MOJOKERTO, IDEAJATIM ID – Fase krusial pemulangan jemaah haji gelombang kedua ke Tanah Air kembali menorehkan cerita tentang kedisiplinan dan keharuan. Salah satu rombongan yang telah tiba dengan selamat adalah jemaah haji Kloter 64 Debarkasi Surabaya (SUB) asal Kabupaten Mojokerto. Di balik kelancaran prosesi ini, ada kerja keras lintas sektoral yang memastikan para tamu Allah kembali ke pelukan keluarga dengan aman.
Menjaga Isi Koper, Menyempurnakan Ibadah
Pekerjaan rumah terbesar dalam setiap fase pemulangan adalah manajemen logistik dan barang bawaan. Bergerak cepat sejak di Madinah, Petugas Haji Kloter langsung mengumpulkan Ketua Rombongan (Karom) dan Ketua Regu (Karu) untuk menyosialisasikan aturan ketat maskapai.
Dua hari sebelum jadwal terbang, konsolidasi koper besar dengan batas maksimal 32 kilogram mulai ditimbang dan dikirim lebih awal ke bandara untuk melewati pemindaian (screening). Edukasi intensif dilakukan agar jemaah tidak menyelundupkan air zam-zam ke dalam koper demi menghindari risiko pembongkaran paksa oleh otoritas penerbangan.
Ketegasan logistik ini berbanding lurus dengan kekhusyukan ibadah. Jemaah Kloter 64 SUB tahun ini berhasil menyempurnakan ibadah Arbain—salat berjamaah sebanyak 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi. Sebelum beranjak meninggalkan kota suci, jemaah menyempatkan diri untuk sowan ke makam Rasulullah SAW untuk melakukan ziarah wada’ (perpisahan).
Disiplin Bandara dan Identitas Biru Nusantara
Meski jarak hotel di Madinah menuju bandara relatif dekat, manajemen mengantisipasi potensi kepadatan di imigrasi dengan pergerakan dini. Jemaah sudah diberangkatkan dari hotel sejak pukul 06.00 waktu setempat, meski burung besi baru dijadwalkan mengudara pukul 11.30.
Selain itu, aspek biosekuriti dan pendataan imigrasi di era digital diperketat. Seluruh jemaah diwajibkan mengisi formulir kedatangan elektronik sebelum mendarat.
Ada pemandangan menarik yang disuguhkan jemaah dalam perjalanan pulang ini. Sebagai perwujudan jiwa persatuan dan identitas bangsa, mereka tampak kompak mengenakan seragam batik nasional berwarna biru. Sepanjang perjalanan, dedikasi petugas haji diuji dan terbukti; pengawalan melekat terus diberikan tanpa henti, terutama bagi jemaah risiko tinggi (risti) dan lanjut usia (lansia).
Penantian yang Memuncak di Mojokerto
Pesawat yang membawa rombongan mendarat mulus di Bandara Internasional Juanda pada pukul 06.15 WIB. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, jemaah langsung dijemput oleh bus khusus di apron menuju Asrama Haji Sukolilo untuk kliring administrasi cepat.
Puncak keharuan pecah di Pendopo Kabupaten Mojokerto. Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Bupati Mojokerto, Muhammad Albarra, bersama jajaran forkopimda dan ribuan keluarga jemaah yang telah menyemut sejak fajar.
Keberhasilan penyelenggaraan tahun ini menorehkan catatan positif. Perwakilan jemaah Kloter 64 SUB tanpa ragu memberikan nilai kepuasan mutlak 10/10 atas kualitas pelayanan para petugas di lapangan.
Acara penyambutan resmi yang emosional tersebut ditutup dengan doa khidmat yang dipimpin oleh salah satu jemaah dari KBIHU As Syarif, H. M. A. Rofiq, Lc., M.E.
Setelah prosesi formal usai, satu per satu jemaah diserahkan kepada keluarga. Bersamaan dengan itu, pembagian koper dan hak 5 liter air zam-zam per jemaah dibagikan secara tertib oleh panitia. Rasa syukur dan ucapan terima kasih mendalam mengalir dari jemaah kepada Pemerintah Pusat, Kementerian Agama, serta Pemkab Mojokerto yang dinilai sukses menjaga amanah dalam meningkatkan pelayanan haji Indonesia.




