Bahasa bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah rumah bahkan aroma dapur yang menempel di baju. Bahkan bahasa adalah suara ibu yang memanggil menjelang magrib ketika dunia perlahan berganti waktu. Karena itu, ketika bahasa Jawa Timur khususnya dialek Surabaya dan Malang mengudara di Jakarta melalui film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, yang sedang tayang di ibukota, sesungguhnya bukanlah suatu distribusi film, melainkan destinasi sebuah kebudayaan yang sedang menyeberangi batas geografisnya.
Malam itu, saya dan istri duduk di kursi bioskop setelah seharian menyerahkan tenaga kepada rutinitas yang tak pernah benar-benar selesai. Jakarta, boleh jadi dalam pengamatan yang tidak sepenuhnya tepat, telah menjelma pusat orbit bahasa Indonesia.
Dari sinilah suara nasional diproduksi dan disebarkan. Televisi, iklan, hingga film secara perlahan membentuk keyakinan tentang bagaimana bahasa yang “benar” seharusnya terdengar. Sementara itu, segala yang datang dari daerah kerap dituntut menempuh perjalanan panjang sebelum memperoleh pengakuan di panggung nasional.
Tetapi Sekawan Limo 2 tampaknya memahami satu hal: identitas tidak perlu meminta restu untuk hadir. Film ini tidak datang ke Jakarta dengan bahasa yang telah disetrika agar tampak rapi di hadapan pasar nasional.

Ia datang dengan dialek Surabaya dan Malang yang utuh, dengan seluruh spontanitas, kelakar, dan irama hidup yang dikandungnya. Subtitle bahasa Indonesia hanya berperan sebagai penerjemah bagi mereka yang berada di luar lingkar kebudayaan itu.
Dan di situlah letak keistimewaannya. Ketika sebuah karya tetap setia pada akar budayanya, penonton justru tidak merasa dijauhkan, melainkan diajak masuk ke dalam dunia yang sebelumnya asing bagi mereka.
Kesediaan penonton untuk memasuki ruang bahasa yang berbeda menandai perubahan penting. Publik hari ini tidak lagi mencari keseragaman. Mereka mencari keaslian. Di tengah banjir konten yang seragam, sesuatu yang lokal justru terasa segar.
Bahasa daerah yang dulu dianggap penghalang pasar kini berubah menjadi nilai jual. Dan bukankah itu mengingatkan kita pada sesuatu yang mendasar tentang Indonesia? Bahwa negeri ini tidak pernah dibangun oleh satu bahasa kebudayaan yang tunggal. Indonesia adalah ruang pertemuan ribuan lidah, ribuan logat, dan ribuan cara penyebutan.
Dalam data yang lain, pada hari pertama penayangannya, film ini meraih lebih dari 212 ribu penonton dan kemudian melampaui satu juta penonton hanya dalam waktu singkat. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar nasional ternyata tidak alergi terhadap bahasa daerah.
Tapi saya tak melihat dari berhasil atau tidaknya film Sekawan Limo 2. Film ini menjadi bukti bahwa identitas lokal tidak harus dikorbankan demi memperoleh penonton nasional. Bahkan sebaliknya, identitas lokal dapat menjadi magnet utama.
Saya teringat pada Preman Pensiun. Serial favorit saya yang tidak pernah berusaha menyembunyikan kesundaannya. Namun justru karena itulah ia diterima oleh penonton dari berbagai daerah. Barangkali publik tidak sedang mencari sesuatu yang sama dengan dirinya. Mereka sedang mencari sesuatu yang jujur menjadi dirinya sendiri.
Bahasa Surabaya dan Malang tidak hadir untuk menggusur siapa pun. Ia datang sebagai tamu yang akhirnya dipersilakan masuk ke ruang percakapan nasional. Selama ini ruang itu terlalu lama diisi oleh bunyi yang serupa.
Maka ketika penonton Jakarta tertawa pada lelucon yang diterjemahkan, yang sedang terjadi sesungguhnya adalah sebuah peristiwa saling mendekat. Sebuah kesediaan untuk melihat dunia dari jendela yang berbeda dan mendengar kenyataan dengan telinga yang lain.
Barangkali pasar tidak selalu mencari sesuatu yang dapat diterima oleh semua orang sekaligus. Ada kalanya yang dicari justru sesuatu yang lahir dari tanah tertentu dan tumbuh dari pengalaman tertentu. Ketika segala sesuatu berlomba menjadi serupa, yang berbeda justru memancarkan daya tariknya sendiri.
Maka saat bahasa Surabaya dan Malang bergema di Jakarta melalui Sekawan Limo 2, yang kita saksikan bukan hanya perjalanan sebuah film menuju penontonnya. Kita sedang menyaksikan perjalanan sebuah identitas menuju ruang dengar yang lebih luas. Sebuah daerah berbicara dengan suaranya sendiri, dan ibukota, untuk sesaat, memilih menjadi pendengar.
Ketika layar perlahan gelap dan kredit penutup mulai berjalan, yang tertinggal dalam ingatan saya bukan hanya ceritanya, melainkan kehadiran dialek Surabaya dan Malang yang lugas dan apa adanya—sebuah kesegaran di tengah tata bahasa yang serba tertib dan formal di ibukota.





