UB Siapkan Benteng Mental Mahasiswa

IDEA JATIM, MALANG – Tekanan akademik dan perubahan gaya hidup di bangku perkuliahan kerap menjadi pemicu stres bagi mahasiswa. Namun, para ahli di Universitas Brawijaya (UB) justru menilai bahwa stres dalam dosis tertentu merupakan mesin penggerak untuk bertumbuh.

​Hal itu mengemuka dalam Webinar Series: Kampus Sehat Mental yang digelar Sabtu (25/4) lalu. Kaprodi Psikiatri Fakultas Kedokteran UB, dr. Frilya Rachma Putri, Sp.KJ., menegaskan bahwa sehat mental bukan berarti bebas dari tekanan, melainkan kemampuan untuk beradaptasi.
​”Semua orang pasti merasakan stres. Yang terpenting adalah kemampuan memahami kerentanan diri dan mengompensasi batasan yang kita miliki,” ujar dr. Frilya.

​Ia menyoroti fase transisi dari SMA ke kampus yang menuntut kemandirian tinggi. Menurutnya, kampus harus menjadi lingkungan yang suportif karena support system adalah kunci utama dalam menjaga stabilitas jiwa.
​”Kurangnya dukungan antarsesama dapat memperparah gangguan yang dimiliki individu. Seseorang disebut sehat jika ia mampu berperilaku produktif dan berkontribusi bagi sekitarnya,” imbuhnya.

​Dosen Psikologi UB, Ratri Nurwanti, M.Psi., Psikolog, memaparkan fenomena unik di Indonesia. Saat ini, pemahaman masyarakat akan kesehatan mental meningkat, namun secara statistik angka gangguan mental juga merangkak naik.

​Ratri memperkenalkan konsep eustress—stres positif yang dianggap sebagai tantangan. Melalui konsep hormesis, paparan stresor ringan justru memicu respons adaptif yang memperkuat mental manusia.
​“Terkadang dalam hidup, kita butuh sedikit stres. Ketika kita menghadapi tantangan secara adaptif, sebenarnya kita telah melewati fase pertumbuhan,” jelas Ratri.

​Komitmen UB dalam menjaga kewarasan mahasiswanya diwujudkan melalui penguatan layanan konseling. Kepala Subdirektorat Konseling, Ulifa Rahma, M.Psi., menyatakan program ini merupakan prioritas Rektor yang diwajibkan di seluruh fakultas.
​Tak hanya psikolog profesional, UB kini mengandalkan peer counselor atau konselor sebaya. “Layanan kami fokus pada positive psychology. Kami membantu pengembangan potensi agar mahasiswa mampu menangani masalahnya secara mandiri,” ungkap Ulifa.

​Menutup acara, Ketua Pelaksana Vanessa Natalie mengajak mahasiswa untuk membuang stigma negatif terhadap bantuan profesional.
​“It’s okay to get help. Jangan ragu mencari pertolongan, baik masalah itu terasa ringan maupun sedang. Sudah menjadi tugas kami untuk selalu sedia mendengarkan,” pungkasnya.
​Layanan konseling ini kini dapat diakses secara mudah, baik melalui pertemuan tatap muka maupun sistem daring di laman resmi kemahasiswaan UB. (*)

Berita Terkini

“Berani Bicara Inggris: Stop English Shaming!”

Bahasa Inggris saat ini telah menjadi keterampilan yang sangat...

Direktur Polinema Tegaskan Pentingnya Kejujuran dalam Subsidi Silang

IDEA JATIM, ​MALANG – Di tengah mencuatnya isu kenaikan...

Tembus Standar Ketat Jepang, 10 Mahasiswa Teknik Mesin UMM Magang di Daihatsu Kyushu

IDEA JATIM, ​MALANG – Industri otomotif Jepang dikenal sebagai...
spot_img
Berita Terkait