IDEA JATIM, MAGELANG – Mengusung semangat refleksi kekuatan masyarakat desa yang guyup dan rukun, Festival Lima Gunung (FLG) kembali digelar untuk ke-25 kalinya. Memasuki usia perak, festival tahunan bergengsi ini pulang ke tanah kelahirannya di Desa Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Selama tiga hari berturut-turut, 10–12 Juli 2026, lebih dari 50 seniman dan komunitas seni dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul, melebur, dan tinggal bersama warga setempat.
Di antara puluhan penampil, kehadiran Huis van Roedi Lanbatih (HRL) mencuri perhatian. Menjadi satu-satunya perwakilan dari Kota Batu, Jawa Timur, HRL membawa misi khusus: membumikan kembali kesenian tradisional lewat pertunjukan bertajuk Wayang Krucil Post-Kultural.
Langkah HRL mengusung konsep post-kultural bukan tanpa alasan. Format ini sengaja dirancang untuk membuka ruang apresiasi yang lebih ramah dan terbuka bagi generasi muda. Berbeda dengan pakem klasik yang kerap dinilai berjarak dengan anak muda, pertunjukan ini memadukan bahasa yang sederhana dengan sisipan bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Prancis.
Dalang pementasan, Ade Ana Dipowikromo, mengungkapkan harapannya agar Wayang Krucil tidak lagi dipandang sebagai kesenian kuno yang asing bagi masyarakat modern.
“Kami ingin Wayang Krucil kembali dikenal luas. Peran HRL di sini adalah memberikan edukasi dan performasi yang mudah diterima oleh masyarakat awam dan anak muda. Sementara untuk fungsi seni yang bersifat ritualitas, biarlah itu tetap menjadi ranah para dalang yang lebih berkompeten,” ujar Ade Ana.
Dalam festival kali ini, tim HRL yang berkekuatan empat personel tampil solid. Selain Ade Ana di posisi dalang, naskah dan penyutradaraan digarap langsung oleh Rudi Irawanto. Pergelaran juga disokong oleh Reny Rahmawati sebagai pembantu dalang serta Vanesa Alfiantry yang cekatan mengawal aspek operasional sebagai pembantu umum.
Di panggung FLG, mereka membawakan lakon “Panji Mbarang Jantur”. Sebuah kisah klasik yang menguras emosi tentang perjalanan dan perjuangan Raden Panji Asmara Bangun dalam misi mencari sang adik tercinta, Dewi Ragil Kuning.
Kembalinya FLG ke Desa Warangan juga membawa pesan mendalam. Presiden FLG, Sutanto Mendut, mengutarakan bahwa di usia yang ke-25 ini, Festival Lima Gunung harus menjadi forum reflektif yang kuat. Festival ini bukan sekadar panggung tontonan, melainkan bukti nyata bagaimana seni mampu menyatu dengan urat nadi kehidupan masyarakat desa yang harmonis.
Hal itu dibuktikan dengan konsep unik di mana para seniman luar daerah tidak menginap di hotel, melainkan hidup dan tinggal bersama di rumah-rumah warga. Melalui kolaborasi apik antara lokalitas Magelang dan inovasi Wayang Krucil dari Kota Batu, FLG XXV sukses mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya merawat akar budaya dengan cara-cara yang relevan dengan zaman. (*)



