SD Anak Saleh Fokus Tiga Pilar Kelulusan

IDEA JATIM, MALANG – ​SD Anak Saleh kembali menghasilkan karya nyata. Berupa generasi unggul. Lulusan kelas 6 Tahun Ajaran 2025-2026. Sabtu kemarin, mereka diwisuda. Di Hotel Atria. Heboh. Meriah. Sekaligus bikin haru.

​Kepala Sekolahnya muda. Namanya Ustadz Andreas Setiyono, S.Pd., Gr., M.Kom. Cara berpikirnya modern.
​Saat diwawancarai, Ustadz Andre tidak sibuk memamerkan nilai ujian nasional. Jaman sudah berubah. Beliau justru membagi capaian siswanya ke dalam tiga pilar: keislaman, akademik, dan non-akademik.

​Pilar pertama jelas: keislaman. Ini menu utama di SD Anak Saleh. Hasilnya konkret. Ada 49 anak lulus mengaji metode Bil Qolam. Mereka dapat syahadah. Langsung dari Pesantren Ilmu Qur’an (PIQ). ​”Syahadah dari PIQ ini bener-bener terpakai,” kata Ustadz Andre. Nilai jualnya tinggi saat anak-anak mendaftar ke jenjang sekolah lanjutan.

​Lalu ada program tahfidz. Ini diuji oleh tim internal sekolah. Hasilnya? Sebanyak 9 anak dapat predikat Jayyid Jiddan. Dan 10 anak meraih Mumtaz. Istimewa!

​Pilar kedua dan ketiga: akademik dan non-akademik. Sekolah mengganjar mereka dengan lebih dari 45 penghargaan. Mulai dari hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) sampai proyek kreasi mandiri siswa.

​Ada satu yang menarik perhatian saya: predikat Murid Teladan.

​Kategorinya ada tiga. Teladan keislaman, teladan akademik, dan teladan karakter.

​Cara menilainya? Ini yang luar biasa. Rahasia. Dan lama. Tidak bisa disulap dalam semalam. Guru mengamati rekam jejak siswa selama tiga tahun penuh. Sejak kelas 4 sampai kelas 6.
​”Kelas 1 sampai 3 itu masa warming up. Pemanasan,” tegas Ustadz Andre. Baru di kelas 4, semua indikator penilaian dimasukkan. Puncaknya di kelas 6. Adil.

​Lalu, seperti apa sebetulnya anak-anak Gen Alfa di angkatan “Kreasi 16” ini?

​Guru kelas 6 merangkumnya dalam tiga kata: kreatif, humble (rendah hati), dan friendly (ramah).

​Itu bukan jargon di atas kertas. Praktiknya nyata. Di angkatan ini, ada 5 anak berkebutuhan khusus. Hebatnya, siswa-siswi di angkatan ini mampu merangkul, menyayangi, dan membaur dengan mereka tanpa jarak. Sangat inklusif.

​Tapi mendidik Gen Alfa di era digital tentu tidak mudah. Ustaz Andre tahu itu. Kuncinya ada pada “Panca Karakter”. Itu harus jadi ruh pendidikan.

​Bagi Ustadz Andre, nilai rapor 90 atau 100 tidak ada gunanya jika sikap anak buruk.

​”Buat apa nilai bagus tapi tidak berkarakter?” tanyanya retoris.

​Maka, sekolah ini menganut filosofi dari founding father-nya, Prof. Dr. H. Imron Arifin. Bahwa yang dididik adalah tiga hal: zikirnya anak, fikirnya anak, dan fi’ilnya anak. Pikiran, hati, dan tingkah laku. Harus menyatu.

​Tantangan terbesar guru jaman sekarang justru ada di luar sekolah. Di masyarakat dan di rumah.

​Di sekolah, lingkungan sudah di-setting rapi. Mana yang boleh, mana yang tidak. Tapi begitu di rumah? Kalau orang tua bekerja, pengawasan bisa kendor. Anak tidak salat atau tidak mengaji, kadang diberi dispensasi.

​Maka Ustadz Andre menawarkan solusi: sinergi segitiga emas. Sekolah, rumah, dan masyarakat harus seirama.
​”Jangan anggap ini beban. Kita ubah tantangan ini menjadi peluang. Kolaborasi,” pungkasnya optimis.

​Melihat wisuda kemarin, rasanya masa depan anak-anak kita aman di tangan guru-guru yang paham esensi pendidikan seperti ini. Di SD Anak Saleh. Sukses dunia, sukses akhirat. Amin. (*)

- Advertisement - SPMB

Berita Terkini

Kepercayaan Masyarakat Meningkat, MI Almaarif 02 Singosari Lepas 78 Lulusan Angkatan Istimewa

IDEAJATIM.ID, MALANG – Sebanyak 78 siswa kelas VI MI...

Kemasan Budaya di Purnawiyata SDK Kosayu 3: Menggugah Karakter “Generasi Juara” Lewat Pesona Nusantara

IDEA JATIM, ​MALANG – Ratusan pasang mata menyaksikan momentum...

Lulusan Unggul, SDK Kosayu 3 Malang Kedepankan Nilai ‘Saleh Terpelajar’

IDEA JATIM, ​MALANG – Kepala Sekolah Dasar Katolik (SDK)...
spot_img
Berita Terkait