Jejak Islam di Tanah Majapahit, Makam Troloyo Tak Pernah Sepi Peziarah

IDEAJATIM.ID, MOJOKERTO – Di tengah jejak kejayaan Majapahit, Kompleks Makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan terus hidup sebagai magnet wisata religi yang sarat sejarah dan spiritualitas.

Bukan sekadar area pemakaman, Troloyo diyakini sebagai salah satu situs Islam tertua di era Majapahit. Nama besar Syech Jumadil Qubro menjadi daya tarik utama. Sosok yang dikenal sebagai leluhur para Wali Songo ini dipercaya memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di wilayah Trowulan.

Tak heran, makam beliau menjadi titik paling ramai dikunjungi peziarah.

“Menurut kami, beliau adalah sesepuh yang berjasa dalam syiar Islam di sini,” ujar Estian Budiarti, peziarah asal Mojokerto yang juga seorang guru sejarah, Sabtu, (18/4/2026).

Estian menyebut, Troloyo bukan hanya tempat ziarah, tetapi juga bagian dari identitas budaya lokal yang telah dikenal luas. Bahkan, pada momen tertentu seperti bulan Ramadan atau hari besar Islam, jumlah pengunjung melonjak drastis.

“Sudah sangat terkenal. Kalau ramai, parkiran sampai tidak cukup menampung,” ungkapnya.

Meski begitu, ia menyoroti perlunya peningkatan fasilitas. Menurutnya, kenyamanan peziarah menjadi faktor penting agar nilai sejarah dan spiritual tetap bisa dirasakan maksimal.

“Harapannya ada pembenahan sarana dan prasarana, supaya lebih nyaman,” tambahnya.

Daya tarik Troloyo ternyata tak hanya menjangkau warga lokal. Peziarah dari berbagai daerah di Indonesia pun datang, salah satunya Umi Napisah dari Kalimantan Selatan.

Bersama keluarganya, ia rela menempuh perjalanan panjang lintas pulau demi bisa berziarah ke situs bersejarah ini.

“Kami tahu dari keluarga. Suami juga ingin ke sini, mencari rida dan berkah. Alhamdulillah bisa sampai,” tuturnya.

Bagi Umi, perjalanan ke Troloyo bukan sekadar wisata religi, melainkan perjalanan batin.

“Ini bukan hanya soal sejarah, tapi mencari makna dan keberkahan ridho Allah SWT,” imbuhnya.

Secara historis, kawasan Troloyo memang diyakini menjadi saksi peralihan penting dari masa Hindu-Buddha Majapahit menuju berkembangnya Islam di tanah Jawa. Sejumlah tokoh yang dimakamkan di sini disebut memiliki peran dalam proses tersebut.

Perpaduan kuat antara sejarah dan spiritualitas itulah yang membuat Troloyo tak pernah kehilangan pesonanya.

Di tempat ini, waktu terasa berjalan lebih lambat. Masa lalu seakan hadir kembali, menyatu dengan doa-doa yang dipanjatkan penuh harap.

Dan selama manusia masih mencari makna kehidupan, Makam Troloyo akan selalu menjadi tempat pulang—untuk berziarah, merenung, dan menemukan ketenangan. (*)

Berita Terkini

Siswa SMPIS ‘Taklukkan’ Kelas Internasional Lewat International Exposure

IDEA JATIM, MALANG - Program International Exposure yang digagas...

Cetak Lulusan Berstandar Nasional dan Global, UNITRI Malang Wisuda 400 Sarjana & Magister Periode 51

IDEA JATIM, ​MALANG – Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang...

SPEKTA III, Seni sebagai Kawah Candradimuka Siswa SD Insan Amanah

IDEA JATIM, ​MALANG – SD Insan Amanah kembali menggebrak...

Jawa Dwipa Mangkataya: Ribuan Penonton Terkesima Aksi Paskibra di Panggung SPEKTA III SD Insan Amanah

IDEA JATIM, ​MALANG – Gemuruh tepuk tangan membahana di...
spot_img