’an Sekolah Sabilillah,” ucap Prof. Ibrahim Bafadal dengan suara penuh wibawa.
Prof. Ibrahim sangat mengapresiasi capaian luar biasa para wisudawan. Mulai dari siswa TK Islam Sabilillah Malang 1 & 2 yang menguasai Tartil jilid 2, siswa SD Islam Sabilillah Malang 1 yang menuntaskan juz 30, hingga siswa SMP Islam Sabilillah Malang dan SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren yang menguasai program Terjemah dan Tahfidz multi-juz. Sebelum dinyatakan lulus, seluruh wisudawan melewati ujian tasmi’ super ketat dari tiga lembaga kredibel, yaitu PIQ Singosari, Yahtadi Lumajang, dan PP JQH NU. Atas keberhasilan ini, mereka berhak menerima Syahadah resmi berstandar internasional.

Di akhir prosesi, Prof. Ibrahim menitipkan pesan mendalam sekaligus doa yang menggetarkan hati seluruh wali murid yang hadir. “Harapan tertinggi kita semua, semoga Ananda menjadi generasi Qur’ani sejati, pemimpin peradaban dunia masa depan yang menegakkan panji-panji ajaran Al-Qur’an,” pungkas Prof. Ibrahim penuh harap.
Pesan tajam juga datang dari Kepala Kantor Kemenag Kota Malang, Dr. H. Achmad Shampton, S.HI., M.Ag. Pria yang akrab disapa Gus Sampton ini mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak menjadikan Al-Qur’an sekedar pelengkap. Dia bahkan mengutip wasiat ulama kharismatik almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) tentang salah satu tanda kemunduran zaman.
”Kita memahami banyak hal, namun sering kali Al-Qur’an itu hanya jadi seselan ketika mau ada acara. Kita lupa bahwa Al-Qur’an itu seharusnya menjadi imam. Untuk bisa menjadi imam, tentu saja Al-Qur’an ini harus dipahami maknanya,” ujar Gus Sampton di hadapan ratusan wisudawan.
Gus Sampton menyayangkan realitas sosial saat ini di mana cerminan nilai-nilai Al-Qur’an belum sepenuhnya mewarnai lini kehidupan, termasuk di ranah birokrasi. Ia pun berpesan khusus kepada para lulusan agar tidak lekas berpuas diri setelah berhasil menghafal Al-Qur’an. “Anak-anak sekalian, jangan pernah berhenti belajar. Kalau kalian sudah hafal Al-Qur’an, itu belum titik. Masih ada tahapan lagi untuk memahami maknanya,” tegasnya.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Sabilillah Malang, Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, M.Pd, turut menegaskan bahwa wisuda ini bukan sekadar seremoni kelulusan. Beliau menyebut momen ini sebagai waktu ketika orang tua menyaksikan cahaya iman mulai tumbuh dalam diri anak-anak. Prof. Rofi’uddin menganalogikan Al-Qur’an sebagai “jangkar” di tengah derasnya arus zaman.
Dalam pidatonya, Prof. Rofi’uddin memberikan “sentilan” menyentuh kepada para orang tua agar mengubah pola asuh. Beliau meminta agar orang tua tidak lagi mengutamakan nilai akademis di atas segalanya. “Pesan saya, jangan hanya menanyakan, ‘Nilaimu berapa? Rankingmu berapa?’ kepada anak-anak kita. Tanyakanlah bagaimana shalatnya, bagaimana ucapan dan adabnya, serta kebaikan apa yang sudah dia lakukan hari ini,” tutur Prof. Rofi’uddin.
Ia menekankan pentingnya menciptakan ekosistem rumah yang “ramah tilawah” dan memberikan teladan nyata. Di akhir sambutannya, Prof. Rofi’uddin melontarkan sebuah kalimat penutup yang segar namun menohok bagi dunia pendidikan modern saat ini. “Jangan sampai tajwidnya anak-anak kita bagus sekali, tetapi adabnya buffering alias buruk. Akademik itu memang penting, tetapi akademik harus selalu dipimpin oleh iman dan adab,” pungkasnya. (*)





