SURABAYA, IDEAJATIM.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perhubungan (Dishub) terus melakukan transformasi digital dalam pengelolaan terminal tipe B melalui Terminal On System (TOS). Inovasi ini dikembangkan sebagai sistem digital terintegrasi untuk meningkatkan efektivitas pelayanan di terminal, memperkuat pengawasan kendaraan angkutan umum, sert mengoptimalkan pengelolaan retribusi daerah secara transparan dan akuntabel.
TOS hadir untuk menjawab kebutuhan pengelolaan terminal yang semakin kompleks. Sebelum penerapan sistem digital, proses pendataan kendaraan, pemantauan aktivitas angkutan umum, serta pembayaran retribusi masih menghadapi berbagai keterbatasan karena dilakukan secara manual. Melalui TOS, proses tersebut diarahkan menjadi lebih terintegrasi dengan dukungan teknologi sehingga data kendaraan dan aktivitas terminal dapat dipantau secara lebih cepat dan akurat.
“Salah satu fungsi utama TOS adalah digitalisasi proses masuk kendaraan ke terminal. Sistem dapat digunakan untuk melakukan pendataan kendaraan, memantau aktivitas angkutan umum berdasarkan trayek dan jadwal, serta mendukung monitoring kepatuhan kendaraan untuk masuk dan singgah di terminal sesuai ketentuan,” terang Kepala Dishub Jawa Timur, Nyono.
Dengan demikian, TOS tidak hanya berfungsi sebagai sistem pembayaran, tetapi juga menjadi instrumen pengawasan terhadap operasional angkutan umum.
Dari sisi pendapatan daerah, TOS mendukung pembayaran retribusi pemanfaatan terminal secara non-tunai alias cashless. Digitalisasi pembayaran ini memperkuat transparansi penerimaan dan mengurangi ketergantungan pada proses pembayaran manual. Penerapan TOS juga menjadi bagian dari upaya optimalisasi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengelolaan fasilitas terminal yang lebih tertib dan terdokumentasi. Pada awal 2026, Dishub Jatim menyampaikan bahwa TOS telah diuji coba di lima terminal dan direncanakan diperluas ke seluruh terminal milik Pemprov Jatim.
“Selain mendukung penerimaan retribusi, TOS memberikan manfaat dalam proses monitoring dan evaluasi kinerja perusahaan angkutan umum,” imbuh Nyono.
Data yang tercatat dalam sistem dapat digunakan untuk melihat kepatuhan kendaraan terhadap kewajiban masuk dan singgah di terminal, sehingga proses pengawasan dapat dilakukan berdasarkan data yang lebih terukur. Hal ini sejalan dengan tujuan pengembangan TOS untuk memperkuat tata kelola terminal dan meningkatkan kualitas pelayanan transportasi.
Penerapan TOS turut mendukung terciptanya terminal yang lebih modern dan berbasis data. Adanya sistem digital memungkinkan informasi operasional tersedia lebih terstruktur sehingga dapat dimanfaatkan oleh petugas sebagai bahan monitoring, evaluasi, dan pengambilan keputusan. Integrasi layanan ini juga mendukung peningkatan kenyamanan dan keselamatan pengguna jasa transportasi melalui pengelolaan terminal yang lebih tertib.
Dari segi pelayanan, TOS memberi manfaat untuk berbagai pihak. Bagi pemerintah daerah, sistem ini memperkuat transparansi, akuntabilitas, pengawasan, dan optimalisasi PAD. Sementara, bagi perusahaan angkutan umum, proses administrasi dan pembayaran retribusi menjadi lebih mudah dan terdokumentasi. Lalu, bagi masyarakat, pengelolaan terminal yang lebih tertib diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan dan mendorong kendaraan angkutan umum beroperasi sesuai trayek serta memanfaatkan fasilitas terminal.
Pengembangan TOS mempunyai keterkaitan erat dengan upaya peningkatan kepatuhan kendaraan untuk masuk dan singgah di terminal. Sistem digital bisa menjadi instrumen pendukung untuk mengurangi praktik kendaraan yang tidak memanfaatkan terminal atau ngeblong, sekaligus memberikan data yang dapat digunakan dalam pembinaan dan pengawasan. Pemberitaan mengenai penerapan TOS di Terminal Kertajaya, misalnya, menekankan fungsi sistem dalam pemantauan kendaraan, retribusi digital, dan aktivitas terminal secara real-time.
Melalui Terminal On System (TOS), Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur tidak hanya melakukan digitalisasi pembayaran retribusi, tetapi juga membangun sistem pengelolaan terminal yang mengintegrasikan pendataan kendaraan, monitoring operasional, pengawasan kepatuhan, pembayaran retribusi, dan penyediaan data untuk evaluasi.
“Ke depan, pengembangan dan perluasan TOS di terminal-terminal milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur diharapkan semakin memperkuat transformasi digital sektor transportasi sekaligus meningkatkan kontribusi sektor perhubungan terhadap PAD,” harap Nyono.
Dengan penerapan sistem yang terintegrasi, TOS menjadi salah satu langkah strategis dalam mewujudkan terminal yang modern, transparan, efisien, berbasis data, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan transportasi masyarakat Jawa Timur. (Redaksi JatimKita)





