

Bahasa bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah rumah bahkan aroma dapur yang menempel di baju. Bahkan bahasa adalah suara ibu yang memanggil menjelang magrib ketika dunia perlahan berganti waktu. Karena itu, ketika bahasa Jawa Timur khususnya dialek Surabaya dan Malang mengudara di Jakarta melalui film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, yang sedang tayang di ibukota, sesungguhnya bukanlah suatu distribusi film, melainkan destinasi sebuah kebudayaan yang sedang menyeberangi batas geografisnya.
Malam itu, saya dan istri duduk di kursi bioskop setelah seharian menyerahkan tenaga kepada rutinitas yang tak pernah benar-benar selesai. Jakarta, boleh jadi dalam pengamatan yang tidak sepenuhnya tepat, telah menjelma pusat orbit bahasa Indonesia.
Dari sinilah suara nasional diproduksi dan disebarkan. Televisi, iklan, hingga film secara perlahan membentuk keyakinan tentang bagaimana bahasa yang "benar" seharusnya terdengar. Sementara itu, segala yang datang dari daerah kerap dituntut menempuh perjalanan panjang sebelum memperoleh pengakuan di panggung nasional.