IDEA JATIM, MALANG – Garis finish memang tujuan akhir. Titik dimana semua lelah akan dibayar. Air mata, tawa, dan bangga akan bercampur aduk menjadi satu tanpa bisa dibendung. Namun ternyata, bagi sebagian orang, garis finish adalah titik untuk mendapatkan pujian. Bagaimana caranya, itu urusan belakangan.
Di dunia ultra trail run ataupun ultra road run, cerita pelari dengan berlaku curang untuk mencapai finish bukan lagi jadi hal yang asing. Setiap tahun ada saja. Ada yang memotong jalur, ada yang melewatkan checkpoint lalu kembali muncul mendekati finis seolah telah menempuh seluruh rute, dan ada yang menggunakan kendaraan bermotor. Medali tetap didapat. Foto di finish line tetap diunggah. Dari luar, tidak ada yang terlihat berbeda.

Yang membedakan hanya satu. Ia tahu betul apa yang sebenarnya terjadi.
Aneh memang. Berlari seyogyanya menjadi olahraga yang sejak awal mengajarkan tentang kejujuran. Tidak waktu yang bisa disalahkan, tidak ada jarak yang bisa diprotes. Yang dilawan hanya diri sendiri.
Banyak yang mengira pelari curang hanya ingin hasil terbaik. Padahal yang mereka kejar adalah pengakuan. Disebut finisher. Mendapat ucapan selamat. Mengunggah medali di media sosial. Atau sekadar tidak ingin pulang dengan status Do Not Finish (DNF).
Padahal DNF bukanlah aib.
Dalam ultra, gagal menyelesaikan lomba adalah bagian dari perjalanan. Bahkan pelari-pelari terbaik di dunia pun pernah mengalaminya. Tubuh punya batas. Cuaca bisa berubah. Cedera bisa datang tanpa izin. Tidak semua garis finish harus didapatkan.
Ironisnya, budaya yang selalu memuja kata “finisher” membuat banyak orang lupa bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil. Seolah, medali lebih berharga daripada cerita untuk mendapatkannya.
Yang dirugikan bukan hanya panitia atau pelari lain. Namun, dirinya sendiri. Ia akan membawa pulang medali, tetapi tidak akan pernah membawa kemenangan. Tidak ada cerita dan pengalaman yang bisa ia ingat. Dan, ia akan selalu merasa menjadi pecundang untuk dirinya sendiri.
Berlari itu tentang perjalanan. Tentang tanjakan yang berhasil dilewati, rasa ingin menyerah yang akhirnya ditaklukkan, dan langkah-langkah kecil yang membawa kita sampai ke tujuan. Saat semua itu diganti dengan perjalanan menggunakan kendaraan (ojek/kendaraan pribadi), yang hilang bukan hanya beberapa kilometer rute. Yang hilang adalah makna dari garis finish itu sendiri.(*)




