IDEA JATIM, MALANG – HEBOH. Riuh. Dan panggung itu mendadak gemerlap. Jumat siang lalu, TK Islam Sabilillah Malang 1 (TKIS-1) punya gawe besar: Annual Art Celebration.
Temanya magis: Little Stars of Arabia.
Ada 79 anak Kelompok A naik panggung. Mereka menari. Mereka beratraksi. Penuh percaya diri. Hebatnya, pentas megah ini bukan untuk kesombongan. Ini hadiah. Kado perpisahan dari adik-adik kelas A untuk kakak-kakak kelas B yang mau lulus ke SD.
Kepala Sekolahnya, Kurnia Islamiyah, S.Pd., M.Pd., punya filosofi dalam. Bukan kaleng-kaleng. ”Anak-anak ini bintang bagi kami, para guru,” ujar Bu Nia—panggilan akrabnya.
Kenapa harus langit Arab?
”Langit Arab itu luas. Penuh misteri. Penuh tantangan,” tambahnya. “Di sana, bintang-bintang berkilau dengan cahayanya sendiri-sendiri. Kami tidak mau menyeragamkan anak. Kami mau mereka memancarkan sinar uniknya di dunia luar nanti.”
Saya tertegun mendengar filosofi itu. Modern sekali.
Di sekolah ini, seni bukan cuma soal tepuk tangan. Di balik kostum Arab yang indah itu, ada latihan berbulan-bulan. Anak-anak belajar kerja sama. Belajar kompak. Belajar rapi.
”Kami ajarkan, pintar dan berbakat saja tidak cukup,” tegas Bu Nia lagi. “Yang paling penting itu karakter. Cinta sesama, saling menolong. Pemenang sejati di dunia ini adalah mereka yang berhati baik.”
Sederhana, tapi jleb.
Acara ini sukses karena satu hal: kolaborasi. Gurunya telaten melatih. Orang tuanya super-kompak menyiapkan kostum. Klop.
Suasana acara juga berlangsung haru. Di sela kegiatan pentas, ada pelepasan Kelompok B. Acara ditutup dengan pembagian rapor setahun terakhir. Tuntas.
TK Islam Sabilillah Malang 1 sudah memberi contoh. Belajar itu tidak melulu di dalam kelas. Lewat panggung ini, mereka sukses mencetak anak yang berani, kreatif, dan berhati mulia.
Setiap anak adalah bintang. Dan hari itu, langit Malang menyaksikan kilau mereka. (*)



