Mencari Arsitektur Jawa (Timur) di Antara Halaman-Halaman Asing

Ada yang ganjil ketika saya berkunjung ke perpustakaan Institut Français Indonesia (IFI), satu pusat kebudayaan dan bahasa dari Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, di Jakarta. Di luar, Jakarta bergerak seperti biasa: tergesa-gesa, berisik, dan lapar akan masa depan. Tetapi di dalam perpustakaan itu, waktu bergerak dengan cara yang berbeda. Ia berjalan pelan melalui lembaran-lembaran buku tua berbahasa Prancis.

Di tengah gedung yang bergaya modern minimalis dan menjadi rumah kebudayaan Prancis itu, saya justru menemukan Jawa. Bukan Jawa yang hiruk-pikuk oleh kemacetan dan pusat perbelanjaan, melainkan Jawa yang diam di dalam bata merah, pendopo, halaman, dan bayangan pohon sawo kecik.

Di sana saya menemukan dua buku yang seolah sedang bercakap satu sama lain. Yang pertama, Architecture Orientale karya Mario Bussagli. Yang kedua, Vivre à Java karya Peter Schoppert, Tara Sosrowardoyo, dan Soedarmadji Damais. Keduanya diterbitkan dan disimpan dalam lingkungan kebudayaan Prancis, tetapi anehnya, keduanya justru membawa saya pulang ke Jawa Timur. Barangkali beginilah cara kebudayaan bekerja. Ia tidak mengenal paspor. Ia tidak berhenti pada batas negara. Ia berjalan diam-diam melalui buku, gambar, arsip, dan percakapan.

Ketika membaca Architecture Orientale, saya merasa seolah sedang melihat Jawa Timur dari kejauhan. Buku itu memperlihatkan bagaimana para sarjana Eropa mencoba memahami Asia melalui bangunan-bangunannya. Mereka menemukan bahwa candi, rumah, dan kota-kota Asia bukan sekadar objek fisik. Di dalamnya terdapat kosmologi, agama, kekuasaan, dan cara pandang terhadap kehidupan. Bahkan melalui Architecture Orientale, sejarah arsitektur Asia ditempatkan sejajar dengan tradisi besar Eropa.

Ketika Jawa Tengah membangun Borobudur dan Prambanan dengan bahasa gunung dan batu andesit, Jawa Timur memilih bahasa yang lain. Ia memilih vertikalitas. Ia memilih gerak. Ia memilih bentuk yang lebih ramping, lebih dinamis, dan lebih dekat kepada gagasan kota serta kerajaan. Di sinilah lahir arsitektur Singhasari dan Majapahit yang kelak akan memengaruhi wajah Jawa berabad-abad kemudian.

Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singhasari bukan sekadar bangunan keagamaan. Mereka adalah pernyataan politik. Sebuah kerajaan sedang menyusun identitasnya melalui batu. Relief-reliefnya bukan hanya kisah para dewa, tetapi juga kisah tentang bagaimana kekuasaan ingin dikenang.

Di sisi lain yang lebih modern, arsitektur Jawa Timur sesungguhnya berbeda dari gambaran Jawa yang selama ini banyak dipopulerkan. Ketika orang menyebut rumah Jawa, yang muncul biasanya adalah joglo Surakarta atau Yogyakarta. Padahal Jawa Timur memiliki sejarah ruang yang jauh lebih berlapis. Ada pula jejak Islam pesisir, Madura, kolonialisme Belanda, hingga budaya perkebunan yang bertumpuk seperti lapisan tanah setelah hujan.

Barangkali karena itu arsitektur Jawa Timur saat itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak selalu bercita-cita menyentuh langit seperti katedral Gotik Eropa. Ia justru berusaha berdamai dengan bumi: dengan panas matahari, arah angin, musim hujan, dan kesuburan tanah. Atap dibuat tinggi agar udara dapat berkelana. Bukaan dibuat lebar agar cahaya masuk tanpa harus mengusir kesejukan. Pekarangan ditanami pohon agar rumah tidak terpisah dari alam. Arsitektur menjadi percakapan antara manusia dan iklim.

Di Jawa Timur, pendopo adalah contoh terbaik dari percakapan itu. Pendopo bukan ruang privat. Ia adalah ruang sosial. Tempat tamu diterima, musyawarah dilakukan, kesenian dipentaskan, dan keputusan penting dilahirkan. Pendopo adalah arsitektur yang percaya bahwa manusia tidak hidup sendirian. Bahwa rumah bukan benteng, melainkan jembatan.

Dalam lembar yang lain, melalui Vivre à Java, kolaborasi antara Peter Schoppert, Tara Sosrowardoyo, dan Soedarmadji Damais, memperlihatkan bagaimana rumah-rumah Jawa dapat dibaca sebagai karya estetika dunia. Mereka memotret rumah-rumah Malang yang memadukan kaca patri ala Frank Lloyd Wright dengan kursi rotan, ranjang kolonial, dan tata ruang tropis. Mereka mengagumi lantai biru-putih, kusen kayu, ventilasi tinggi, serta tanaman-tanaman yang memenuhi serambi rumah. Semua unsur itu tidak saling meniadakan. Mereka hidup berdampingan.

Hal yang sama terlihat pada Toko Oen di Malang. Dalam buku tersebut, Toko Oen disebut sebagai ruang yang mempertahankan atmosfer kolonialnya. Namun jika diperhatikan lebih dekat, ia sesungguhnya adalah hasil perkawinan panjang antara Eropa, Tionghoa, dan Jawa. Tidak ada identitas yang berdiri sendirian di sana. Semua saling menumpuk seperti lapisan cat pada dinding tua.

Foto-foto dalam buku itu juga memperlihatkan Hotel Oranje di Surabaya—yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit. Bagi kebanyakan orang, ia hanyalah hotel tua. Tetapi bagi sejarah Indonesia, bangunan itu adalah saksi. Di sanalah bendera Belanda pernah disobek pada September 1945. Di sana arsitektur kolonial berubah menjadi panggung kemerdekaan.

Di kota-kota pesisir Jawa Timur, Tara Sosrowardoyo pada Vivre à Java menemukan gerbang-gerbang bata merah bergaya Majapahit berdampingan dengan rumah-rumah berornamen Art Nouveau. Mereka menemukan pagar besi tempa Eropa bertemu atap genteng Nusantara. Mereka menemukan porselen Tiongkok bertengger di atas bangunan Jawa.

Karena itu, perjalanan menuju Jawa Timur kadang tidak harus dimulai dari Mojokerto, Malang, atau Surabaya. Kadang ia justru dimulai dari sebuah perpustakaan di Jakarta. Dari rak buku yang sunyi. Dari halaman-halaman yang dibuka perlahan.

Di titik inilah Institut Français Indonesia menjadi menarik. IFI bukan hanya ruang belajar bahasa Prancis atau tempat menonton film Eropa. Ia adalah ruang perjumpaan. Prancis tidak sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Ia justru membuka jendela agar masyarakat Indonesia dapat melihat kembali kebudayaannya dari sudut pandang yang berbeda.

Dan di sana, di antara buku-buku berbahasa Prancis, kita menemukan kembali suara bata merah Majapahit yang masih menyimpan angin laut, aroma tanah basah, dan ingatan panjang tentang sebuah peradaban yang belum selesai bercerita. Pada akhirnya, tanpa disadari telah menjadi jendela untuk melihat kembali rumah kita sendiri.

- Advertisement - SPMB

Berita Terkini

UM dan Pemkab Malang Perkuat 17 Sekolah Unggulan Lewat Sistem Digital

IDEA JATIM, MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) bersama...

Perempuan Kini Jadi Motor Penggerak Industri Nasional

IDEA JATIM, ​MALANG – Wajah industri Indonesia kini kian...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img