IDEA JATIM, BATU – Di balik seragam dinas Sat Samapta Polres Batu yang gagah, tersimpan sorot mata tajam seorang ksatria tatami. Ia adalah Bripda Paundra Rizky Iqbatullah F, sosok polisi muda yang baru saja mengharumkan nama Polres Batu setelah sukses menyabet Juara 1 Kumite Kelas -60 Kg Putra dalam ajang bergengsi Kapolda Jatim Cup 2026.
Langkah kakinya tegap saat memasuki ruang tugas, menyiratkan kedisiplinan tinggi yang tertanam sejak belia. Bagi Paundra, karate bukanlah sebuah hobi baru yang muncul setelah ia mengenakan seragam cokelat Korps Bhayangkara.
Cinta pertamanya pada olahraga beladiri asal Jepang ini sudah tumbuh sejak dirinya masih berusia 12 tahun, saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Jauh sebelum memutuskan untuk mengabdi sebagai pelayan masyarakat di institusi Polri, Paundra telah menempa fisiknya di atas matras. Transformasi dari seorang remaja penyuka beladiri menjadi seorang penegak hukum justru kian memperkaya makna filosofi karate yang ia pelajari.
Menjadi seorang anggota Polri tentu menguras energi dan waktu yang tidak sedikit. Tugas preventif dan pengamanan patroli yang melekat pada Sat Samapta menuntut kesiapan fisik maupun mental selama 24 jam. Di tengah padatnya jadwal kedinasan, banyak orang bertanya-tanya bagaimana pemuda tangguh ini menjaga porsi latihannya tetap intens.
“Kunci utamanya bagi saya adalah manajemen waktu dan skala prioritas,” ujar Bripda Paundra dengan nada tegas namun ramah.
Ia selalu memastikan seluruh tugas kedinasannya selesai dengan efisien, tanpa menyisakan pekerjaan yang terbawa ke waktu istirahat. Begitu lepas dinas, saat sebagian orang memilih bersantai untuk melepas penat, Paundra justru melangkah mantap menuju tempat latihan.
“Bagi saya, karate justru bukan beban tambahan setelah lelah berdinas, melainkan sarana recharging (mengisi ulang) energi. Latihan ini menjaga kebugaran jasmani saya agar tetap prima saat bertugas melayani masyarakat,” ungkapnya.
Perjalanannya menuju podium juara Kapolda Jatim Cup tidak dilewati dengan instan. Ada keringat, darah, dan komitmen yang diuji. Beruntung, Paundra berada di lingkungan kerja yang sangat mendukung.
Pimpinan di Polres Batu, mulai dari Kapolres hingga Kasat Samapta, memberikan kelonggaran dinas atau dispensasi khusus saat ia harus bersiap menghadapi turnamen berskala besar. Namun untuk latihan rutin harian, ia tetap profesional memanfaatkannya di luar jam kerja.
Ujian mental terbesar sempat datang sebelum kompetisi dimulai. Cedera menghantam ibu jari tangan kirinya saat sesi latihan intensif. Di tengah ancaman rasa sakit yang bisa membuyarkan konsentrasi, mental baja seorang karateka berbicara. Paundra menolak untuk tumbang secara psikologis.
“Untuk masalah mental down, alhamdulillah tidak ada. Saya berpikir, dalam olahraga beladiri kita harus selalu siap menerima risiko cedera seperti itu. Itu bagian dari perjuangan,” kenangnya tanpa beban.
Ketangguhan mental itu terbukti di atas tatami Kapolda Jatim Cup. Menghadapi lawan-lawan tangguh dari berbagai Polres dan satuan jajaran Polda Jatim, Paundra tidak gentar. Baginya, kelas Kumite -60 kg yang sangat dinamis, mengandalkan kecepatan kilat, dan taktik matang, menuntut fokus mutlak. Ia menganggap semua rival adalah lawan yang berat karena mereka telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari.
Menariknya, Paundra melihat benang merah yang sangat erat antara karate dan profesinya sebagai polisi. Baginya, kedua dunia ini adalah dua sisi dari mata uang yang sama.
“Di atas tatami, saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik melalui disiplin, kontrol diri, dan sportivitas. Di lapangan, saya menerapkan pelajaran itu untuk melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat dengan cara yang bermartabat. Prestasi di karate mungkin membawa medali, tapi aplikasi nilainya dalam tugas kepolisian itu yang membawa makna sesungguhnya,” urainya panjang lebar.
Kemampuan beladiri ini pun diakuinya sangat aplikatif dalam mendukung tugas-tugas taktis kepolisian, terutama saat menghadapi situasi darurat di lapangan yang mengancam keselamatan dirinya maupun masyarakat luas dari ancaman kejahatan.
Usai merajai kelas -60 kg di tingkat Jawa Timur, pandangan Paundra kini menatap horizon yang lebih luas. Ia tidak ingin berpuas diri. Target berikutnya telah dipasang: membawa nama Polri dan kesatuannya, Polres Batu, ke ajang yang lebih tinggi seperti Kapolri Cup, Pekan Olahraga Nasional (PON), bahkan hingga panggung internasional.
Di akhir perbincangan, jawara muda ini menitipkan pesan mendalam bagi rekan sejawatnya, khususnya generasi muda Polri yang memiliki bakat di bidang non-kedinasan.
“Seringkali kita berpikir bahwa memiliki hobi atau mengejar prestasi di luar dinas seperti olahraga, seni, atau akademik akan mengganggu tugas utama. Padahal sebaliknya, jika dikelola dengan benar, itu adalah bahan bakar untuk menjadi polisi yang lebih baik. Jadilah polisi yang tangguh dan berprestasi!” pungkasnya penuh semangat. (*)



