IDEA JATIM, MALANG – Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) menciptakan aplikasi Mind Matrix, sebuah inovasi digital untuk memantau kesehatan mental pekerja industri secara real-time menggunakan teknologi Heart Rate Variability (HRV) dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Aplikasi ini hadir sebagai solusi praktis bagi perusahaan dalam mendeteksi stres, kecemasan, hingga depresi karyawan secara berkelanjutan.
Inovasi yang digagas oleh Prof. Sugiono, S.T., M.T., Ph.D., dosen Teknik Industri Fakultas Teknik UB bersama tim mahasiswanya ini, berangkat dari keresahan terhadap sistem evaluasi kesehatan mental di industri padat karya yang selama ini dinilai kurang efektif karena hanya dilakukan sekali atau dua kali dalam setahun.
“Kondisi mental seseorang itu berubah dari waktu ke waktu. Pengukuran sesaat belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya. Kami ingin menghadirkan sistem yang mampu memprofiling kondisi mental secara berkelanjutan,” ujar Prof. Sugiono.
Prof. Sugiono menambahkan, sumber tekanan mental pekerja tidak selalu berasal dari lingkungan kerja. Ada kalanya pekerja justru merasa nyaman di tempat kerja, namun mengalami tekanan berat di luar jam kantor.
“Bisa jadi seseorang justru merasa nyaman di tempat kerja, tetapi mengalami tekanan di luar pekerjaan. Hal seperti ini yang ingin kami identifikasi agar treatment yang diberikan tidak salah sasaran,” tambahnya.
Secara teknis, Mind Matrix memadukan dua metode deteksi sekaligus, yaitu metode objektif dan subjektif. Pengukuran objektif dilakukan secara fisik menggunakan teknologi HRV melalui perangkat wearable seperti smartwatch untuk membaca variasi detak jantung pengguna sebagai indikator stres. Sementara itu, pengukuran subjektif dilakukan melalui kuesioner digital DASS-42 pada aplikasi yang memuat 42 pertanyaan singkat terkait kondisi psikologis harian.
Sistem kerja aplikasi ini sengaja dibuat sesederhana mungkin agar tidak membebani pekerja di sela-sela kesibukan mereka. Pengguna hanya perlu memakai perangkat pendeteksi detak jantung selama beberapa menit sebelum mengisi kuesioner singkat.
“Pengukuran HRV hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit, sedangkan kuesioner dapat diisi kapan saja melalui aplikasi. Jadi sistem ini dapat memberikan gambaran kondisi mental yang lebih menyeluruh,” jelas Prof. Sugiono.
Setelah pengguna menyelesaikan tes, aplikasi akan menampilkan skor kondisi mental beserta grafik perkembangan psikologisnya. Seluruh data tersebut otomatis tersimpan dalam sistem, sehingga manajemen perusahaan dapat memantau kondisi kesehatan mental pekerja dari waktu ke waktu melalui website khusus yang telah disediakan.
Saat ini, Mind Matrix telah memasuki tahap implementasi awal dan bekerja sama dengan PT Jatim Autocomp Indonesia (PT JAI). Sistem aplikasi pun telah dipersonalisasi sesuai kebutuhan perusahaan dan sukses diuji coba pada sejumlah sampel pekerja.
Ke depan, tim pengembang berkomitmen untuk memperluas jangkauan aplikasi ini agar bisa terintegrasi dengan berbagai gawai populer yang sudah beredar di pasaran.
“Harapannya aplikasi ini dapat terhubung dengan lebih banyak perangkat wearable seperti Apple Watch, Samsung, maupun Huawei agar lebih mudah digunakan secara luas ke depannya,” ungkap Athallah Farrel Asyarif, mahasiswa Teknik Industri yang menjadi salah satu tim pengembang.
Selain perluasan perangkat, tim UB saat ini tengah menggodok integrasi berbasis Artificial Intelligence (AI). Teknologi kecerdasan buatan ini disiapkan untuk membantu menganalisis hasil HRV dan kuesioner secara otomatis, mengingat saat ini proses interpretasi hasil masih memerlukan bantuan tenaga profesional seperti dokter atau psikolog.
“Harapannya nanti AI dapat membantu memberikan rekomendasi treatment secara otomatis berdasarkan data yang terkumpul,” harap Prof. Sugiono.
Jika basis data semakin besar dan analisis AI sudah matang, inovasi Mind Matrix ditargetkan tidak hanya berhenti di sektor industri, melainkan siap merambah dunia pendidikan dan masyarakat umum.
“Kalau databasenya semakin besar dan sistem analisisnya semakin matang, tentu sangat memungkinkan untuk digunakan lebih luas, termasuk di lingkungan pendidikan dan masyarakat,” pungkas Athallah. (*)





