Ideajatim.id, MALANG — Suasana di ruang Du Xiu Shu Fang UPT Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM) tampak hangat, Kamis (9/7). Hari itu, ruang perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, melainkan menjelma menjadi panggung dialog intelektual yang cair namun bernas. Melalui bedah buku karya Sosiolog kawakan Prof. Emeritus Ariel Heryanto, UM menegaskan komitmennya: kampus harus menjadi tempat yang paling merdeka untuk bertanya.
Acara bertajuk Berpikir Kritis demi Kehidupan yang Lebih Demokratis ini membawa misi besar, yakni menghidupkan kembali tradisi nalar kritis di kalangan akademisi. Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., bahkan tak ragu melempar seloroh yang sarat makna dalam sambutannya.
“Saya berharap pikiran Pak Ariel bisa menjadi salah satu ‘virus’ yang tumbuh subur di UM. Saya sendiri sejak masih mahasiswa sudah tertular ‘virus’ beliau lewat tulisan-tulisannya,” kenang Prof. Hariyono disambut tawa peserta.
Di balik kelakarnya, Prof. Hariyono menyampaikan pesan mendalam. Mengutip filsuf besar Plato, ia mengingatkan bahwa pengetahuan tak akan pernah lahir tanpa keberanian mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap lumrah.
“Mesin ilmu pengetahuan adalah pertanyaan. Harapan saya, mereka yang suka bertanya di UM tidak bernasib seperti Socrates yang harus minum racun karena kekritisannya. Justru kita ingin semakin banyak intelektual yang kritis sekaligus produktif,” tegasnya.
Diskusi semakin memanas ketika karya Ariel Heryanto bertajuk Nasib Publik dalam Republik mulai dibedah. Dosen UM, Ronal Ridhoi, S.Hum., M.A., yang hadir sebagai narasumber bersama Yuventia Prisca, menyoroti rekam jejak panjang sang sosiolog. Buku yang menghimpun sekitar 100 tulisan pilihan tersebut menjadi bukti nyata bagaimana Ariel merawat nalar kritisnya lintas zaman—mulai dari era Orde Baru hingga abad ke-21.
Bagi Ronal, produktivitas Ariel Heryanto di media massa adalah cermin penting bagi para akademisi masa kini. Menurutnya, pemikiran ilmiah tidak boleh hanya terkunci rapat di ruang kelas atau jurnal yang berdebu, melainkan harus hadir di tengah masyarakat untuk mengasah literasi publik.
Langkah UM menghidupkan iklim dialog ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan komitmen nyata dalam merawat demokrasi dan memperkuat kualitas pendidikan tinggi—sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 dan 16. Lewat ruang-ruang dialog seperti inilah, UM bersiap mencetak generasi yang tak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial di sekitarnya. (*)




