IDEA JATIM, BATU – Kekhawatiran akan hilangnya memori kolektif generasi muda akibat gempuran budaya digital memicu sebuah gerakan heroik di lereng Gunung Arjuna. Di tengah kepungan modernitas yang kian masif, Lembaga Budaya dan Seni Kecamatan Bumiaji (LABUNI) menginisiasi sebuah gerakan budaya yang melibatkan masyarakat dari sembilan desa sekaligus untuk menghidupkan kembali tradisi yang mulai meredup.
Hebatnya, perhelatan akbar yang menyatukan energi ratusan warga ini berhasil diwujudkan hanya dalam waktu persiapan 14 hari—sebuah durasi yang terbilang mustahil bagi promotor acara modern, namun menjadi nyata lewat gotong royong yang digerakkan oleh hati.

Lahir dari kegelisahan bersama pada tahun lalu, LABUNI hadir sebagai jawaban atas berserakannya potensi budaya di Bumiaji yang selama ini berjalan tanpa wadah solid. Kecamatan ini bukan sekadar wilayah administratif, melainkan lumbung ritus dan kesenian yang kaya.
“Kegiatan ini masih perdana dari LABUNI. Alhamdulillah, dengan semangat pengurus lembaga adat budaya seni kecamatan dan desa, serta dukungan bapak-bapak kepala desa dan BPD, kegiatan ini bisa berjalan sangat bagus dan meriah,” ungkap Camat Bumiaji, Thomas Maydo, Selasa (14/7) malam.
Kemeriahan malam itu menjadi simbol kuat bahwa identitas lokal Bumiaji tidak sedang sekarat, melainkan sedang bersiap untuk bangkit kembali menantang arus globalisasi.

Langkah LABUNI tidak berhenti pada riuh tepuk tangan di atas panggung. Sadar bahwa festival tanpa dokumentasi akan menguap begitu saja, mereka langsung tancap gas memulai program krusial: pendataan budaya masif.
Setiap kesenian, ritual adat, hingga cerita tutur di pelosok Bumiaji akan diteliti dan dibukukan. Buku ini nantinya akan menjadi panduan dan warisan literasi bagi generasi mendatang agar sejarah mereka tidak bergeser menjadi mitos.
Menariknya ritual ini mengangkat keunikan tiap desa atau masing-masing desa memiliki narasi dan karakteristik budaya yang berbeda. Ini juga kepingan puzzle atau erbedaan cerita antar-desa justru menjadi daya tarik eksotis yang menyatukan wajah utuh kebudayaan Bumiaji.

Ke depan, target LABUNI sangat jelas: mendobrak batas kecamatan. Mereka berambisi membawa festival ini menjadi agenda tahunan resmi di tingkat Kota Batu, bahkan menembus kalender wisata nasional.
Selama ini, Kota Batu lebih dikenal dengan wisata buatan dan keindahan alamnya. LABUNI hadir untuk menyuntikkan warna baru berupa wisata berbasis budaya autentik.
Strateginya dirancang secara berjenjang, mulai tradisi hidup di level dusun, sibawa dan dimatangkan di tingkat desa, dirajut di tingkat kecamatan Dan siap ditampilkan secara masif di panggung kota.
Gebrakan dari Bumiaji ini sekaligus menjadi undangan terbuka sekaligus pemantik bagi kecamatan-kecamatan lain di Kota Batu untuk mulai merawat akar budaya mereka sendiri. (*)




