Oleh: Cherry Salmaliana Lucky, S.Pd.
Guru SD Islam Sabilillah Malang 1
Di tengah perkembangan pendidikan saat ini, pembelajaran semakin diarahkan pada penguatan kemampuan 4C’s (critical thinking, creativity, collaboration, dan communication). Siswa didorong untuk aktif mencari tahu, berpikir kritis, serta membangun pemahamannya sendiri melalui pendekatan yang lebih berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Namun, di tengah semangat pembelajaran modern tersebut, ada satu pertanyaan yang menarik untuk dipikirkan kembali: apakah metode pengulangan (drilling) masih relevan bagi siswa sekolah dasar?
Bagi sebagian orang, drilling sering kali dipandang sebagai metode pembelajaran lama yang identik dengan hafalan, monoton, dan terlalu berpusat pada guru. Padahal, khususnya pada siswa sekolah dasar, pengulangan masih memiliki peran penting dalam membangun pemahaman. Tentu bukan pengulangan yang sekadar menghafal tanpa makna, melainkan pengulangan yang membantu siswa menjadi semakin akrab dengan konsep yang sedang dipelajari.
Dalam pengalaman mengajar, kebutuhan akan pengulangan cukup terlihat, terutama ketika siswa berhadapan dengan kosakata atau konsep baru. Hal ini juga saya temui saat menggunakan kurikulum Cambridge, di mana siswa terbiasa menemukan banyak istilah berbahasa Inggris yang sebelumnya masih asing bagi mereka. Sebelum memahami suatu materi secara utuh, siswa sering kali perlu terlebih dahulu merasa familiar terhadap kosakata yang digunakan. Mereka perlu mendengar, membaca, menulis, bahkan mengucapkan istilah tersebut secara berulang agar tidak lagi merasa asing.
Salah satu pengalaman yang cukup terlihat terjadi pada pembelajaran Science, khususnya materi Phases of the Moon. Pengetahuan awal siswa tentang fase bulan sangat beragam. Ada yang hanya mengetahui satu atau dua bentuk bulan, ada pula yang belum pernah mendengar bahwa bulan memiliki delapan fase berbeda.
Pada tahap awal pembelajaran, siswa perlu mengenali nama dan bentuk setiap fase bulan terlebih dahulu. Sebab, akan cukup sulit bagi siswa memahami alasan mengapa bentuk bulan terlihat berubah jika mereka sendiri belum familiar dengan fase-fase tersebut. Di titik inilah pengulangan menjadi bagian penting dalam proses belajar. Pengulangan membantu siswa membangun dasar pemahaman sebelum melangkah ke konsep yang lebih kompleks.
Namun, pengulangan saja ternyata belum cukup. Pengalaman di kelas menunjukkan bahwa siswa lebih mudah memahami ketika pembelajaran didukung oleh media konkret. Dalam materi fase bulan, misalnya, pembelajaran dilakukan menggunakan lampu sebagai matahari, bola kecil sebagai bulan, dan siswa sendiri berperan sebagai bumi. Saat siswa bergerak memutar sambil mengamati cahaya yang mengenai bola, mereka mulai memahami bahwa bulan sebenarnya tidak berubah bentuk. Perubahan yang terlihat terjadi karena bagian bulan yang terkena pantulan cahaya matahari tampak berbeda dari posisi bumi.
Menariknya, meskipun pengulangan telah dilakukan beberapa kali, siswa belum tentu langsung hafal atau memahami sepenuhnya. Dari sini saya belajar bahwa guru tidak cukup hanya mengulang materi, tetapi juga perlu mencari strategi pengulangan yang lebih bermakna. Pengulangan dapat dikombinasikan dengan visual, praktik langsung, pertanyaan singkat, maupun pengecekan pemahaman pada jeda-jeda tertentu selama pembelajaran.
Di sisi lain, drilling yang dilakukan secara monoton tentu memiliki kelemahan. Pengulangan yang sama terus-menerus dapat membuat siswa bosan, terutama bagi anak yang lebih cepat memahami materi. Sebagian siswa juga membutuhkan pendekatan belajar berbeda agar konsep dapat dipahami dengan lebih baik.
Karena itu, mungkin yang perlu diperbarui bukan keberadaan drilling dalam pembelajaran, melainkan cara kita menggunakannya. Bagi siswa sekolah dasar, memahami tidak selalu terjadi dalam satu kali penjelasan. Kadang mereka perlu mendengar, melihat, mencoba, lalu mengulang sebelum benar-benar memahami suatu konsep.




