TK Islam Sabilillah Malang 1 Tanamkan Karakter Kartini Lewat Podcast dan Literasi

IDEA JATIM, ​MALANG – Peringatan Hari Kartini di TK Islam Sabilillah Malang 1 tahun ini tampil berbeda dan lebih mendalam. Mengusung tema “Gempita Kartini: The Spirit of Nusantara” pada Sabtu (25/4), sekolah ini mengubah seremoni busana adat menjadi ajang penanaman karakter dan semangat belajar bagi para siswa sejak dini.

​Ketua Panitia Hari Kartini TK Islam Sabilillah Malang 1, Indi Diana Fakhriya, S.Pd, menjelaskan bahwa makna Kartini bagi anak-anak harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang sederhana. Ia menekankan bahwa poin utamanya adalah meneladani nilai-nilai dasar perjuangan, bukan narasi sejarah yang berat.

​”Dalam usia dini, peringatan Hari Kartini mungkin bukan dimaksudkan pada hal yang berat, tetapi sesederhana meneladani semangat Kartini dalam hal belajar, berjuang untuk masa depan, dan semangat wanita untuk tidak takut mengejar ilmu serta mimpinya,” tutur Diana.

​Guna memastikan pesan tersebut meresap ke jiwa siswa, sekolah menggunakan metode bercerita. Melalui narasi sederhana, sosok Kartini dikenalkan sebagai simbol keberanian untuk bermimpi besar. Namun, yang paling mencuri perhatian tahun ini adalah inovasi lomba berbasis literasi dan teknologi.

Baca Juga:  Terpesona Kemilau Bintang TKIS-1

​Selain peragaan busana secara luring, panitia menggelar lomba daring yang melibatkan peran aktif orang tua, seperti storytelling bahasa Inggris dan Podcast Ing Kromo berbahasa Jawa halus.

​”Uniknya tahun ini adalah lomba dalam lingkup berbahasa. Kami mengadakan podcast ing krama bersama orang tua. Di sini, peran orang tua sangat luar biasa, mulai dari mendampingi anak berbicara bahasa Jawa halus hingga totalitas dalam menyiapkan pakaian adat nusantara,” jelas Diana.

​Antusiasme siswa mencapai puncaknya saat sesi fashion show. Mengenakan beragam baju adat dari pelosok Indonesia, para siswa belajar tentang indahnya perbedaan melalui simulasi nyata. Bagi Diana dan tim pendidik, momen ini adalah cara paling efektif untuk mengajarkan toleransi kepada anak-anak.

​”Memahami perbedaan seringkali dianggap sulit untuk dikenalkan pada anak, tetapi melalui kegiatan ini, anak-anak diajak berperan langsung menjadi sebuah ‘perbedaan’ itu sendiri,” ungkapnya.

​Diana menutup dengan menegaskan peran guru sebagai pembimbing dalam proses ini. “Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan bahwa meskipun kita berbeda-beda, kita tetap satu tujuan untuk meraih impian,” pungkasnya. (*)

Baca Juga:  Setiap Anak Harus Pegang Piala : Rahasia TK Islam Sabilillah Malang 1 Borong Juara di Bulan Suci

Berita Terkini

Mini Art Malang #7 Hadirkan 220 Seniman, “AKAR” Jadi Ruang Menelusuri Identitas dan Asal-usul Budaya

IDEA JATIM, MALANG – Sebanyak 220 seniman dari berbagai...

Bakar Semangat Kader Muda, H. Sugeng: Ber-NU Itu Jalur Resmi Ikut Berjuang Bersama Ulama

Ideajatim.id, MALANG – Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan...

HM. Yahya Sugeng Winarto, Hari Ini Bekali Kader Muda IPNU Sukun Materi Ke-NU-an di Ajang Makesta

Ideajatim.id, ​MALANG – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Kota...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img