IDEA JATIM, THAILAND – Jauh dari Malang, tepatnya di Kota Yala, Thailand Selatan, dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menemukan pengalaman yang tak mereka bayangkan sebelumnya. Di sekolah tempat mereka mengabdi, mereka mendapati kebutuhan mendasar: belum tersusunnya kurikulum Bahasa Melayu secara sistematis untuk siswa sekolah dasar.
Temuan itu muncul setelah mereka melakukan observasi dan berdiskusi dengan pihak AsasuddenWittaya School, sekolah swasta milik komunitas Muslim yang menjadi lokasi penugasan mereka hingga akhir Agustus.
“Kami telah melakukan observasi dan berdiskusi dengan pihak sekolah mengenai kebutuhan pembelajaran di sini,” ujar Farah Ramadhani Aulia, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMM.
Dari rangkaian diskusi tersebut, pihak sekolah menekankan pentingnya perangkat pembelajaran Bahasa Melayu yang lebih terstruktur. Di wilayah Yala, Bahasa Melayu tidak hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari identitas komunitas Muslim di perbatasan Thailand–Malaysia. Karena itu, keberadaan kurikulum yang sistematis dinilai penting untuk menjaga kesinambungan bahasa sekaligus memperkuat kemampuan literasi siswa sejak usia dini. Dengan kurikulum yang lebih terarah, proses belajar diharapkan tidak hanya bergantung pada kebiasaan lisan, tetapi juga memiliki standar pembelajaran yang jelas dan berjenjang.
Berangkat dari kebutuhan itu, Farah bersama rekannya, Miftahul Ilmi dari Program Studi Manajemen, mulai menyusun kurikulum Bahasa Melayu berbasis tulisan Rumi. Materi dirancang bertahap, mulai dari pengenalan huruf, jenis kata, kata ganti, tanda baca, kalimat sederhana, hingga bacaan pendek yang disesuaikan dengan kemampuan siswa kelas 1 sekolah dasar.
Proses penyusunan tidak dilakukan secara instan. Keduanya terlebih dahulu mempelajari kebutuhan sekolah, berdiskusi dengan para guru, serta menyesuaikan materi agar mudah dipahami oleh siswa.
Upaya tersebut mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah. Salah satu guru pendamping, Salaman Samuding, mengaku terkesan dengan hasil yang disusun dalam waktu relatif singkat.
“Menurut saya, hasilnya sudah sangat bagus, Masya Allah. Terima kasih banyak atas kerja kerasnya,” ungkapnya.
Selama berada di Thailand, keduanya tidak hanya beraktivitas di ruang kelas. Mereka juga mengikuti berbagai rapat akademik, diskusi dengan guru agama, hingga musyawarah pengembangan sekolah bersama pimpinan AsasuddenWittaya School. Dari berbagai forum tersebut, mereka memperoleh gambaran lebih luas tentang bagaimana sekolah merancang sistem pembelajaran dan menentukan arah pengembangannya.
Meski tidak diperkenankan terlibat langsung sebagai pengajar, kontribusi tetap dapat diberikan melalui penyusunan perangkat pembelajaran yang nantinya digunakan oleh para guru.
“Kami berharap kurikulum Bahasa Melayu yang telah kami susun dapat menjadi referensi bagi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran secara lebih terstruktur. Kami bersyukur dapat memberikan kontribusi yang diharapkan bermanfaat bagi sekolah dan para pelajar,” kata Miftahul.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Iis Siti Aisyah, ST, MT, Ph.D., IPM., menilai pengalaman ini menjadi salah satu nilai penting dari program tersebut. Mahasiswa tidak hanya belajar beradaptasi dengan budaya dan sistem pendidikan yang berbeda, tetapi juga dilatih untuk peka terhadap kebutuhan di lingkungan pengabdian.
“Mahasiswa UMM tidak hanya memperoleh pengalaman lintas budaya dan sistem pendidikan yang berbeda, tetapi juga berkesempatan memberikan kontribusi nyata bagi sekolah mitra,” jelasnya.
Selain di AsasuddenWittaya School, mahasiswa juga ditempatkan di Phattana Islam Wittaya dan Lukmanul Hakeem School. Di saat yang sama, mahasiswa UMM lainnya turut menjalankan program serupa di sejumlah negara, seperti Malaysia dan Taiwan.
Ke depan, jaringan mitra internasional UMM diharapkan terus berkembang. Dengan semakin banyaknya institusi yang bekerja sama, peluang mahasiswa untuk belajar sekaligus mengabdi di berbagai negara pun semakin terbuka luas.




