Ideajatim.id, MALANG – Dusun Jetak Asri, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang kini resmi menjadi percontohan kampung ramah iklim. Transformasi ini terwujud lewat Program Desa Binaan (PDB) 2026 yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Aksi lingkungan ini digerakkan oleh tim pengabdian masyarakat Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) yang dipimpin Dr. Dian Noorvy Khaerudin, ST., MT. Anggotanya, Prof. Amir Hamzah, MP, Prof. Dr. Ir. Riyanto Haribowo, dan Dr. Nonok Supartini, S.Pt., M.P. Mereka berkolaborasi dengan 11 mahasiswa Program Mahasiswa Tangguh (PMT).
Program bertajuk Learning by Doing ini fokus pada tiga pilar utama. Ketiganya adalah Ekodrainase Partisipatif, Ecohouse, dan Smart Green Living. Warga tidak hanya diberi teori, tetapi langsung diajak melakukan aksi nyata di lapangan.
Emak-emak PKK dan Kader Lingkungan “Latar Ijo” dilatih mengolah limbah buah menjadi eco enzyme. Bertempat di Green House dusun setempat, mereka menyulap kulit jeruk, nanas, hingga melon menjadi cairan serbaguna.

”Kami tidak ingin berhenti pada sosialisasi. Program ini diarahkan pada implementasi nyata lewat pendampingan langsung ke masyarakat,” ujar Ketua Tim Pengabdian, Dr. Dian Noorvy Khaerudin, ST., MT.
Puncak aksi terjadi pada 4 hingga 7 Juli 2026. Warga bersama mahasiswa bergotong royong membangun saluran ekodrainase. Sistem ini dirancang untuk mempercepat aliran air hujan dan meminimalisir genangan di area permukiman.
Pakar hidrologi yang juga anggota tim, Prof. Dr. Ir. Riyanto Haribowo, menjelaskan pentingnya infrastruktur hijau tersebut. Menurutnya, wilayah padat penduduk butuh solusi resapan yang cepat.
”Ekodrainase adalah strategi adaptasi perubahan iklim. Teknologi biopori dan sumur resapan itu sederhana, mudah diterapkan, namun dampaknya besar untuk menjaga siklus air di desa,” jelas Prof. Riyanto.
Tak hanya infrastruktur air, pengelolaan sampah juga digenjot. Tim pengabdian mengenalkan konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah organik.
”Mengubah sampah menjadi eco enzyme adalah langkah nyata ekonomi sirkular. Dengan mesin pencacah, proses fermentasi jadi lebih cepat dan bernilai ekonomi bagi warga,” tambah Dr. Nonok Supartini, S.Pt., M.P.
Guna memastikan program tetap berkelanjutan, tim pengabdian menyerahkan sejumlah bantuan alat berat. Mulai dari mesin chopper, mesin bor baja, bor biopori (hand auger), hingga mesin pencacah sampah organik.
Dokumen desain teknis sumur resapan juga diserahkan kepada Pemerintah Desa Mulyoagung. Dokumen ini akan menjadi cetak biru (blueprint) pembangunan fasilitas umum ramah lingkungan ke depan.
Langkah taktis ini menjadi sokongan besar bagi Desa Mulyoagung menuju Smart Environment Village. Program ini sekaligus mendukung capaian global SDGs, khususnya terkait akses air bersih, produksi bertanggung jawab, dan penanganan perubahan iklim. (*)




