Laboratorium Demokrasi di SMPK Frateran Celaket 21

​IDEA JATIM, MALANG – ​Riuh. Ramai. Penuh antusiasme.

​Suasana hall terbuka SMP Katolik Frateran Celaket 21 Malang, Senin siang kemarin (21/9) beda dari biasanya. Ratusan siswa tumpah ruah. Para guru ikut nimbrung.

​Ada apa?

​Mereka sedang menggelar puncak panggung demokrasi: Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS Periode 2026–2027.

​Bagi sebagian orang, ini mungkin cuma urusan coblos-mencoblos anak sekolah.

Rutinitas tahunan. Tapi tidak bagi Frateran Celaket 21. Ini bukan sekadar pemungutan suara. Ini laboratorium.

Tempat anak-anak SMP belajar menjadi manusia dewasa: menggunakan hak pilih secara bijak dan bertanggung jawab.

​Saya suka caranya. Sistematis. Tidak asal tunjuk.

​Pembina OSIS SMPK Frateran Celaket 21, Mega Novalina Gasper, S.Pd, menceritakan prosesnya dengan gamblang. Penjaringan dimulai dari bawah. Rekrutmen terbuka.

​Tujuannya jelas: memberi panggung bagi siswa yang punya potensi, integritas, jiwa melayani, dan mau berkeringat untuk sekolah.

​Uniknya, pendaftaran dibuka lewat dua jalur.

​Jalur pertama: rekomendasi wali kelas. Wali kelas 7 dan 8 mengusulkan anak-anak yang punya rekam jejak disiplin dan bakat memimpin.

Baca Juga:  Kembalinya Hanif Sjahbandi ke Arema FC untuk Kompetisi 2026/2027

​Jalur kedua: pendaftaran mandiri. Cukup isi Google Form. Siapa saja yang merasa punya inisiatif dan siap mengabdi, boleh daftar. Tanpa perlu menunggu restu wali kelas.

​”Kami berikan kesempatan yang terbuka lebar. Baik yang direkomendasikan maupun yang maju atas inisiatif sendiri,” ujar Bu Mega.

​Inklusif! Demokrasi memang harus begitu: memberi ruang bagi yang dicalonkan, sekaligus membuka pintu bagi yang berani mencalonkan diri.

​Dari dua jalur itu, terkumpul 40 nama. Mereka tidak langsung melenggang. Ada tes tertulis untuk membedah isi kepala dan wawasan mereka. Ada juga pengamatan harian untuk menilai karakter, akhlak, dan cara mereka bekerja sama di lapangan.

​Dari 40 disaring menjadi 24 siswa.
​Ke-24 anak terbaik ini lalu masuk “kawah candradimuka”: Diklat OSIS. Di sinilah kepemimpinan mereka digembleng. Digosok sampai mengilap.

​”Diklat ini bukan cuma untuk menguji, tapi tempat belajar. Momen membentuk karakter,” kata Bu Mega.

​Selesai diklat, muncullah tiga pasang kandidat terbaik: ​Paslon 1: Kiran (Kelas 8) & Dimas (Kelas 7), ​Paslon 2: Arum (Kelas 8) & Damar (Kelas 7) dan ​Paslon 3: Vio (Kelas 8) & Gita (Kelas 7).

Baca Juga:  SMPK Frateran Celaket 21 Malang Gelar Pesta Demokrasi Pemilihan Ketua OSIS 2026–2027

​Di atas panggung hall terbuka, ketiga paslon beradu ide. Memaparkan visi, misi, dan program kerja unggulan di hadapan seluruh warga sekolah. Tidak ada debat kusir. Semua adu gagasan.

​Setelah itu? Coblosan!

​Seluruh siswa dan guru menyalurkan hak suara secara langsung. Transparan. Penghitungan suara pun dilakukan terbuka di hari yang sama. Tak ada yang disembunyikan.

​Pesan Bu Mega di akhir acara begitu menohok: “Hari ini bukan sekadar menentukan siapa yang menang. Ini kesempatan kita semua untuk belajar menjalankan demokrasi secara bertanggung jawab.”

​Ia mengajak seluruh sekolah menjaga nilai-nilai itu: jujur, tertib, dan sportif.

​Dari SMPK Frateran Celaket 21 Malang, kita belajar satu hal: demokrasi yang sehat tidak lahir tiba-tiba saat dewasa.

Ia harus dipupuk sejak dari bangku sekolah.

​Selamat untuk siapa pun yang terpilih! (*)

Penulis

Berita Terkini

FBiPK UB dan Faculty of Educational Studies UPM Perkuat Ekosistem Pendidikan Global

IDEA JATIM, ​MALANG — Kemitraan strategis antara Universitas Brawijaya...

SMPK Frateran Celaket 21 Malang Gelar Pesta Demokrasi Pemilihan Ketua OSIS 2026–2027

IDEA JATIM, MALANG – Suasana di hall terbuka SMP...

HARAPAN KELUARGA KEMBALI MENYALA, PENYELAM BASARNAS TEMUKAN SATU KORBAN KM VIRGO TRANSPORT 8

IDEAJATIM - Di tengah operasi pencarian yang terus berlangsung,...
spot_img
Berita Terkait
spot_imgspot_img