Ideajatim.id, MALANG – Ruang digital kini bukan lagi sekadar tempat berbagi informasi, melainkan arena baru bagi lahirnya narasi tandingan yang menantang dominasi budaya patriarki. Fenomena inilah yang melatarbelakangi Dr. Sulih Indra Dewi, S.Sos., M.A., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang sekaligus Kepala UPT Kerja Sama dan Kantor Urusan Internasional UNITRI, meraih gelar Doktor Ilmu Sosial peminatan Ilmu Komunikasi di Universitas Airlangga (UNAIR).
Dalam Sidang Promosi Doktor yang digelar pada 16 Juli 2026 di Gedung FISIP UNAIR, Dr. Sulih resmi dinyatakan lulus dengan predikat Cumlaude (IPK 3,91) dalam waktu kurang dari empat tahun. Capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga semakin memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) dan akademisi di lingkungan FISIP UNITRI.
Dalam disertasinya yang berjudul “Suara Perempuan di Era Podcast: Digital Counter-Hegemony pada Praktik Podcast Perempuan di Indonesia”, Dr. Sulih meneliti bagaimana podcast berkembang menjadi ruang alternatif bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman hidup, membangun identitas, hingga bernegosiasi dengan norma sosial.
Penelitian ini berawal dari kegelisahannya terhadap kuatnya narasi patriarki di media arus utama yang minim menyajikan perspektif perempuan. Melalui studinya, ia menawarkan konsep ilmiah baru: Digital Post-Colonial Feminism Counter-Hegemony.
”Awalnya saya berpikir podcast perempuan hanya ruang alternatif melawan hegemoni media dominan. Namun, praktik podcast perempuan di Indonesia memiliki kompleksitas tersendiri yang dipengaruhi sejarah kolonial, budaya, dan relasi kuasa—termasuk pengaruh kuat ideologi ‘ibuisme negara’ sejak era Orde Baru,” ungkap Dr. Sulih.
Berbeda dengan media visual, media audio seperti podcast memberikan kebebasan ekspresi tanpa sekat standar kecantikan. Berbekal pengalamannya sebagai mantan penyiar radio dan produser podcast, Dr. Sulih melihat bahwa gagasan dan substansi pemikiran perempuan dapat tersampaikan secara utuh lewat media ini.
Perjalanan menyelesaikan studi S3 selama empat tahun tentu bukan tanpa hambatan. Selain menempuh pendidikan di UNAIR, Dr. Sulih juga memperluas wawasan akademisnya lewat Research Visit di University of Warsaw, Polandia, serta berkolaborasi dengan penguji dan akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Malang (UM).
Di balik kesuksesan akademis tersebut, ia mengakui tantangan terbesar justru datang dari bagaimana menyeimbangkan peran domestik dan profesional.
”Banyak yang mengira tantangan S3 hanya soal akademik. Padahal yang jauh lebih berat adalah menyeimbangkan urusan keluarga, pekerjaan, dan tanggung jawab lainnya. Menjadi dosen, istri, dan ibu secara bersamaan menjadikan S3 ini perjalanan yang sunyi. Kita harus pandai mengatur target dan memotivasi diri,” tuturnya.
Meski memikul banyak peran, ia meyakini bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, mahasiswa, dan masyarakat luas.
Capaian doktor ini diharapkan dapat makin memperkuat kontribusi Dr. Sulih Indra Dewi dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di FISIP UNITRI. Temuan ilmiahnya memberikan sudut pandang baru dalam studi komunikasi digital, media alternatif, dan isu gender di Indonesia.
Sebagai Kepala UPT Kerja Sama Luar Negeri UNITRI, keberhasilan ini juga menjadi pijakan penting untuk memperluas jejaring akademik internasional, meningkatkan produktivitas riset kampus, serta mendorong kolaborasi penelitian yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Melalui disertasinya, Dr. Sulih membuktikan bahwa suara perempuan di pinggir arus utama kini telah menemukan ruang baru di media digital—bukan sekadar untuk didengar, melainkan untuk meredefinisi relasi kuasa dan kesetaraan. (*)




