Kartini Beraksi di SDIS 2

IDEA JATIM, MALANG – ​Selasa kemarin, SD Islam Sabilillah (SDIS) Malang 2 tidak berbau minyak rambut atau sibuk membetulkan letak konde. Biasanya, Hari Kartini identik dengan itu: sanggul, dan kebaya.

​Tahun ini beda. Lebih bertenaga. Lebih “berisi”.

​Pahlawannya bukan lagi gambar di buku sejarah yang jauh di sana.

Pahlawannya nyata. Ada di depan kelas. Mereka adalah para ibu wali murid sendiri. Itulah “Kelas Inspirasi”.

​Ada tujuh ibu yang “turun gunung”. Latar belakangnya mentereng: ada notaris, akademisi, hingga pengusaha sukses.

Mereka melepas sejenak urusan kantor demi satu misi: memotret sosok Kartini masa kini di mata anak-anak.

​Yuyun Dwi Suryandari, Wakil Kepala Sekolah, punya alasan kuat. Dia ingin ada ledakan psikologis. Dia ingin siswa melihat bukti, bukan sekadar teori.

“Kami ingin anak-anak sadar bahwa semangat Kartini ada di dalam rumah mereka sendiri,” katanya.

​Saya setuju. Seringkali kita mencari inspirasi sampai ke ujung langit, padahal mutiara itu ada di meja makan setiap pagi. Ibu yang berpendidikan tinggi, berkarier hebat, tapi tetap lincah mengurus rumah. Itulah Kartini yang paling masuk akal bagi anak SD.

Baca Juga:  Nyali Singapura, Poin Sabilillah

​Di dalam kelas, suasana cair. Nina Lailatul Muslimah, sang ketua pelaksana, tersenyum puas. Melihat orang tua mengajar itu beda. Ada kedekatan emosional yang tidak bisa digantikan oleh guru manapun.

​Notaris Leslie Arnia Diajeng bicara soal hukum. Tegas. Di sudut lain, Dr. Nur Ida Panca dan Putri Ayu Berlianingtyas membedah pentingnya riset. Sementara Noor Lisa Amalia dan Firdausil Jannah membakar semangat dagang anak-anak. Semangat kewirausahaan.

​Apakah kebaya dilupakan? Tidak. Sabtu depan mereka tetap akan berkebaya. Tapi urutannya dibalik. Isinya dulu (intelektualitas), baru bungkusnya (busana).

​SD Islam Sabilillah Malang 2 sedang menanam benih. Bahwa menjadi Kartini bukan berarti harus jadi orang lain. Menjadi Kartini adalah menjadi mandiri, berani, dan tetap punya akar budaya yang kuat.

​Saya membayangkan, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, anak-anak yang duduk di bangku kelas itu akan ingat: “Dulu, Ibu saya pernah berdiri di sini. Menginspirasi saya untuk jadi manusia yang berguna.”

​Itulah esensi peringatan. Bukan soal seberapa tinggi sanggulnya, tapi seberapa tinggi cita-citanya. (*)

Baca Juga:  Lolos Program BTI, Tiga Siswa SMP Islam Sabilillah Malang Perdalam Kompetensi STEM Di Institut Teknologi DEL Sumatera Utara

Berita Terkini

Dua Hari Hilang, Nenek di Lenteng Sumenep Ditemukan Di Dalam Sumur Sedalam 40 Meter

IDEA JATIM, SUMENEP - Rabu (01/07), tim SAR gabungan...

Inovasi UM: Racik Algoritma Cerdas untuk Cegah Pasien Klinik Gigi Berpindah Layanan

IDEA JATIM, MALANG - Persaingan ketat antar-klinik gigi kini...

Digitalisasi Warung Kelontong FILKOM dan FEB Raih Pendanaan P2MW 2026

IDEA JATIM, MALANG - Di tengah gempuran modernisasi ritel,...
spot_img
Berita Terkait

Kategori Populer

spot_imgspot_img