IDEA JATIM, MALANG – Menakhodai program tahfidz di tengah padatnya kurikulum sekolah tentu bukan tanpa hambatan. Di Sekolah Sabilillah, para siswa dituntut untuk tangguh secara akademik sekaligus konsisten menjaga hafalan Alquran mereka.
Kabag Kurikulum LPI Sabilillah, Fatimatus Syifa’, S.Pd., M.Pd, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi anak-anak adalah manajemen waktu. Siswa harus pandai membagi fokus di antara tumpukan tugas sekolah dan target hafalan.
”Anak-anak harus pandai membagi waktu. Mereka harus menderes atau membaca berulang-ulang, menambah hafalan baru secara mandiri, hingga meluangkan waktu untuk menyetorkannya kepada guru pembimbing,” ujarnya saat menjelaskan beratnya perjuangan para siswa.
Ia juga menambahkan bahwa konsistensi adalah kunci. Menurutnya, anak-anak wajib menjaga konsistensi murajaah agar hafalan yang sudah dimiliki tidak pudar begitu saja di tengah kesibukan.
Menariknya, Sekolah Sabilillah menetapkan aturan yang sangat tegas. Pihak sekolah tidak memberikan dispensasi atau perlakuan istimewa bagi anak tahfidz dalam hal akademik. Mereka tetap wajib mengikuti seluruh aktivitas sekolah secara penuh, mulai dari pelajaran reguler, ujian bahasa asing, hingga kompetisi seperti olimpiade.
Untuk menyiasati padatnya jadwal, keberadaan Ma’had atau asrama di jenjang SMA diakui sangat membantu. Fasilitas ini menyediakan waktu khusus selepas Magrib agar siswa bisa fokus menghafal. Namun, kualitas siswa SMP yang tidak berasrama pun terbukti tidak kalah saing karena banyak di antara mereka yang mampu menuntaskan hingga 4 juz.
”Hal ini membuktikan bahwa kunci utama keberhasilan tahfidz terletak pada tingginya motivasi internal siswa. Salah satunya dibuktikan oleh seorang siswa SMA yang memulai dari nol namun berhasil menghafal hingga 5 juz karena sifatnya yang tawadhu, tekun dan pintar memanfaatkan waktu,” jelas Syifa, sapaan akrabnya.
Dalam pelaksanaannya, Sekolah Sabilillah mengukur keberhasilan program Alquran melalui dua indikator utama. Pertama adalah kelulusan tashih yang tepat waktu dengan target yang dirancang secara bertahap. Indikator kedua adalah implementasi nilai-nilai Alquran.
Pada program terjemah, siswa tidak sekadar diajari mengartikan kata per kata, melainkan didorong untuk memahami maknanya secara mendalam agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai generasi Qurani.
Menatap tahun ajaran baru, Sekolah Sabilillah kini bersiap melakukan pengembangan yang berfokus pada revitalisasi program tahfidz. Sekolah ingin mengubah paradigma menghafal agar menjadi hal yang dirindukan oleh siswa.
”Kami ingin mengemas program menghafal ini menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan, bahkan menjadi hobi dan impian bagi setiap siswa, bukan sebuah beban,” tegas Syifa.
Melalui sinergi yang kuat bersama orang tua, LPI Sabilillah optimis dapat menanamkan kesadaran mulia pada diri anak-anak. Sekolah ingin menanamkan keyakinan bahwa menghafal Alquran adalah bentuk bakti tertinggi untuk menghadiahkan mahkota kemuliaan bagi orang tua mereka di akhirat kelak. (*)





