IDEAJATIM.ID, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) akan mengukuhkan lima profesor dari sejumlah bidang keilmuan pada Rabu, (22/9) besok di Gedung Samanta Krida.
Kelimanya menawarkan gagasan dan model berbasis riset untuk menjawab persoalan mulai dari adopsi inovasi pertanian, rekayasa material, kesehatan mental, pemisahan molekuler hingga kemampuan masyarakat membaca pesan visual.
Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D., dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK), mengenalkan model E/D/C-RITA untuk mendorong adopsi inovasi pertanian berkelanjutan.
Model yang dikembangkan dari pengalaman riset selama 38 tahun itu menempatkan petani sebagai pengambil keputusan yang perlu mempertimbangkan informasi, mencoba inovasi, mengamati hasil dan menyesuaikannya dengan kondisi lapangan.
“Jangan dipaksa-terpaksa-terbiasa, tetapi diajak-menimbang-memandirikan,” ujar Prof Edi, merangkum prinsip model tersebut.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, S.T., M.T., dari Fakultas Teknik (FT), memperkenalkan COAT360, kerangka integratif untuk rekayasa pelapisan dan karakterisasi material. Kerangka ini menghubungkan kondisi permukaan, proses pelapisan, ketahanan hingga fungsi akhir material.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar data pengujian tidak berhenti sebagai angka, tetapi menjadi dasar pengambilan keputusan dalam desain material.
Dari bidang psikologi, Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menawarkan model “Lebur Duka Labur Rasa”. Model ini berangkat dari realitas kehidupan dan menyoroti bagaimana individu memahami rasa kepemilikan, posisi diri serta ketidaktenangan.
“Model ini tidak menambah sesuatu, justru akan kehilangan kemarahan, ketakutan, dan ketidaktenangan,” jelas Cleo.
Prof. Ir. Winarto, S.T., M.T., Ph.D., juga dari FT, mengembangkan simulasi molecular dynamics untuk mendukung pemisahan air-alkohol dan penangkapan karbon dioksida (CO₂). Simulasi menunjukkan carbon nanotubes (CNTs) dan material terkait berpotensi meningkatkan efisiensi proses pemisahan pada skala molekuler.
“Kami ingin memahami mekanisme material pada skala molekuler agar dapat dirancang material dengan kinerja lebih baik,” kata Winarto.
Sementara Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn., menawarkan Literasi Visual Dekolonial untuk meningkatkan kemampuan masyarakat membaca dan mengkritisi pesan visual.
“Harapannya, masyarakat tidak lagi sekadar penerima gambar, tetapi menjadi pembaca yang berdaulat atas gambar,” pungkas Desi.
Pengukuhan lima profesor tersebut menunjukkan pengembangan ilmu di UB diarahkan tidak hanya pada penguatan akademik, tetapi juga pada lahirnya pendekatan yang dapat diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat dan kebutuhan teknologi. (red).





