IDEA JATIM, KUALA LUMPUR – Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) kembali membuktikan taringnya di kancah internasional. Lewat gagasan visioner menyulap pulau terpencil menjadi kawasan cerdas dan mandiri energi, tim FT UB sukses menyabet Juara 3 pada ajang bergengsi 5th International Youth Summit (IYS) 2026 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia (29/5–1/6/2026).
Kompetisi dan forum global yang diinisiasi oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan Universiti Putra Malaysia (UPM) ini menjadi arena tarung ide yang sengit. Tak main-main, ajang ini diikuti oleh 465 peserta dari enam negara. Di babak final, tim UB harus bersaing ketat dengan barisan kampus elite, mulai dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Pertanian Bogor (IPB), hingga perwakilan internasional dari Malaysia dan South Sudan.
Di bawah bimbingan kolaboratif Eka Maulana, S.T., M.T., M.Eng. dan Cries Avian, S.T., M.T., Ph.D., tim FT UB yang digawangi oleh Muhammad Pandu Pradana, Aina Salsabila, Fahmy Almaliki Dwi Aditya, Irsyad Annafi Nurhikmah, dan Muhammad Nashirulloh Aryanto ini membawa karya bertajuk “KALAOTOA RISE”.
Inovasi ini merupakan sebuah cetak biru (framework) untuk mengubah Pulau Kalaotoa—sebuah pulau kecil di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan—menjadi pulau yang tangguh, terintegrasi, cerdas, dan berbasis ekologi.
”Konsep KALAOTOA RISE mengintegrasikan berbagai sumber energi terbarukan. Kami menggabungkan teknologi Oscillating Water Column (OWC) untuk memanen energi gelombang laut, kombinasi turbin angin HAWT–VAWT, serta teknologi Bio-Solar DSSC berbasis pigmen organik lokal,” ujar salah satu anggota tim, Aina Salsabila.
Hebatnya lagi, seluruh pasokan energi hijau tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. Sistem dirancang saling terhubung dalam sebuah jaringan mandiri (microgrid) yang dikendalikan oleh Smart Energy Management System (SEMS) berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT). Supaya pasokan listriknya tanpa kedip, mereka juga menyuntikkan teknologi penyimpanan canggih berupa bank baterai LiFePO₄, sistem penyimpanan hidrogen, hingga mekanisme jual-beli energi berbasis komunitas (community energy trading).
Bukan sekadar teori di atas kertas, model KALAOTOA RISE ini dirancang untuk menyelesaikan masalah riil: menyetop ketergantungan warga pulau terhadap genset diesel, memperkuat sinyal digital, mendorong pariwisata ramah lingkungan, hingga menghidupkan ekonomi pesisir.
Harapannya, prototipe konsep ini bisa direplikasi di ribuan pulau terpencil lain di seluruh Indonesia.
Bagi Aina dan timnya, kompetisi ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana anak muda harus merespons masalah di sekitarnya.
”Jangan menunggu semua data, alat, atau pendanaan menjadi sempurna untuk mulai berkarya. Mulailah dari masalah nyata di sekitar kita dan berani membangun kolaborasi lintas disiplin,” tegas Aina mantap. “Kompetisi bukan hanya tempat mencari medali, tetapi ruang untuk menguji ide, belajar menyampaikan riset secara profesional, dan memperluas jejaring global.”
Prestasi gemilang di IYS 2026 ini kian memperkokoh posisi Universitas Brawijaya sebagai kawah candradimuka inovasi. Kemenangan ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Indonesia tidak hanya mampu bermimpi besar, tapi juga mampu merumuskan solusi konkret nan visioner bagi pembangunan dunia di masa depan. (*)




