Ketua YHBS di Seminar Ma Chung: Pusat Inovasi Itu Manusia, Bukan Mesin!

Ideajatim.id, Malang – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melaju sangat cepat. Namun, secanggih apa pun teknologi yang lahir, manusia tetap menjadi penentu utama arah pemanfaatannya.

​Hal itu ditegaskan oleh Ketua Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera (YHBS), Guntur Gunawan, dalam Seminar Nasional di Balai Pertiwi Universitas Ma Chung, Rabu (8/7/2026). Seminar tahun ini mengusung tema “Empowering National Informatics through Human-Centered Digital Intelligence”.

​Menurut Guntur, lompatan teknologi AI saat ini terjadi dalam hitungan jam. AI telah mengubah cara kerja, belajar, hingga cara manusia mengambil keputusan. Meski begitu, ia mengingatkan agar manusia tidak kehilangan kendali.

​”Apakah teknologi yang semakin pintar otomatis membuat manusia menjadi lebih bijaksana? Jawabannya saya kira adalah belum tentu. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah penggunaannya tetap adalah manusia,” ujar Guntur di hadapan ratusan peserta.

​Guntur, yang telah mengunjungi lebih dari 130 negara, membandingkan mahakarya masa lalu dengan arsitektur modern. Candi purba dibangun dengan alat sederhana. Sebaliknya, pencakar langit seperti Burj Khalifa dibangun dengan teknologi mutakhir.

Baca Juga:  Cetak Talenta Digital Berstandar Dunia, Dua Prodi IT Universitas Ma Chung Raih Akreditasi Unggul

​Kedua era tersebut memiliki satu kesamaan sukses, yaitu kolaborasi manusia. Poin inilah yang menurutnya harus diadopsi oleh dunia akademik dalam menyikapi era digital.

​”Pusat dari seluruh inovasi bukanlah mesin, melainkan manusia. AI bukan untuk menggantikan nilai-nilai kemanusiaan, melainkan memperkuat kemampuan manusia dalam menciptakan solusi yang bermanfaat bagi kehidupan,” lanjutnya tajam.

​Ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar. Universitas tidak boleh hanya menjadi pabrik pencetak lulusan. Kampus harus menjadi pusat lahirnya gagasan baru dan ruang kolaborasi nyata.

​Di akhir sambutannya, Guntur memberikan peringatan keras terkait dampak buruk teknologi jika salah langkah.

​”Teknologi secanggih apa pun tidak akan menghasilkan dampak positif jika manusia kehilangan empati, etika, dan kebijaksanaan. Apabila manusia kehilangan itu, akan ruyam bagi bangsa kita,” pungkasnya.

​Melalui seminar ini, YHBS berkomitmen penuh mendukung Universitas Ma Chung guna memacu budaya riset dan inovasi. Forum ini diharapkan mampu melahirkan kerja sama riset lintas disiplin ilmu yang menjadi solusi nyata bagi persoalan bangsa.

Baca Juga:  Jelang 20 Tahun, Universitas Ma Chung Percepat Transformasi dan Siapkan Program Doktor

Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Sc menekankan pentingnya adopsi kecerdasan digital yang berpusat pada manusia (human-centered). Menurutnya, inovasi teknologi terbaik adalah inovasi yang mampu menyelesaikan problem nyata masyarakat sekaligus menjunjung tinggi etika kemanusiaan.

​Prof. Yufra menekankan pentingnya budaya dialektika ilmiah untuk memecahkan masalah ini. Ia membedah isu tersebut melalui konsep tesis, antitesis, dan sintesis.

​Secara tesis, pembangunan memang sangat membutuhkan teknologi digital agar bisa melesat cepat. Namun, antitesisnya menunjukkan dampak negatif yang nyata. Jika hanya mengandalkan teknologi, ketimpangan akan melebar. Risiko lain seperti bias algoritma dan pelanggaran privasi juga mengintai.

​Lantas, apa solusinya? Prof. Yufra menawarkan sintesis yang kuat.
​”Apa pun perkembangan teknologinya, manusia adalah sumber dari segala kemajuan,” tegasnya.

Adapun sesi pertama Seminar Nasional diisi oleh tokoh informatika terkemuka, Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A., M. Phil., M.A. Dalam paparannya yang komprehensif, Prof. Eko Indrajit menguraikan peta jalan penguatan informatika nasional. Dia menggarisbawahi bahwa kecerdasan digital harus dirancang untuk memberdayakan manusia, bukan menggantikannya. Strategi literasi digital dan adaptasi kurikulum berbasis kompetensi masa depan menjadi kunci krusial agar talenta lokal mampu memimpin pasar digital global.

Baca Juga:  Dies Natalis ke-19: Universitas Ma Chung Melesat Lampaui Target Strategis 2026

​Melengkapi perspektif teoretis tersebut, pembicara kedua yakni Andrew Wirapratama, S. Ds. membawa sudut pandang desain dan aplikasi praktis dari pengalaman pengguna (user experience). Andrew memaparkan bagaimana pendekatan desain yang berorientasi pada manusia mampu menjembatani teknologi rumit menjadi solusi digital yang inklusif, ramah pengguna, dan bernilai guna tinggi bagi berbagai lapisan masyarakat. (*)

Berita Terkini

Perluas Kolaborasi Global, UNMER Malang Mantapkan Langkah Menuju Perguruan Tinggi Berwawasan Internasional

IDEA JATIM, MALANG – Universitas Merdeka (UNMER) Malang memperkuat...

​UB Resmi Buka RAJA BRAWIJAYA 2026, Usung Orientasi Kampus Berstandar Global

IDEA JATIM, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) resmi membuka...

Bikin Sains Enggak Lagi Membosankan!, Mendikdasmen Tinjau Proyek Giga MMSC JTP Group di Batu

IDEA JATIM, BATU — Siapa bilang belajar sains cuma...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img