IDEAJATIM.ID, MALANG – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), SD Insan Amanah Kota Malang justru mengajak siswa belajar menjaga bumi melalui teknologi. Sekolah berstatus Adiwiyata Mandiri itu menggelar Pelatihan Smart Eco-Hub di Malang Creative Center (MCC), Kamis (10/6), yang diikuti 100 peserta dari 45 sekolah.
Program tersebut menjadi langkah baru dalam pendidikan lingkungan hidup dengan menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan panel surya sebagai media pembelajaran kontekstual bagi siswa.
Kepala SD Insan Amanah, Dr. Suhardini Nurhayati, S.Pd., M.Pd., mengatakan Smart Eco-Hub lahir dari program pendanaan Indonesia FOLU net sink 2030 yang mendorong lahirnya inovasi baru di bidang pelestarian lingkungan.
“Kami tidak ingin hanya mengulang isu lingkungan yang sudah ada. Karena SD Insan Amanah sejak 2015 konsisten mengembangkan teknologi, maka kami mengintegrasikan AI, IoT, dan energi terbarukan untuk membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan energi listrik menjadi salah satu penyumbang emisi karbon yang cukup besar. Karena itu, pemanfaatan energi matahari melalui panel surya perlu dikenalkan kepada siswa agar mereka memahami pentingnya energi bersih di masa depan.

Dalam pelatihan tersebut, setiap peserta memperoleh Solar Card Control Kit yang berisi panel surya, baterai, modul charger, kipas, dan lampu LED. Melalui praktik langsung, para siswa merakit sendiri perangkat tersebut hingga mampu menghasilkan listrik untuk menyalakan kipas maupun lampu.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi membuktikan sendiri bagaimana energi matahari bisa diubah menjadi listrik. Pembelajaran seperti ini jauh lebih membekas,” jelas Dini.
Dini juga menjelaskan, melalui pelatihan Smart Eco-Hub, SD Insan Amanah menunjukkan bahwa pendidikan masa depan bukan hanya mengajarkan kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk generasi yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Ke depan, kami juga menggandeng Institut Teknologi Nasional (ITN) untuk memperkuat pendampingan dan menargetkan lahirnya lima produk ramah lingkungan berbasis teknologi. Karena ITN sendiri merupakan satu-satu universtas yang mendapat pendanaan secara langsung dari Jerman untuk tenaga Surya,” tegas Dini.
Penggiat lingkungan sekaligus Ketua Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) Malang Raya, Sulaiman Sulang, S.S., M.A.P., mengapresiasi inovasi tersebut. Menurutnya, pelatihan Smart Eco-Hub menjadi yang pertama di Kota Malang yang menggabungkan edukasi lingkungan dengan teknologi AI dan IoT.
“Ini sangat luar biasa. Anak-anak SD sudah dikenalkan bagaimana teknologi dapat menjadi solusi bagi persoalan lingkungan. Harapannya, model seperti ini bisa diterapkan di banyak sekolah sehingga lahir generasi yang melek teknologi sekaligus peduli terhadap bumi,” katanya.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana, S.E., M.M.. Ia mengungkapkan SD Insan Amanah berhasil lolos sebagai salah satu dari 200 sekolah di Indonesia penerima program bantuan lingkungan hasil kerja sama Kementerian Kehutanan RI dan Pemerintah Norwegia, setelah bersaing dengan lebih dari 3.000 proposal.
“Keberhasilan ini membuktikan bahwa inovasi pendidikan di Kota Malang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Yang lebih membanggakan, ilmu ini tidak disimpan sendiri, tetapi dibagikan kepada sekolah-sekolah lain melalui kolaborasi,” ujarnya. (*)





