Pelari Zombie

Layaknya sesosok Zombie yang terlihat hidup, namun tak bernyawa, Pelari Zombie akan merasa dirinya tak jauh dari itu. Ia masih tetap berlari, tapi tidak ada kenikmatan di dalamnya. Alasannya untuk berlari sudah mulai luntur dan menghilang. Tergantikan tekanan-tekanan dari luar, ataupun dari pikirannya sendiri.

Banyak pelari mengawali langkahnya tidak untuk menjadi juara. Berat badan sering menjadi alasan utama, selain alasan lain seperti untuk sehat atau sekadar mencari aktifitas olahraga baru. Namun, niat awal itu perlahan akan samar saat bertemu dengan hal lain, yakni target waktu.

Pace, mileage, dan target yang terus bertambah, membuat kesenangan lari menjadi jadwal harian yang tak kalah melelahkan dari pekerjaan. Bukan lagi menjadi hal yang sering ditunggu, tapi seringnya malah membuat menggerutu.

Pelari

Media sosial dan komunitas lari memang menjadi dua ruang paling berpengaruh. Keduanya menyuguhkan catatan catatan waktu orang lain yang sangat memukau. Tapi seringnya lupa, catatan waktu tersebut diraih dengan proses yang sangat panjang.

Hasil orang lain akhirnya memicu cara kita berolahraga. Setiap sesi harus ada tujuannya. Setiap latihan harus ada peningkatan yang didapat. Dan setiap race harus ada catatan waktu terbaik untuk ditunjukkan pada dunia. Tidak ada lagi ruang untuk menikmati lari.

Ikut race bukan lagi karena ingin menikmati euforia. Ikut race berubah supaya tidak ‘tertinggal’ dengan teman-teman di komunitas lari. Saat yang lain mendaftar, kita ikut mendaftar. Lari yang seharusnya merupakan urusan pribadi, menjadi kewajiban sosial.

Tapi jika memang target pace, target mileage, dan target personal best (PB) itu membuatmu bahagia, berarti itu memang jalan bahagiamu.

Pelari

Olahraga yang bertujuan untuk melepaskan hormon endorfin, harusnya menjadi hal yang menyenangkan, hal yang menghilangkan stres. Jangan sampai menjadi kegiatan baru yang malah menumpuk stres.

Ada masanya, saat menyelesaikan 5 kilometer tanpa berhenti sudah hal luar biasa. Kini, rasanya biasa saja.

Dulu, garis finish menjadi titik untuk bersyukur. Kini, garis itu menjadi titik awal untuk evaluasi untuk program selanjutnya.

Tapi kabar baiknya, kita tidak perlu melakukan hal-hal tersebut. Yang kita butuh bukan program latihan baru, bukan slot race baru, atau bahkan bukan outfit baru. Yang kita butuhkan kadang hanya mengingat kembali alasan sederhana kenapa kita dulu mulai berlari.

Dan semoga, Pelari Zombie itu adalah kita dulu, bukan yang sekarang. Atau mungkin kita masih butuh waktu untuk merasakan sejenak, lari yang kita lakukan saat ini, masih sama menyenangkan seperti awal kita mulai melangkah, atau sudah berubah menjadi standart orang lain.

- Advertisement - SPMB

Berita Terkini

UNISMA Lebarkan Sayap Internasional di Inggris, Gandeng Al Kauthar Academy dan PCINU UK

IDEA JATIM, INGGRIS – Universitas Islam Malang (UNISMA) terus...

Perkuat Jejaring Global, UNISMA Gandeng Minhaj Welfare Foundation Inggris demi Kontribusi Nyata

IDEA JATIM, INGGRIS – Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali...

Bawa Konsep “Pulau Cerdas” ke Panggung Dunia, Mahasiswa FT UB Raih Juara di Malaysia

IDEA JATIM, ​KUALA LUMPUR – Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img