Tidak ada orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah dengan harapan mereka pulang
membawa luka. Setiap pagi, jutaan anak berangkat dengan seragam yang rapi, tas di
punggung, dan mimpi-mimpi yang perlahan mereka susun di bangku kelas.
Sekolah seharusnya menjadi tempat mereka belajar, bertumbuh, menemukan teman, sekaligus membangun kepercayaan diri. Namun, bagi sebagian anak, ruang yang semestinya menghadirkan rasa aman justru berubah menjadi tempat yang paling ingin segera mereka
tinggalkan.
Ironisnya, luka itu tidak selalu tampak. Ia tidak selalu berupa memar atau darah yang mudah dikenali. Lebih sering, luka itu hadir dalam bentuk ejekan yang terus diulang, pengucilan yang dianggap lumrah, ancaman yang dibungkus candaan, hingga kekerasan yang perlahan meruntuhkan keberanian seorang anak untuk datang ke sekolah keesokan harinya.
Yang lebih menyedihkan, banyak dari kita masih menganggapnya sebagai bagian dari dinamika pergaulan. “Namanya juga anak-anak,” begitu kalimat yang kerap terdengar. Padahal, di balik
kalimat sederhana itu, ada trauma yang bisa bertahan jauh lebih lama daripada masa sekolah
itu sendiri.
Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di satu negara atau satu sistem pendidikan tertentu. Ia
hadir dalam berbagai bentuk, melintasi batas budaya, bahasa, dan generasi. Karena itulah, isu
perundungan terus menjadi perhatian banyak akademisi, aktivis pendidikan, hingga sineas
yang mencoba mengangkatnya melalui medium yang lebih dekat dengan masyarakat: film.
Di tengah banyaknya film bertema pendidikan yang memilih jalur melodrama dengan konflik yang sejak awal terasa berat, Teach You a Lesson justru menawarkan pendekatan yang berbeda. Film Korea ini tidak datang dengan adegan yang langsung menguras emosi.
Sebaliknya, sutradara mengajak penonton memasuki kehidupan sekolah melalui suasana yang
ringan, dialog-dialog jenaka, dan interaksi para tokohnya yang terasa akrab. Penonton dibuat
tertawa, tersenyum, bahkan menikmati dinamika keseharian mereka tanpa menyadari bahwa
di balik semua itu sedang tumbuh persoalan yang jauh lebih serius.
Di situlah letak kecerdikan film ini. Alih-alih menggurui atau memaksa penonton bersimpati
sejak menit pertama, sutradara memilih membangun kedekatan emosional terlebih dahulu.
Ketika konflik mulai terungkap, tawa yang sebelumnya terasa ringan perlahan berubah menjadi kegelisahan. Penonton tidak lagi sekadar menyaksikan sebuah cerita, tetapi ikut mempertanyakan bagaimana kekerasan dapat tumbuh di ruang yang seharusnya paling aman bagi anak-anak.
Pendekatan semacam ini membuat Teach You a Lesson tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan berubah menjadi cermin yang memantulkan pertanyaan kepada siapa pun yang menyaksikannya.
Bagi penonton Indonesia, cermin itu terasa begitu dekat. Apa yang terjadi di layar mungkin berlatar sekolah di Korea Selatan, tetapi persoalan yang diangkatnya tidak terasa asing. Kita pernah membaca berita serupa, mendengar kisah yang hampir sama, atau bahkan menyaksikannya terjadi di lingkungan sekitar.
Perbedaannya hanya terletak pada nama tokoh, bahasa, dan lokasi. Selebihnya, luka yang ditinggalkan oleh perundungan memiliki wajah yang sama. Dan mungkin, itulah alasan mengapa film ini terasa begitu relevan untuk dibicarakan di tengah wajah pendidikan Indonesia hari ini.
Ketika Tawa Menjadi Cara Bercerita
Salah satu kekuatan terbesar Teach You a Lesson justru terletak pada keberanian sutradara Hong Jong-chan memilih cara bertutur yang tidak lazim. Alih-alih membuka cerita dengan adegan penuh air mata atau kekerasan yang menguras emosi, ia mengajak penonton memasuki dunia sekolah melalui keseharian yang terasa ringan. Percakapan antar siswa, tingkah para tokohnya, hingga humor-humor kecil yang muncul di sepanjang cerita membuat penonton seolah sedang menikmati drama sekolah pada umumnya.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Dalam kehidupan nyata, kekerasan jarang datang dengan
wajah yang menyeramkan. Ia sering lahir dari sesuatu yang dianggap biasa: candaan yang
terus diulang, ejekan yang dinormalisasi, atau tindakan yang selalu ditutup dengan kalimat,
“Ah, cuma bercanda.” Di situlah batas antara humor dan penghinaan perlahan menghilang.
Tanpa disadari, sesuatu yang tampak sepele dapat berkembang menjadi luka yang jauh lebih
dalam.
Pendekatan seperti inilah yang membuat penonton lengah. Ketika suasana yang semula terasa
hangat mulai berubah, perubahan itu terjadi perlahan, nyaris tanpa disadari. Penonton tidak
dipaksa bersedih sejak awal.
Sebaliknya, mereka diajak mengenal karakter-karakter dalam cerita, mengikuti keseharian mereka, lalu perlahan ikut merasakan kegelisahan ketika konflik mulai berkembang. Emosi yang muncul tidak lahir karena adegan-adegan dramatis yang dipaksakan, melainkan tumbuh secara alami bersama perjalanan cerita. Saat konflik mencapai puncaknya, rasa marah, kecewa, dan kehilangan terasa begitu dekat karena penonton telah lebih dahulu membangun kedekatan emosional dengan setiap tokohnya.
Di situlah letak kekuatan penyutradaraan Hong Jong-chan. Ia tidak berusaha membuat
penonton mengasihani para korban. Yang ia bangun adalah empati. Ada perbedaan yang
sangat tipis di antara keduanya. Belas kasihan sering kali berhenti ketika layar menjadi gelap
dan kredit penutup mulai bergulir. Sebaliknya, empati membuat penonton terus membawa
pulang pertanyaan-pertanyaan yang titinggalkan film, bahkan lama setelah cerita berakhir.
Kekuatan itu semakin terasa karena cerita tidak menempatkan bullying sebagai sekadar
persoalan antara pelaku dan korban. Film ini memperlihatkan bahwa kekerasan di sekolah
hampir selalu melibatkan ruang yang lebih besar: guru yang terlambat menyadari, orang tua
yang sibuk mengejar prestasi, teman-teman yang memilih diam, hingga sistem yang
terkadang lebih sibuk menjaga citra daripada melindungi anak-anaknya.
Pertanyaan yang dibangun pun bergeser. Bukan lagi tentang siapa yang salah, melainkan mengapa begitu banyak orang dewasa baru bergerak ketika semuanya sudah terlambat.
Di titik inilah Teach You a Lesson melampaui fungsinya sebagai hiburan. Film ini tidak sekadar bercerita tentang sekolah di Korea Selatan, tetapi mengajak penontonnya melihat persoalan yang mungkin juga tumbuh di lingkungan mereka sendiri. Kritik yang disampaikan terasa universal karena berbicara tentang sesuatu yang dapat terjadi di mana saja, selama ada ruang yang membiarkan kekerasan berkembang tanpa disadari.
Bagi saya, itulah mengapa film ini terasa begitu dekat dengan Indonesia. Saat
menyaksikannya, yang terbayang bukan hanya ruang-ruang kelas di Korea Selatan,
melainkan sekolah-sekolah yang akrab dengan kehidupan kita sendiri. Candaan yang berubah
menjadi penghinaan, budaya senioritas yang diwariskan dari satu angkatan ke angkatan
berikutnya, teman-teman yang memilih diam karena takut dikucilkan, hingga guru yang
berada dalam posisi sulit antara menyelesaikan persoalan atau menjaga nama baik sekolah.
Semua itu bukanlah cerita yang asing.
Film ini seolah mengingatkan bahwa tragedi besar hampir tidak pernah lahir secara tiba-tiba.
Ia tumbuh perlahan, berawal dari hal-hal yang dianggap sepele, dibiarkan berulang, lalu akhirnya diterima sebagai sesuatu yang biasa. Dari satu ejekan yang tidak ditegur. Dari satu
tamparan yang disebut bercanda. Dari satu laporan yang diabaikan.
Hingga pada akhirnya, kita baru menyadari bahwa yang selama ini dianggap sebagai kenakalan anak-anak ternyata telah berkembang menjadi luka yang mengubah hidup seseorang untuk selamanya.
Ketika Layar Berakhir, Kenyataan Baru Dimulai Sayangnya, kegelisahan yang dibangun Teach You a Lesson tidak berhenti ketika film usai.
Cerita yang ditampilkan Hong Jong-chan mungkin berakhir di layar, tetapi pertanyaan yang
ditinggalkannya justru hidup di dunia nyata. Seberapa aman sekolah bagi anak-anak?
Seberapa peka orang dewasa membaca tanda-tanda bahwa seorang anak sedang menjadi
korban? Dan mengapa begitu banyak kasus baru mendapatkan perhatian ketika semuanya
sudah terlambat?
Pertanyaan-pertanyaan itu menemukan relevansinya di Indonesia. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa perundungan bukan lagi persoalan yang bersifat insidental, melainkan telah menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan.
Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis OECD mencatat Indonesia memiliki prevalensi perundungan sebesar 41 persen, menempatkannya sebagai salah satu negara dengan angka bullying tertinggi di kawasan Asia dan tertinggi di Asia Tenggara.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada jutaan anak yang pernah mengalami ejekan,
intimidasi, pengucilan, hingga kekerasan fisik di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat
paling aman bagi mereka untuk belajar.
Tentu, tidak adil jika persoalan ini hanya dibebankan kepada sekolah. Bullying hampir tidak
pernah lahir dari satu penyebab tunggal. Ia tumbuh dari berbagai persoalan yang saling berkaitan. Pola pengasuhan yang masih menganggap kekerasan sebagai bentuk pendisiplinan, budaya senioritas yang diwariskan tanpa pernah dipertanyakan, lemahnya sistem pelaporan di sekolah, hingga tekanan sosial dan ekonomi yang membuat sebagian anak melampiaskan frustasi kepada teman sebayanya.
Semua faktor tersebut membentuk sebuah lingkaran yang terus berulang apabila tidak diputus sejak dini. Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan adalah budaya normalisasi. Tidak sedikit tindakan perundungan yang justru dibenarkan dengan alasan “sekadar bercanda”, “menguji
mental”, atau “bagian dari proses pendewasaan”. Kalimat-kalimat semacam itu terdengar sederhana, tetapi diam-diam menjadi tameng yang melindungi pelaku sekaligus membungkam korban.
Ketika kekerasan terus dianggap lumrah, sekolah perlahan kehilangan fungsinya sebagai ruang aman dan berubah menjadi tempat di mana sebagian anak harus bertahan setiap hari.
Film Teach You a Lesson menggambarkan situasi itu dengan sangat halus. Kekerasan tidak
selalu dimulai dari pukulan atau ancaman yang besar. Ia lahir dari tindakan-tindakan kecil
yang terus dibiarkan. Kenyataan di Indonesia pun menunjukkan pola yang serupa. Banyak
kasus bermula dari ejekan yang dianggap biasa, candaan yang melampaui batas, atau
pengucilan yang tidak pernah benar-benar ditanggapi serius. Ketika tidak ada yang
menghentikan, kekerasan itu tumbuh, membesar, lalu meninggalkan luka yang jauh lebih
sulit dipulihkan daripada sekadar memar di tubuh.
Di sinilah persoalan bullying tidak lagi bisa dipahami sebagai kenakalan remaja semata. Ia
telah berubah menjadi cermin tentang bagaimana masyarakat memandang kekerasan, bagaimana sekolah membangun budaya yang sehat, dan bagaimana orang dewasa merespons
setiap tanda bahaya yang muncul. Sebab, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan hanya rasa
aman seorang anak hari ini, melainkan juga cara mereka memandang diri sendiri, orang lain,
dan kehidupan di masa depan.
Ketika Tragedi Itu Terjadi di Dekat Kita
Statistik memang membantu kita memahami besarnya persoalan. Namun, di balik setiap
angka selalu ada nama, keluarga, dan masa depan yang terhenti. Itulah mengapa bullying tidak pernah cukup dipahami melalui persentase atau laporan penelitian. Ia selalu menyisakan
kisah manusia yang tidak dapat dihitung dengan angka.
Kita masih mengingat peristiwa yang mengguncang Kota Batu pada Mei 2024. Seorang
pelajar SMP berusia 12 tahun meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan yang
diduga dilakukan oleh sejumlah teman sekolahnya. Peristiwa itu berawal dari persoalan yang
terdengar sederhana: tugas kelompok. Namun, konflik yang semestinya dapat diselesaikan
melalui dialog justru berubah menjadi kekerasan. Yang lebih menyayat hati, aksi tersebut
sempat direkam dan dibagikan melalui media sosial, seolah penderitaan seseorang telah
berubah menjadi tontonan.
Sulit membayangkan apa yang dirasakan keluarga korban ketika mengetahui bahwa anak
yang mereka antar ke sekolah tidak pernah benar-benar kembali. Lebih sulit lagi menerima kenyataan bahwa tragedi tersebut terjadi bukan di tempat yang jauh, bukan pula di
lingkungan yang asing, melainkan di ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak untuk belajar dan bertumbuh.
Kasus di Kota Batu hanyalah satu dari sekian banyak peristiwa yang pernah terjadi di
Indonesia. Namun, ia memperlihatkan pola yang sama seperti yang digambarkan dalam Teach You a Lesson: kekerasan hampir tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh
perlahan. Berawal dari ejekan yang tidak ditegur, intimidasi yang dianggap bercanda, atau
konflik kecil yang dibiarkan tanpa penyelesaian. Ketika semua itu terus berlangsung,
kekerasan tidak lagi menjadi penyimpangan. Ia berubah menjadi budaya.
Yang patut menjadi bahan renungan bukan hanya mengapa ada anak yang melakukan
kekerasan, tetapi juga mengapa begitu banyak orang di sekitarnya gagal menghentikannya.
Di mana teman-teman yang menyaksikan? Mengapa tidak ada yang berani berkata bahwa apa
yang terjadi sudah melampaui batas? Mengapa laporan sering kali baru dianggap penting
setelah korban mengalami luka berat, bahkan kehilangan nyawa?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya tidak berhenti pada proses hukum terhadap
pelaku. Sebab, menghukum pelaku memang penting sebagai bentuk penegakan keadilan.
Namun, keadilan saja tidak akan pernah cukup jika akar persoalannya tidak ikut diperbaiki.
Selama budaya diam masih lebih kuat daripada keberanian untuk melindungi korban, selama
sekolah lebih khawatir menjaga reputasi daripada membangun mekanisme perlindungan yang
efektif, dan selama orang dewasa masih menganggap bullying sebagai bagian dari “kenakalan
anak-anak”, tragedi serupa selalu memiliki peluang untuk terulang.
Barangkali, inilah pesan paling menyakitkan yang disampaikan Teach You a Lesson. Film
tersebut tidak sedang memperlihatkan betapa kejamnya anak-anak. Ia justru mempertanyakan
sejauh mana orang dewasa telah menjalankan tanggung jawabnya. Sebab pada akhirnya,
anak-anak memang masih belajar tentang kehidupan. Namun, orang dewasalah yang
seharusnya mengajarkan kepada mereka bahwa tidak ada satu pun bentuk kekerasan yang
pantas disebut sebagai candaan.
Kasus di Kota Batu semestinya menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak cukup hanya
diukur dari tingginya nilai ujian, banyaknya piala yang diraih, atau megahnya fasilitas
sekolah.
Ukuran paling mendasar dari sebuah institusi pendidikan seharusnya adalah apakah
setiap anak merasa aman ketika berada di dalamnya. Sebab tanpa rasa aman, proses belajar kehilangan maknanya. Dan ketika sekolah gagal melindungi anak-anaknya, yang hilang
bukan hanya masa depan seorang siswa, melainkan juga kepercayaan kita terhadap tujuan pendidikan itu sendiri.
Lebih dari Sekadar Bullying, Ini Tentang Arah Pendidikan Kita Ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya setelah menyelesaikan Teach You a Lesson. Film ini sesungguhnya tidak sedang berbicara tentang anak-anak yang gemar melakukan kekerasan. Yang sedang dipertanyakan adalah bagaimana orang-orang dewasa di sekitar mereka menjalankan perannya. Ketika seorang anak terus menjadi korban, apakah itu semata-mata kegagalan pelaku mengendalikan emosinya, atau justru kegagalan sistem yang terlalu lama membiarkan tanda-tanda bahaya itu tumbuh?
Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan jika dikaitkan dengan wajah pendidikan Indonesia
hari ini. Selama bertahun-tahun, ukuran keberhasilan sekolah lebih sering dikaitkan dengan capaian akademik, prestasi lomba, tingkat kelulusan, hingga banyaknya siswa yang diterima di perguruan tinggi favorit. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah setiap anak benar-benar merasa aman ketika berada di sekolah?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya menentukan makna pendidikan itu sendiri. Sebab pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan adalah proses membentuk manusia. Dan manusia tidak akan pernah tumbuh dengan baik jika setiap hari hidup dalam ketakutan, kecemasan, atau ancaman dari lingkungan sekitarnya.
Sayangnya, dalam banyak kasus, sekolah sering kali berada pada posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka memiliki tanggung jawab melindungi peserta didik. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa terbukanya kasus perundungan akan mencoreng nama baik institusi. Akibatnya, penyelesaian sering kali lebih berfokus pada meredam persoalan daripada menyelesaikan akar masalahnya. Tidak sedikit korban akhirnya memilih diam karena merasa laporannya tidak akan mengubah keadaan, atau bahkan khawatir justru akan menjadi sasaran perundungan yang lebih besar.
Di sinilah saya melihat Teach You a Lesson menyampaikan kritik yang sangat halus, tetapi
mengena. Film ini tidak menawarkan sosok pahlawan yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri. Sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa menciptakan sekolah yang aman adalah tanggung jawab bersama. Guru, kepala sekolah, orang tua, teman sebaya, bahkan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya. Ketika salah satu diantaranya memilih diam, ruang bagi kekerasan akan semakin terbuka.
Karena itu, menurut saya, melawan bullying tidak cukup dilakukan melalui slogan, seminar
sesaat, atau pemasangan poster bertuliskan Stop Bullying di sudut-sudut sekolah. Yang jauh
lebih penting adalah membangun budaya yang membuat setiap anak merasa aman untuk
berbicara, setiap guru berani bertindak, dan setiap sekolah memiliki mekanisme yang jelas
untuk melindungi korban tanpa rasa takut akan kehilangan citra.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap keberhasilan pendidikan. Sekolah tidak
seharusnya hanya dibanggakan karena banyak melahirkan juara olimpiade, atlet berprestasi,
atau lulusan terbaik. Semua pencapaian itu akan kehilangan maknanya apabila masih ada
anak yang setiap pagi berangkat ke sekolah dengan perasaan cemas, atau pulang ke rumah
membawa luka yang tidak pernah mampu ia ceritakan kepada siapapun.
Barangkali ukuran keberhasilan pendidikan yang paling mendasar bukanlah berapa banyak
prestasi yang berhasil diraih, melainkan berapa banyak anak yang dapat pulang ke rumah
dengan perasaan aman, dihargai, dan tetap percaya bahwa sekolah adalah tempat terbaik
untuk bertumbuh menjadi manusia yang utuh.
Pendidikan yang Seharusnya MelindungiPada akhirnya, Teach You a Lesson bukan sekadar kisah tentang bullying di sebuah sekolah.
Film ini adalah pengingat bahwa kekerasan tidak pernah lahir dalam ruang yang kosong. Ia tumbuh ketika ejekan dianggap biasa, ketika korban memilih diam karena merasa tidak akan didengar, ketika orang-orang di sekitarnya menganggap semua akan selesai dengan sendirinya.
Dan yang paling berbahaya, ketika kita mulai percaya bahwa semua itu hanyalah bagian dari proses menjadi dewasa.
Barangkali itulah mengapa film ini terasa begitu dekat dengan Indonesia. Bukan karena semua adegannya pernah terjadi di sini, melainkan karena kita pernah membaca berita yang serupa, mendengar cerita yang hampir sama, atau bahkan menyaksikannya terjadi di lingkungan sekitar. Nama, tempat, dan waktunya boleh berbeda.
Namun luka yang ditinggalkan oleh perundungan selalu memiliki bahasa yang sama.
Kita tentu berharap tidak ada lagi anak yang kehilangan masa depannya akibat kekerasan di
sekolah. Namun harapan saja tidak pernah cukup. Diperlukan keberanian untuk membangun
budaya yang menempatkan rasa aman sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses
pendidikan. Sekolah harus menjadi ruang yang membuat setiap anak berani bertanya, berani
berbeda pendapat, berani melapor ketika menjadi korban, dan berani membela ketika melihat
temannya diperlakukan tidak adil.
Sebab pendidikan yang baik bukan hanya melahirkan anak-anak yang cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki empati dan keberanian menjaga sesamanya.
Sudah saatnya kita berhenti mengukur keberhasilan pendidikan semata-mata dari angka-angka di rapor, deretan piala di lemari prestasi, atau banyaknya lulusan yang diterima di perguruan tinggi ternama.
Semua capaian itu tentu membanggakan. Namun ada ukuran yang jauh lebih mendasar dan sering luput dari perhatian: apakah setiap anak merasa aman ketika berada di sekolah?
Sebab pada akhirnya, tidak ada orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah dengan
harapan mereka pulang membawa luka. Mereka menitipkan anak-anaknya dengan satu keyakinan sederhana, bahwa sekolah akan menjadi tempat mereka belajar, bertumbuh, dan
menemukan masa depan yang lebih baik.
Jika keyakinan itu mulai luntur, maka yang sedang kita hadapi bukan sekadar persoalan
bullying. Kita sedang mempertaruhkan makna pendidikan itu sendiri.
Dan mungkin, disitulah pelajaran terbesar yang ingin ditinggalkan Teach You a Lesson.
Bukan tentang bagaimana sebuah cerita berakhir, melainkan tentang bagaimana sebuah masyarakat seharusnya memastikan tidak ada lagi anak yang harus membayar mahal proses
belajarnya dengan rasa takut. (*)




