Tidak ada orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah dengan harapan mereka pulang
membawa luka. Setiap pagi, jutaan anak berangkat dengan seragam yang rapi, tas di
punggung, dan mimpi-mimpi yang perlahan mereka susun di bangku kelas.
Sekolah seharusnya menjadi tempat mereka belajar, bertumbuh, menemukan teman, sekaligus membangun kepercayaan diri. Namun, bagi sebagian anak, ruang yang semestinya menghadirkan rasa aman justru berubah menjadi tempat yang paling ingin segera mereka
tinggalkan.
Ironisnya, luka itu tidak selalu tampak. Ia tidak selalu berupa memar atau darah yang mudah dikenali. Lebih sering, luka itu hadir dalam bentuk ejekan yang terus diulang, pengucilan yang dianggap lumrah, ancaman yang dibungkus candaan, hingga kekerasan yang perlahan meruntuhkan keberanian seorang anak untuk datang ke sekolah keesokan harinya.