IDEA JATIM, MALANG – Ada dekorasi buah di panggung. Lengkap dengan sayur-sayuran segar.
Bukan untuk dipajang. Juga bukan untuk pamer.
Begitu ceramah selesai, buah dan sayur itu diserbu. Diperebutkan. Oleh siapa?
Oleh para wali siswa!
Seru. Heboh. Penuh gelak tawa.
Itulah pemandangan unik di Aula Pemimpin Peradaban Dunia, Kampus 2 Sekolah Sabilillah Malang, Sabtu lalu.
Hari itu ada acara Parenting Islami Majelis Dzikir Bina Qalbu. Momennya pas: menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
Tapi jangan bayangkan acaranya kaku. Pengurus FORKOM Orang Tua Siswa Sekolah Sabilillah yang baru dilantik punya cara berpikir beda. Mereka bikin gebrakan: Pesta Sayur dan Buah.
Otak di balik ide segar ini adalah Ana Maisyaroh Rowiena. Dialah Ketua Forum Komunikasi (FORKOM) Orang Tua Siswa Sekolah Sabilillah yang baru.
Bu Ana ini orang tua dari M. Raqilla Ramadhan, siswa SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School. Sehari-hari, Bu Ana adalah seorang Master of Ceremony (MC) sekaligus penyiar Desimal Radio. Pantas saja pemikirannya kreatif dan komunikatif.
”Kalau anak kita ulang tahun saja dirayakan meriah, masa untuk Nabi tidak?” ujar Bu Ana mantap.
Maka dibuatlah dekorasi super meriah dari bahan pangan lokal. Vendor disewa. Dana dikumpulkan secara bergotong royong dari seluruh satuan Majelis Orang Tua Siswa (MOS)—mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA.
Hasilnya? Luar biasa.
Animo orang tua membludak. Aula utama tidak muat. Panitia harus membuka ruangan hingga ke area ma’had. Para wali murid dari TK Islam Sabilillah Malang 1 dan 2, SD Islam Sabilillah Malang 1 dan 2, SMP Islam Sabilillah Malang dan SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren, berkumpul jadi satu.
Mereka tidak hanya datang untuk mendengarkan siraman rohani dari Buya Hasanuddin atau belanja di bazar UMKM. Mereka datang untuk merasa memiliki.
Di situlah kuncinya: kolaborasi.
Bu Ana sadar betul, sekolah hebat tidak bisa berjalan sendiri. Orang tua murid tidak boleh cuma jadi penonton. Lewat tradisi Bina Qalbu yang digelar tiap minggu ketiga setiap bulan ini, FORKOM ingin meleburkan sekat.
”Harapan saya, semua satuan MOS bisa bersinergi. Membantu sekolah mewujudkan program-programnya demi melahirkan generasi Pemimpin Peradaban Dunia,” tambahnya.
Rebutan buah hari itu selesai dalam sekejap. Sayuran berpindah tangan. Tapi senyum dan kehangatan di antara para wali murid terus tertinggal.
Sebuah langkah awal kepengurusan yang manis—dan bergizi! (*)




